Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjalin kolaborasi strategis dengan Martha Tilaar Group guna mendorong mahasiswa menjadi inovator tangguh di industri kosmetik berbasis kearifan lokal. Komitmen ini diwujudkan melalui Kuliah Tamu Kewirausahaan bertajuk “Glow Economy: Beautypreneurs Take the Lead” di Aula GKB IV Lantai 9, Selasa (23/6).
Kegiatan ini berlangsung antusias dan diikuti ratusan mahasiswa UMM yang berasal dari berbagai latar belakang keilmuan, seperti Fakultas Teknik (FT), Fakultas Psikologi (Fapsi), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Farmasi, hingga Fisioterapi. Sinergi ini dirancang secara khusus untuk menjawab tantangan industri kecantikan sekaligus merangsang generasi Z agar bertransformasi dari sekadar konsumen menjadi pengusaha (beautypreneurs).
Co-Founder Smith, Tri Putra Salim, membagikan pengalaman inspiratifnya saat merintis bisnis perawatan kulit organik asli Nusantara dari sebuah eksperimen di dapur kos-kosan. Ia menyadari banyak produk lokal masih bergantung pada bahan kimia, sehingga peluang untuk mengembangkan produk berbahan organik sangat terbuka lebar. Ia menekankan kepada para mahasiswa bahwa untuk membangun merek yang adaptif, pengusaha muda harus berani memperbaiki desain kemasan agar lebih eksklusif dan gencar memanfaatkan media sosial sebagai medium edukasi konsumen.
“Jika kalian ingin membangun bisnis yang kuat, jangan hanya menjual barang yang sama dengan pesaing, karena kecepatan membaca tren dan keberanian untuk terus berinovasi adalah kunci agar produk lokal bisa mendunia,” tegasnya.
Disisi lain, CEO Martha Tilaar Group, Dr. Kilala Tilaar, memaparkan bahwa industri kecantikan Tanah Air terbukti solid dan mampu bertahan di tengah berbagai krisis ekonomi. Ia menceritakan rekam jejak perusahaannya yang bermula dari salon kecil berukuran empat kali enam meter hingga sukses menjadi raksasa kosmetik nasional berkat kegesitan membaca tren pasar di era digital.
Di hadapan ratusan mahasiswa tersebut, Kilala mengingatkan bahwa tantangan terberat industri lokal saat ini adalah tingginya ketergantungan impor bahan baku kosmetik yang mencapai 85 persen, padahal Indonesia sangat kaya akan bahan alam nusantara.
“Bangsa kita mewariskan ribuan resep kecantikan tradisional dan keanekaragaman hayati yang kaya, sehingga jika potensi ini tidak segera kita olah menjadi inovasi, selamanya kita hanya akan menjadi sasaran pasar bagi negara lain,” urainya.
Sementara itu, Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, ST MT menyampaikan, Kampus Putih telah merancang ekosistem pembelajaran aplikatif untuk mencetak lulusan unggul yang siap terjun ke dunia wirausaha. Hal ini direalisasikan melalui program Center of Excellence (CoE) yang berfungsi menjembatani kesenjangan teori akademik dengan praktik riil di industri, sekaligus memberikan akses inkubasi bisnis yang relevan dengan berbagai disiplin ilmu.
“Fasilitas Center of Excellence ini secara khusus kami hadirkan untuk mendekatkan mahasiswa dengan realitas industri, agar kalian memiliki kemampuan teknis dan praktis yang mumpuni untuk menjadi pengusaha sukses,” pungkas Subeki.
Kolaborasi berkelanjutan antara perguruan tinggi dan praktisi industri ini membawa angin segar bagi masa depan ekonomi kreatif di Indonesia. Keterlibatan ratusan mahasiswa dari keilmuan teknik, sosial, hingga kesehatan diharapkan mampu melahirkan kolaborasi multidisiplin untuk memodernisasi warisan kecantikan lokal. Ke depannya, langkah strategis ini diproyeksikan tidak hanya menekan angka impor bahan baku, tetapi juga mencetak generasi tangkas yang mampu menciptakan lapangan kerja baru dan membawa merek kosmetik nasional bersaing secara global. (*/tim)
