Di dunia ini, ada orang yang memiliki hati sekeras batu karang, namun ada pula yang hatinya selembut tisu yang mudah robek. Dalam istilah pergaulan modern, kelompok kedua ini sering disebut sebagai “Baperan.”
Ini terjadi ketika hal-hal kecil seperti sindiran halus dari teman, kritikan tajam dari atasan, atau tatapan dingin dari orang lain dapat merusak suasana hati, membuat kita kehilangan selera makan, dan membuat kita “overthinking” hingga larut malam.
Sebenarnya, menjadi sensitif dan memiliki perasaan yang halus bukanlah sesuatu yang negatif. Dr. Elaine Aron, seorang ahli psikologi ternama dan penulis buku “The Highly Sensitive Person”, menjelaskan bahwa sekitar 15 hingga 20 persen manusia di dunia terlahir dengan sistem saraf yang lebih peka. Mereka seperti memiliki “antena” yang sangat sensitif, mampu menangkap emosi dan dinamika sosial di sekitar mereka dengan sangat mendalam.
Jadi, jika kita termasuk orang yang mudah baper, jangan merasa rendah diri. Ini adalah tanda bahwa kita memiliki empati yang sangat tinggi. Masalah muncul ketika “antena” yang sensitif ini tidak dikalibrasi dengan baik, sehingga menangkap semua sinyal terasa negatif yang akhirnya membuat jiwa kita merasa lelah.
Secara sains, biang kerok dari sifat baperan ini ada di dalam kepala kita sendiri, yaitu sebuah bagian kecil di otak berbentuk kacang almon bernama Amigdala. Amigdala bertindak sebagai sistem alarm otomatis dan pusat kendali emosi kita, terutama untuk mendeteksi ancaman. Sifatnya sangat reaktif dan tidak menggunakan logika.
Menariknya, jauh sebelum psikologi modern membahas isu kesehatan mental, Al-Qur’an telah memberikan resep yang sangat efektif untuk menjinakkan hati yang mudah goyah.
Sumber utama dari sifat baper biasanya berasal dari prasangka dan asumsi sepihak. Kita sering kali menjadi sutradara bagi skenario terburuk di dalam pikiran kita mengenai niat orang lain.
Untuk mengatasi hal ini, Allah SWT memberikan pengingat dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ……..الخ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. ”
Melalui ayat ini, kita diajarkan untuk mengendalikan pikiran. Ketika sebuah pesan hanya dibaca namun tidak dibalas, orang yang baperan sering kali langsung berasumsi bahwa dirinya dibenci. Padahal, orang yang mengirimkan pesan tersebut mungkin sedang terburu-buru atau kehabisan daya baterai. Mengganti prasangka buruk dengan mencari alasan yang baik untuk orang lain adalah langkah pertama untuk mencegah baper.
Namun, bagaimana jika ucapan atau tindakan negatif itu memang benar-benar ditujukan kepada kita? Allah SWT mengakui bahwa kata-kata manusia bisa sangat menyakiti. Dalam Surah Al-Hijr ayat 97, Allah berfirman:
وَلَقَدْ نَعْلَمُ اَنَّكَ يَضِيْقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُوْلُوْنَۙ ٩٧
“Dan sungguh, Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit akibat apa yang mereka ucapkan. “
Allah benar-benar memahami rasa sesak di dada itu. Namun, perhatikan bagaimana Allah memberikan solusi di ayat selanjutnya:
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِّنَ السّٰجِدِيْنَۙ ٩٨
“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang yang bersujud. “
Ini adalah ajaran tentang pengalihan fokus yang sangat luar biasa. Ketika kita diserang oleh energi negatif dari luar, kita tidak diminta untuk membalasnya dengan cara yang sama, melainkan diminta untuk bersujud dan mengarahkan fokus kita kepada Pemilik Semesta.
Logikanya sangat sederhana: jika kita sibuk mencari penilaian dan keridhaan dari Allah yang menciptakan seluruh umat manusia, maka segala omongan miring dari sesama manusia akan terasa kecil dan tidak berarti.
Nabi Muhammad SAW pun pernah mengingatkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kemampuan seseorang dalam bertarung atau bergulat, melainkan pada kemampuan untuk mengendalikan diri ketika emosi sedang bergejolak.
Cara melatih kekuatan ini, kita perlu belajar untuk memberi jeda. Ketika ada hal yang memicu rasa tersinggung, ambillah napas dalam-dalam selama lima detik sebelum merespons. Jeda singkat ini sangat penting untuk memberikan waktu bagi otak kita agar aktif dan mengambil alih kendali dari otak emosional yang sedang berapi-api.
Mari jaga hati kita agar tetap menjadi ruang tamu yang terhormat, bukan tempat pembuangan sampah bagi ego, kemarahan, dan kata-kata kasar orang lain. Mari kita mulai hari ini dengan menerapkan filter yang ketat dalam pikiran. Terimalah dengan lapang dada kritik yang membangun semangat memperbaiki diri, dan anggap ucapan yang beracun seperti iklan di media sosial yang dapat kita abaikan dalam sekejap. Peliharalah kedamaian hati, karena di sanalah kebahagiaan sejati berada.
Wallahu a’lamu Bisshowaab.
