Seandainya kita benar-benar mau jujur pada diri sendiri, menghitung satu per satu nikmat yang Allah limpahkan, lalu membandingkannya dengan ujian yang pernah datang, maka kita akan tersadar, bahwa luka yang kita rasakan hanyalah sebagian kecil dari luasnya kasih sayang-Nya.
Sering kali hati sibuk mengingat apa yang hilang, hingga lupa mensyukuri apa yang masih ada. Padahal setiap nafas, setiap langkah, setiap kesempatan hidup, adalah bukti bahwa Allah masih terus memberi, tanpa henti.
Karena itu, jangan biarkan satu musibah membuat kita buta terhadap seribu nikmat. Karena di balik setiap ujian, selalu ada kebaikan yang Allah siapkan, meski belum kita pahami hari ini.
Firman Allah,
وَاِ نْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَـغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS An-Nahl 16: 18)
Belajarlah melihat hidup dengan hati yang lapang, agar kita tahu bahwa sejatinya kita selalu dikelilingi oleh nikmat yang tak terhitung jumlahnya.
Motivasi hidup: Kadang kita terlalu fokus pada luka, hingga lupa betapa banyak nikmat yang sudah Allah berikan. Marilah kita lebih jujur melihat hidup bahwa ujian tak sebanding dengan karunia-Nya.
Barakallahu fiikum.
