Koruptor Tempatnya di Neraka

*) Oleh : Ferry Is Mirza
Jurnalis senior dan aktivis muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Ia berkata: “Dibawa kepada Rasullullah Shalallahu Alaihi Wasallam seorang laki-laki yang terbunuh pada hari (perang) Khaibar.

Mereka berkata: Ini adalah seorang syahid!’

Maka Rasullullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: Tidak! Sesungguhnya aku melihatnya berada di dalam neraka karena sehelai kain (mantel) atau selimut yang ia ambil secara curang dari harta rampasan perang sebelum dibagi (ghulul).’ (Sahih Muslim 183)

Pelajaran yang terdapat di dalam hadis:

  1. Ghulul artinya mengambil sesuatu secara diam-diam dari harta milik bersama (ghanimah) sebelum dibagi secara resmi.
  2. Dalam konteks modern, ini setara dengan korupsi, penyelewengan dana, atau penggelapan aset negara/umat.
  3. Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menolak mengakui status syahid bagi orang yang wafat dalam perang jika terbukti berkhianat dalam harta.
  4. Bahkan dosanya sangat besar, sampai diperlihatkan dalam neraka karena mencuri hanya selembar kain.
  5. Ini menunjukkan bahwa: Korupsi adalah dosa besar. Meskipun secara lahiriah seseorang terlihat berjasa atau wafat dalam jihad, jika berkhianat, amalnya bisa gugur.
  6. Dalam beberapa riwayat lain, Rasullullah Shalallahu Alaihi Wasallam tidak mau mensalatkan sendiri jenazah pelaku ghulul, sebagai bentuk sikap tegas agar umat mengambil pelajaran.
  7. Amanah adalah hal yang sangat agung dalam Islam. Korupsi dalam bentuk apa pun, baik uang negara, uang kantor, atau aset umat, bisa menghapus amal dan mendatangkan murka Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
  8. Sehebat apa pun amal ibadah seseorang, jika ada pengkhianatan, bisa jadi ia tertolak di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Tema hadis yang berkaitan dengan Al Qur’an: Barang siapa berbuat ghulul/korupsi, maka ia akan membawa harta haram itu di hari kiamat.

Maksudnya: Orang itu akan dipermalukan dan disiksa karena membawa “bukti pengkhianatannya” di hadapan seluruh makhluk.

Tidak mungkin seorang nabi berkhianat (ghulul). Barang siapa berkhianat, maka pada hari Kiamat dia akan membawa apa yang dikhianatkannya itu. Kemudian setiap jiwa akan diberi balasan terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak didhalimi.” ( QS Ali Imran: 161)

ismirzaf@gmail.com ; fimdalimunthe55@gmail.com

 

Tinggalkan Balasan

Search