Kota Konya di Turki kembali menjadi pusat perhatian dunia Islam setelah resmi membuka rangkaian Islamic Cooperation Youth Forum (ICYF) dalam agenda bergengsi OIC Youth Capital Konya 2026.
Acara pembukaan yang digelar di Selçuklu Congress Center, Senin (11/5/2026), dihadiri para pemimpin muda dari 40 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), termasuk delegasi Indonesia.
Presiden OIC Youth Indonesia sekaligus Committee Member ICYF mewakili kawasan Asia, Astrid Nadya Rizqita, hadir bersama dua delegasi Indonesia lainnya, yakni Nur Ghina Muslimah dan Ery Alfian Yudha. Kehadiran mereka menjadi bagian dari keterlibatan aktif Indonesia dalam diplomasi kepemudaan dunia Islam.
Forum itu bukan sekadar seremoni tahunan. OIC Youth Capital merupakan program unggulan ICYF yang telah disahkan dalam pertemuan Forum Menteri Luar Negeri Negara-negara OKI atau OIC Council of Foreign Ministers. Program tersebut dirancang sebagai ruang kolaborasi strategis bagi generasi muda Muslim dunia dalam membangun jejaring, pertukaran gagasan, hingga penguatan peradaban Islam modern.
Konya Jadi Pusat Pemuda Dunia Islam
Konya memiliki makna simbolik yang kuat dalam sejarah Islam dan peradaban dunia. Kota itu dikenal sebagai tempat lahir dan berkembangnya pemikiran sufi agung Jalaluddin Rumi. Selain itu, Konya juga pernah menjadi ibu kota Kesultanan Seljuk yang berpengaruh besar dalam sejarah dunia Islam.
Tahun 2026 menjadi kali kedua Turki menjadi tuan rumah OIC Youth Capital setelah sebelumnya Istanbul menyandang status serupa pada periode 2015–2016. Sejak pertama kali digelar, program itu telah berpindah dari satu kota ke kota lain di dunia Islam, mulai dari Putrajaya, Doha, Dhaka, Kazan, Marrakesh, hingga kini Konya.
Keberhasilan Turki kembali menjadi tuan rumah dinilai menunjukkan konsistensi negara tersebut dalam mendukung pengembangan pemuda Muslim internasional.
Sejumlah pejabat tinggi dunia Islam turut memberikan sambutan dalam acara tersebut. Para tokoh menyoroti situasi konflik yang masih terjadi di berbagai wilayah dunia Islam. Mereka menilai forum kepemudaan seperti OIC Youth Capital menjadi ruang penting untuk melahirkan solusi dan gagasan konstruktif bagi masa depan umat.
Usai acara, Astrid Nadya Rizqita menegaskan pentingnya peran pemuda dalam menjembatani warisan peradaban dengan masa depan dunia Islam. “Konya bukan sekadar kota sejarah, tapi juga simbol bagaimana pemuda bisa menjembatani warisan budaya untuk masa depan. Indonesia hadir untuk bekerja sama, bukan sekadar hadir,” ujar Astrid.
Sementara itu, Nur Ghina Muslimah menyoroti pentingnya diplomasi budaya dan ekonomi kreatif dalam membangun hubungan antarpemuda dunia Islam.Ia juga aktif memperkenalkan Indonesia melalui oleh-oleh khas Nusantara kepada delegasi internasional dan tuan rumah. (*/tim)
