Manajemen Organisasi Muhammadiyah Tetap Relevan di Tengah Perubahan

Manajemen Organisasi MuhammadiyahTetap Relevan di Tengah Perubahan
*) Oleh : Difa Hazimatul Insyiroh
Mahasiswa S1 Manajemen Universitas Muhammadiyah Surabaya
www.majelistabligh.id -

Perubahan sosial, ekonomi, dan juga teknologi yang begitu cepat membuat beberapa organisasi di Indonesia yang lahir dengan dorongan semangat besar perlahan kian melemah. Namun di tengah kondisi tersebut, nampaknya Muhammadiyah menunjukkan pola yang yang berbeda.

Lebih dari satu abad sejak didirikan oleh tokoh besar KH. Ahmad Dahlan, organisasi ini masih tetap bertahan bahkan menjadi terus berkembang. Ribuan amal usaha dalam berbagai bidang yang organisasi kelola ini telah menyebar keseluruh daerah di Indonesia bahkan telah berekspansi ke beberapa wilayah global.

Pada beberapa tahun terakhir, Muhammadiyah tercatat sebagai salah satu organisasi keagamaan terkaya di dunia dengan total aset organisasi mencapai  Rp 454,24 triliun. Pertanyaan menarik di balik pencapaian luar biasa ini bukan pada Berapa banyak total kekayaan yang dimiliki Muhammadiyah melainkan pada Bagaimana strategi Muhammadiyah dalam mengelola ekonomi organisasinya sehingga dapat bertahan dan tetap relevan hingga saat ini. 

Sejak awal pendiriannya pada tahun 1912, Muhammadiyah berkomitmen untuk menjalankan islam berkemajuan, sebuah konsep yang menekan keseimbangan antara keyakinan agama islam dengan perubahan zaman yang berkembang. Dalam Muhammadiyah, komitmen ini tidak hanya tercermin dalam bidang dakwah dan pendidikan saja, namun juga dalam strategi membangun dan mengelola ekonomi mandiri bagi organisasi serta merespon perubahan yang terjadi pada masyarakat.

Dalam menghadapi perubahan, salah satu kunci sukses Muhammadiyah tetap bertahan adalah kemampuan mentranspformasi kekuatan ekonomi organisasi yang semula bertumpu pada individu menjadi pilar ekonomi yang diresmikan.

Pada awalnya perkembangan Muhammadiyah bertumpu kepada para pengusaha muslim dan saudagar muslim di berbagai daerah. Namun seiiring waktu, Muhammadiyah mulai menyadari bahwa keberlanjutan organisasi tidak dapat bergantung kepada kelompok atau figure tertentu semata. Dari sinilah kemudian lahir berbagai amal amal usaha milik Muhammadiyah yang kemudian dikelola dengan sistematis dan professional.

Amal Usaha Muhammadiyah (AUM dan Badan Usaha Milik Muhammadiyah (BUMM) lahir sebagai jawaban atas kebutuhan akan kemandirian ekonomi organisasi. Hal ini menjadi bukti bahwa Muhammadiyah bukanlah organisasi yang anti dan alergi terhadap modernisasi, justru sebaliknya. Modernisasi bagi Muhammadiyah dianggap sebagai bagian penting dalam menjaga keberlanjutan amanah umat.

Saat ini AUM telah tersebar di berbagai wilayah Indonesia bahkan juga telah menyebar di beberapa wilayah global. BUMM bergerak di berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, perdagangan, jasa keuangan hingga media dan percetakan dengan tetap berpegang teguh pada prinsip syariah, transparansi dan akuntabilitas. Amal usaha ini tidak hanya bertujuan menghasilkan keuntungan semata, tetapi juga sebagai lahan dalam membantu menopang program dakwah, Pendidikan dan layanan sosial yang mana menjadi inti bisnis Muhammadiyah hingga saat ini.

Yang menarik, modernisasi ini tidak membuat Muhammadiyah kehilangan identitasnya sebagai organisasi gerakan dakwah. Haedar nasyir, Ketua Umum PP Muhammadiyah menegasakan bahwa terdapat dua sisi yang harus menyatu dalam setiap amal usaha Muhammadiyah, yaitu dimensi sacral (religiusitas) dan profan (duniawi).

Nilai religious tidaklah berhenti sebagai pedoman saja tetapi juga bisa direalisasikan dalam kegiatan kegiatan professional yang dapat memberikan manfaat bagi masyrakat luas. Prinsip dari iman, ilmu, amal menjadi sebuah dasar bahwa pengelolaan ekonomi Muhammadiyah tidak hanya sekedar mengejar keuntungan, melainkan juga sebagai sarama dalam mengemban tanggung jawab dakwah.

Bukti adaptasi Muhammadiyah kepada perubahan tanpa meninggalkan nilai nilai yang menjadi fondasinya dapat dilihat dari pemanfaatan teknologi digital, transformasi tata kelola keuangan, hingga pengembangan ekosistem digitalnya.

Dari sini, keberhasilan Muhammadiyah dalam bertahan dan berkembang hingga saat ini tidak dapat dilepaskan dari kemampuan mengelola sumber daya ekonomi organisai secara professional, sistematis dan berkelanjutan. Perubahan kekuatan ekonomi Muhammadiyah yang mulanya bertumpu pada individu menuju sistem kelembagaan yang modern menunjukkan bahwa kemadirian organisasi dapat dibangun dari tata kelola yang baik dan  bukan dari besarnya aset yang dimilki. Dengan cara inilah Muhammadiyah dapat terus menjaga relevansinya untuk terus memberikan manfaat bagi masyarakat luas. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search