Koper Sang Ketua Umum di Gerbong Kereta

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam perjalanan dengan kereta api ditemani koper kulit hitam yang telah lusuh. (ist)
*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Di dalam gerbong kereta api yang membelah keheningan rute Yogyakarta-Jakarta, ada salah seorang penumpang pria paruh baya. Ia duduk tenang, mengenakan kemeja kotak-kotak merah-hitam yang akrab dengan keseharian, celana krem, dan sebuah topi coklat yang sudah tampak “setia” dimakan usia. Di dekat kakinya, ada sebuah tas koper dari bahan kulit hitam, beberapa bungkus camilan sederhana, dan sebotol air mineral.

Pria itu adalah Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si., Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Bagi mata yang tak mengenal, ia hanyalah seorang warga biasa yang sedang menikmati perjalanan. Namun, sebuah potret yang tertangkap kamera netizen baru-baru ini mengubah pandangan itu menjadi sebuah gambaran tentang integritas. Yang menjadi bintang utama dalam foto viral tersebut bukanlah wajah sang profesor, melainkan sebuah koper lusuh yang diletakkan bersahaja di lantai kereta. Koper dengan samak kulit yang sudah pecah-pecah karena seringnya dipakai.

Kontradiksi yang Menggetarkan

Ada sebuah ironi indah sekaligus menampar wajah materialisme modern kita hari ini. Haedar Nashir adalah nahkoda dari sebuah kapal raksasa bernama Muhammadiyah. Persyarikatan ini diperkirakan mengelola aset dengan nilai fantastis, mencapai sekitar Rp464 triliun. Kekayaan ini tidak berwujud dalam tumpukan emas, melainkan dalam bentuk pengabdian nyata yang tersebar di seluruh pelosok negeri hingga mancanegara, yang meliputi:

  • Pendidikan: Lebih dari 170 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) serta ribuan sekolah dari tingkat PAUD hingga SMA.
  • Kesehatan: Ratusan Rumah Sakit (RS PKU Muhammadiyah) dan klinik yang melayani jutaan warga tanpa memandang latar belakang.
  • Sosial & Keagamaan: Ribuan panti asuhan dan masjid yang berdiri tegak sebagai pilar peradaban.

Secara global, Muhammadiyah diakui sebagai salah satu organisasi Islam modernis terbesar dan terkaya di dunia. Namun, di tengah gelimang triliunan aset tersebut, sang Ketua Umum justru tampil dengan koper yang “lelah” dan pakaian yang jauh dari kesan mewah. Ia tidak menggunakan jet pribadi, tidak dikelilingi barisan pengawal yang menutup jalan bagi rakyat kecil, dan tidak merasa tabu duduk di kursi transportasi umum.

Ideologis “Hidup-hidupilah Muhammadiyah”

Kesederhanaan Haedar Nashir bukanlah sebuah pencitraan yang dirancang oleh konsultan komunikasi. Ia adalah kristalisasi dari sebuah wasiat lebih dari 100 tahun lalu, yang ditanamkan oleh pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan:

“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”

Kalimat ini bukan sekadar slogan, melainkan garis yang memisahkan antara pengabdian tulus dan ambisi mencari keuntungan. Di Muhammadiyah, struktur pimpinan dari tingkat Pusat hingga Ranting (desa) adalah ruang khidmat. Para pemimpinnya bekerja tanpa gaji. Jabatan dipandang sebagai amanah yang harus ditunaikan, sebuah ladang ibadah di mana tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah.

Namun, di sinilah letak keadilan organisasinya. Muhammadiyah tetap menjunjung tinggi profesionalisme bagi mereka yang bekerja secara teknis. Para guru, dosen, dokter, dan staf di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) tetap mendapatkan hak gaji yang layak sesuai aturan. Perbedaan ini tegas, pimpinan mengabdi untuk memberi arah, sementara karyawan bekerja untuk menjalankan roda organisasi secara profesional.

Koper itu adalah saksi bisu dari ribuan kilometer perjalanan dakwah. Ia menyimpan lelah yang tak pernah dikeluhkan dan menyimpan doa-doa yang dipanjatkan di sela-sela transit bandara atau stasiun.

Koper lusuh itu adalah sebuah pernyataan politik tanpa kata-kata. Di saat dunia mempertontonkan flexing atau pamer kekayaan, Haedar Nashir memilih untuk “pamer” ketidakterikatan pada dunia. Ia menunjukkan bahwa otoritas moral tidak lahir dari merk sepatu atau jam tangan, melainkan dari konsistensi antara ucapan dan perbuatan.

Bagi masyarakat luas, fenomena ini menjadi oase di tengah gersangnya keteladanan. Netizen memuji bukan karena mereka memuja kemiskinan, tetapi karena mereka merindukan sosok pemimpin teladan. Seorang pemimpin yang tidak lagi lapar akan pengakuan fisik, karena jiwanya sudah kenyang dengan pengabdian.

Inspirasi bagi Bangsa

Perjalanan Haedar Nashir dengan kereta api dan koper tuanya adalah sebuah pelajaran berharga tentang hakikat kepemimpinan. Ia mengingatkan kita bahwa organisasi besar tidak harus melahirkan pemimpin yang eksklusif dan berjarak. Kekuatan sejati sebuah gerakan justru terletak pada kedekatannya dengan akar rumput dan kesederhanaan para elitenya.

Semoga kultur ikhlas ini tidak luntur ditelan zaman. Muhammadiyah telah memberi contoh bagaimana mengelola kekayaan triliunan rupiah dengan tangan yang tetap bersih dan hati yang tetap membumi. Koper itu mungkin tampak lusuh di luar, namun di dalamnya tersimpan kekayaan karakter yang tak akan mampu dibeli oleh nominal mata uang manapun.

Khidmat untuk umat, tulus untuk bangsa. Sebagaimana koper itu terus bergerak mengikuti rute kereta, begitulah pengabdian seharusnya. Terus berjalan, tanpa perlu bersolek untuk dipuji, hingga sampai di stasiun terakhir kehidupan. Air mata ini serasa tak bisa berhenti menitik. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search