Kiai Sholihin: Jadi Mubaligh Muhammadiyah Itu Harus Militan dan Ikhlas!

Kiai Sholihin: Jadi Mubaligh Muhammadiyah Itu Harus Militan dan Ikhlas!
www.majelistabligh.id -

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, KH Dr Muhammad Sholihin Fanani, menyampaikan materi utama dengan Tema Ideologi Muhammadiyah Berkemajuan dalam acara Akademi Mubaligh Muhammadiyah (AMM) Zona Malang,  Jumat (30/10 2026).

Materi perdana menjadi fondasi penting bagi mublaigh muda sebagai bekal dakwah berkemajuan bagi syiar di akar rumput.

Sebanyak 7 kabupaten dan kota mengirimkan delegasi terbaiknya. Mulai dari Kota Batu, Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Pasuruan, Kabupaten Pasuruan, hingga Kabupaten Jombang. Mereka sengaja datang untuk menyerap langsung strategi dakwah segar yang luwes tapi tetap memegang teguh prinsip persyarikatan.

Dalam penyampaiannya, Kiai Sholihin mengingatkan kembali esensi gerakan yang diinisiasi oleh KH Ahmad Dahlan. Muhammadiyah didirikan bukan sekadar menjadi organisasi papan nama, melainkan alat perjuangan untuk memastikan Islam hidup dan bernafas di tengah masyarakat melalui pemurnian ajaran sesuai Al-Qur’an dan hadis.

“Cita-cita KH Ahmad Dahlan itu konkret, ingin mengantarkan umat sampai ke depan pintu gerbang kebahagiaan dunia dan akhirat dalam bingkai negara yang baldatun toyyibatun warobbun ghofur,” tegas Kiai Sholihin.

Mantan Kepala SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya ini juga membeberkan lima prinsip operasional organisasi yang tidak boleh ditawar oleh para kader, yakni kolektifitas, spiritualitas, moralitas, humanitas, dan profesionalitas. Baginya, roda persyarikatan akan berjalan timpang jika para penggeraknya kehilangan ruh-ruh dasar ini saat mengelola amal usaha atau berhadapan dengan jamaah.

“Kalau mengurus Muhammadiyah tidak pakai prinsip kolektifitas dan kehilangan spiritualitas, gerakan kita akan kering dan tidak ada bedanya dengan korporasi biasa,” sindirnya disambut anggukan takzim para peserta.

Lebih jauh, pria yang akrab disapa Abah Sholihin ini membedah anatomi kekuatan Muhammadiyah yang mampu melintasi zaman. Menurutnya, ada formula khusus yang membuat organisasi ini tetap kokoh berdiri meski dihantam berbagai gelombang tantangan zaman, yakni kombinasi antara ruhul jihad, militansi, keikhlasan, dan kepatuhan pada sistem berorganisasi.

“Jangan jadi mubaligh yang gampang mengeluh. Kekuatan utama kita itu ada pada militansi para penggerak dan keikhlasan dalam berkhidmat. Kalau dua hal ini hilang, habislah kita,” cetusnya dengan nada membakar semangat.

Materi utama ini sengaja dirancang secara akomprehensif oleh Tim Instruktur agar pembinaan dakwah para mubaligh tidak berhenti pada mimbar-mimbar masjid saja.

Kiai Sholihin meminta luaran dari AMM ini bisa menyentuh lima aspek kehidupan vital secara nyata, meliputi pembenahan karakter pribadi, ketahanan keluarga sakinah, harmoni masyarakat, hingga kebijakan berbangsa dan bernegara.

Sesuai agenda AMM Zona Malang ini pun ditutup dengan sesi diskusi kelompok terarah (focus group discussion) untuk memetakan peta dakwah kontemporer di masing-masing daerah penugasan. Lewat standarisasi materi ideologi ini, para mubaligh milenial diharapkan pulang ke daerah asal dengan membawa bekal metodologi dakwah yang lebih taktis, merangkul, dan bertenaga. (m.roissudin)

Tinggalkan Balasan

Search