#Kitab Tanbihul Ghafilin-Abu Laits As-Samarqandi
1. Jangan tunda ibadah demi pekerjaan.
أَلَّا يُؤَخِّرَ الْفَرَائِضَ مِنْ أَجْلِ الْعَمَلِ
رِجَالٌ لَا تُلْهِيْهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ
Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat dan menunaikan zakat. (QS. An-Nur: 24/37).
Ayat ini menjelaskan ciri orang beriman, yaitu tidak menjadikan bisnis atau pekerjaan sebagai alasan meninggalkan ibadah kepada Allah.
2. Jangan sakiti orang lain demi penghasilan.
ألَّا يُؤْذِيَ أَحَدًا مِنْ خَلْقِ اللَّهِ بِسَبَبِ مَعِيشَتِهِ وَكَسْبِهِ
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan janganlah kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat makan sebagian harta orang lain dengan dosa, padahal kamu mengetahui. (QS.2/188).
Ayat ini melarang mencari penghasilan dengan cara zalim, curang, merugikan orang lain.
3. Niatkan bekerja untuk menjaga diri dan keluarga.
أَنْ يَنْوِيَ بِكَسْبِهِ كَفَّ نَفْسِهِ وَعِيَالِهِ عَنِ الْحَرَامِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. (QS. At-Tahrim: 66/6).
Menafkahi keluarga dengan rezeki halal termasuk bagian menjaga diri dan keluarga.
4. Jangan habiskan seluruh hidup hanya untuk dunia.
أَلَّا يُتْعِبَ نَفْسَهُ فِي طَلَبِ الدُّنْيَا
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ
Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu. (QS. Al-Qasas: 28/77).
Ayat ini mengajarkan keseimbangan antara bekerja untuk dunia dan mempersiapkan akhirat.
5. Rezeki datang dari Allah, bukan semata dari usahamu.
أَنَّ الرِّزْقَ مِنَ اللَّهِ وَالْكَسْبُ سَبَبٌ فَقَطْ
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan sholat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami-lah yang memberi rezeki kepadamu.Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa. (QS. Toha: 20/132).
Ayo iling-ilingan: Utamakan salat, Allah yang menjamin rezeki. Jaga salatmu, Allah jaga hidupmu. Ibadah ditegakkan, rezeki didatangkan. Bukan rezeki yang memberi waktu untuk salat, tetapi salat yang mendatangkan keberkahan rezeki. (*)
