Manajemen Rapat Virtual, Hanya Hadir atau Ikut Terlibat Nyata?

Manajemen Rapat Virtual, Hanya Hadir atau Ikut Terlibat Nyata?
*) Oleh : Dr. Jaharuddin,
Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta
www.majelistabligh.id -

Rapat virtual telah menjadi bagian dari keseharian banyak organisasi. Ia memperpendek jarak, menghemat waktu perjalanan, dan memungkinkan orang dari berbagai tempat bertemu dalam satu ruang digital. Dengan satu tautan, sebuah lembaga dapat mempertemukan pengurus, anggota, mitra, bahkan masyarakat yang berada di kota atau negara berbeda.

Namun, kemudahan itu menghadirkan persoalan baru. Tidak semua orang yang masuk ke ruang virtual benar-benar hadir dengan pikiran dan perhatiannya. Nama mereka tercantum di layar, kamera mungkin menyala, tetapi pikiran berjalan ke tempat lain. Ada yang membalas pesan, memeriksa surat elektronik, membuka dokumen lain, atau sekadar menunggu rapat berakhir.

Secara administratif, mereka hadir. Akan tetapi, secara pikiran, perasaan, dan tanggung jawab, belum tentu mereka terlibat. Di sinilah manajemen rapat virtual perlu dipahami lebih dalam. Mengelola rapat bukan hanya mengirim undangan, menentukan waktu, menunjuk pembicara, dan membagikan tautan pertemuan.

Manajemen rapat adalah upaya menciptakan ruang yang memungkinkan orang memahami masalah, menyampaikan pikiran, mendengarkan pandangan lain, mengambil keputusan, dan bergerak bersama setelah pertemuan selesai. Rapat yang baik tidak sekadar mempertemukan wajah di layar. Ia mempertemukan pikiran, kehendak, dan tanggung jawab.

Ketika Rapat Hanya Menjadi Tempat Mendengar
Banyak rapat virtual masih menggunakan pola yang sama, satu orang berbicara panjang, peserta lain mendengarkan, lalu pada bagian akhir pemimpin rapat bertanya, “Apakah ada tanggapan?”

Pertanyaan itu biasanya disambut keheningan. Kalaupun ada yang berbicara, orangnya sering kali itu-itu juga. Setelah beberapa saat, pemimpin rapat menyimpulkan bahwa semua peserta telah memahami dan menyetujui pembahasan. Padahal, diam tidak selalu berarti setuju. Diam juga tidak selalu berarti memahami. Seseorang dapat memilih diam karena bingung, ragu, merasa tidak aman, tidak menemukan kesempatan berbicara, atau menganggap pendapatnya tidak akan memengaruhi keputusan.

Rapat seperti ini menempatkan peserta sebagai penonton. Mereka hadir untuk menerima informasi, bukan untuk ikut memikirkan persoalan. Akibatnya, keterlibatan melemah dan rasa memiliki terhadap keputusan menjadi rendah. Ketika tugas dibagikan, peserta mungkin melaksanakannya sebatas kewajiban, bukan sebagai tanggung jawab yang sungguh-sungguh mereka pahami.

Justin Hale dan Joseph Grenny, melalui artikel How to Get People to Actually Participate in Virtual Meetings di Harvard Business Review, mengingatkan bahwa keterlibatan tidak cukup dibangun dengan meminta peserta agar lebih aktif. Partisipasi harus dirancang sejak awal. Peserta perlu diberi alasan untuk memperhatikan, ruang untuk menyampaikan pandangan, dan tanggung jawab yang jelas dalam proses rapat.

Gagasan ini menempatkan kualitas rapat sebagai bagian dari kualitas kepemimpinan. Bila peserta terus-menerus pasif, persoalannya tidak selalu terletak pada kurangnya disiplin mereka. Bisa jadi, rapat memang tidak memberi mereka alasan yang cukup untuk terlibat.

Memulai dari Persoalan yang Nyata
Menit-menit pertama sangat menentukan arah sebuah pertemuan. Sayangnya, banyak rapat dibuka dengan sambutan panjang, pembacaan agenda, atau penjelasan teknis yang sebenarnya dapat disampaikan sebelum rapat.
Ketika pokok persoalan baru dibicarakan setelah waktu berjalan cukup lama, perhatian peserta mungkin telah menurun. Mereka mengikuti rapat, tetapi tidak segera memahami mengapa pertemuan itu penting. Rapat yang hidup sebaiknya dimulai dengan persoalan nyata. Pemimpin rapat dapat menghadirkan data, pengalaman lapangan, pertanyaan yang menggugah, atau kesenjangan antara harapan dan kenyataan.

Dalam rapat, pembukaan tidak harus dimulai dengan uraian panjang mengenai pentingnya program. Pertemuan dapat dibuka dengan pertanyaan yang lebih jujur, mengapa kegiatan kita semakin banyak, tetapi dampaknya terhadap kehidupan jamaah belum terasa? Mengapa jumlah peserta meningkat, tetapi tindak lanjutnya lemah? Mengapa program terus berjalan, sedangkan persoalan yang sama selalu kembali?

Pertanyaan semacam itu mengajak peserta masuk ke dalam persoalan. Mereka tidak hanya menerima agenda, tetapi mulai merasakan adanya sesuatu yang perlu dipikirkan bersama. Orang akan lebih mudah terlibat ketika memahami bahwa kehadirannya dibutuhkan, pandangannya memiliki arti, dan keputusan rapat akan membawa akibat nyata.

 

Tinggalkan Balasan

Search