Akhir-akhir ini beberapa kali aku mendengar kalimat yang sama. “Kok kamu berubah?”
Dulu, kalimat itu mungkin akan membuatku merasa bersalah. Seolah berubah adalah sesuatu yang buruk. Namun sekarang aku hanya tersenyum. Aku sadar, berubah bukan berarti menjadi orang yang berbeda.
Berubah adalah proses mengenal batas diri, memperbaiki kebiasaan, dan berusaha menjadi versi yang lebih Allah ridai.
Aku belajar bahwa tidak semua orang akan menyukai perubahan kita. Terutama mereka yang selama ini mendapatkan keuntungan dari versi lama kita—versi yang selalu mengiyakan, sulit menolak, atau mudah mengikuti keinginan orang lain. Saat kita mulai punya prinsip dan menjaga batas, sebagian dari mereka mungkin merasa tidak nyaman. Lalu mereka mulai menceritakan versi lama kita kepada orang lain.
Dan itu adalah hak mereka.
Yang menjadi tanggung jawab kita bukan mengendalikan cerita orang, tetapi memperbaiki diri di hadapan Allah. Karena pada akhirnya, yang akan kita pertanggungjawabkan adalah amal kita, bukan penilaian manusia.
وَلَا تَقْفُ مَا لَـيْسَ لَـكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ اِنَّ السَّمْعَ وَا لْبَصَرَ وَا لْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰٓئِكَ كَا نَ عَنْهُ مَسْئُوْلًا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS Al-Isra’ 17: 36)
Semakin dekat kepada Allah, kita akan semakin paham, kapan harus berkata “iya”, kapan harus berkata “tidak”, dan rahasia, kapan harus menjaga dan hati agar tetap tenang.
Kalau hari ini, ada yang berkata, “Kok kamu berubah, mungkin jawaban terbaik dalam hati adalah, “Alhamdulillah. Aku sedang berusaha menjadi yang lebih baik karena Allah, bukan karena ingin menyenangkan semua orang.”
Semoga bermanfaat.
