Manusia Berdosa

*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
Pengajar Mata Kuliah AIK UMM
www.majelistabligh.id -

Manusia berdosa adalah kondisi di mana manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk melanggar hukum Tuhan dan berbuat salah akibat kelemahan rohani dan hawa nafsu. Konsep ini sangat mendasar dalam berbagai agama, dosa  membutuhkan pertobatan serta anugerah untuk keselamatan.

“Dosa mirip noda. Bila sebuah pakaian bersih, maka parfum dan air mawar lebih bermanfaat baginya. Tapi apabila pakaian itu kotor, maka sabun dan air panas lebih bermanfaat baginya..” [Alwaabilus shoyyib, Ibnul Qoyyim, 92]

Mungkin ada yang bertanya, berarti kita akan beristighfar saja, karena kita selalu merasa berlumuran dosa?

Kita katakan: “memperbanyak istighfar”, bukan berarti tidak membaca dzikir yang lain sama sekali.

Dan tidak diragukan lagi bahwa perasaan ‘berlumuran dosa’ tidak akan selamanya menghinggapi diri kita, pasti ada saat-saat kita merasa dekat dengan Allah ta’ala.

Istighfar merupakan salah satu amalan utama pelebur dosa di samping taubat yang nasuha, dan  amal saleh. Istighfar adalah doa atau permintaan ampun kepada Allah Swt yang berfungsi menghapus dosa-dosa kecil maupun kesalahan yang tidak disengaja.

Ibnu Juzay rahimahullah berkata dalam kitab At-Tashiil li ‘Ulum At-Tanziil (1:343),

(وما كان الله معذبهم وهم يستغفرون) أي: لو آمنوا واستغفروا؛ فإن الاستغفار أمان من العذاب، قال بعض السلف: كان لنا أمانان من العذاب: وهما وجود النبي صلى الله عليه وسلم والاستغفار، فلما مات النبي صلى الله عليه وسلم ذهب الأمان الواحد، وبقي الآخر.

“Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun, maksudnya adalah andai saja mereka beriman dan memohon ampun. Istighfar itulah yang menyelamatkan dari azab (siksa). Sebagian salaf berkata, “Dulu kami memiliki dua penyelamat dari azab (siksa), yaitu: (1) keberadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, (2) istighfar. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, maka satu penyelamat tiada dan tersisa ucapan istighfar sebagai penyelamat dari azab.”

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

فأخبر أنه لا يعذب مستغفرا؛ لأن الاستغفار يمحو الذنب الذي هو سبب العذاب، فيندفع العذاب.

“Allah tidak akan menyiksa orang yang beristighfar. Karena istighfar itu menghapus dosa di mana dosa adalah sebab datangnya musibah (azab). Istighfar itu penolak azab.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 8:163).

 

Tinggalkan Balasan

Search