Di antara deretan bangunan modern dan hiruk-pikuk pelabuhan Prefektur Hyogo, berdiri sebuah bangunan kokoh dengan kubah dan menara yang khas. Itulah Masjid Kobe. Bukan sekadar tempat sujud, Masjid Kobe adalah monumen sejarah yang membuktikan bahwa iman dan arsitektur yang kuat mampu melawan amuk alam serta kekejaman perang.
Dijuluki sebagai “The Miracle Mosque” (Masjid Keajaiban), bangunan ini bukan hanya masjid tertua di Negeri Sakura, melainkan simbol harmoni yang tumbuh di tanah kaisar.
Hubungan Jepang dan dunia Islam sejatinya tidak tumbuh dalam semalam. Benih kedekatan ini tertanam sejak tragedi kapal fregat Ottoman, Ertugrul, pada tahun 1890. Kapal yang membawa misi diplomatik Sultan Abdul Hamid II itu karam dihantam badai di perairan Wakayama.
Aksi heroik warga lokal Jepang yang menyelamatkan para pelaut Turki menciptakan ikatan emosional yang mendalam. Seiring waktu, interaksi ini diperkuat dengan gelombang migrasi Muslim Tatar yang melarikan diri dari Revolusi Rusia pada 1917, serta kedatangan para pedagang dari India dan Timur Tengah.
Gotong Royong Lintas Bangsa
Pembangunan Masjid Kobe tidaklah instan. Komunitas Muslim di Kobe, yang didominasi oleh pedagang India pimpinan Ferozeuddin, bahu-membahu mengumpulkan dana selama bertahun-tahun.
Mereka memercayakan desain masjid kepada arsitek asal Ceko, Jan Josef Švagr, yang juga merancang banyak gereja dan bangunan ikonik di Jepang. Hasilnya adalah perpaduan gaya arsitektur yang unik:
- Eksterior: Mengadopsi gaya tradisional India yang megah.
- Interior: Kental dengan nuansa Turki yang artistik dan menenangkan.
Setelah enam tahun proses pengumpulan dana dan pembangunan, masjid ini resmi dibuka pada 11 Oktober 1935, menandai tonggak sejarah baru bagi syiar Islam di Jepang.

Mengapa dunia menyebutnya masjid ajaib? Sejarah mencatat dua peristiwa besar yang nyaris meratakan Kota Kobe, namun gagal meruntuhkan bangunan ini.
- Hujan Bom Perang Dunia II (1945): Saat Sekutu membombardir Kobe pada 1945, hampir seluruh kota hangus terbakar dan rata dengan tanah. Luar biasanya, Masjid Kobe tetap berdiri tegak di tengah puing-puing bangunan di sekitarnya. Struktur beton bertulang yang kokoh membuatnya selamat, meski kaca-kacanya pecah dan dinding luar menghitam karena asap. Saat itu, rubanah masjid bahkan menjadi tempat perlindungan bagi tentara dan warga sipil dari serangan udara.
- Gempa Besar Hanshin (1995): Pada 17 Januari 1995, gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,3 Skala Richter mengguncang Kobe. Bencana ini menelan lebih dari 6.000 korban jiwa dan menghancurkan puluhan ribu bangunan. Namun, sekali lagi, Masjid Kobe menunjukkan “keajaibannya”. Bangunan ini hampir tidak mengalami kerusakan struktural berarti, sementara bangunan di kanan-kirinya ambruk total.
Ketahanan Masjid Kobe seolah menjadi cermin pertumbuhan Islam di Jepang. Jika pada tahun 1930-an masjid bisa dihitung jari, kini kondisinya telah jauh berkembang:
- Jumlah Masjid: Dari hanya 1 (Kobe) di tahun 1935, kini terdapat lebih dari 110 masjid yang tersebar di seluruh Jepang.
- Populasi Muslim: Berdasarkan data dari Waseda University, populasi Muslim di Jepang diperkirakan mencapai 230.000 orang, di mana sekitar 45.000 di antaranya adalah warga negara Jepang asli.
- Wisata Halal: Kehadiran Masjid Kobe juga mendorong kawasan Kitano-chō menjadi destinasi ramah Muslim, lengkap dengan restoran bersertifikat halal dan toko bahan pangan internasional.
Kini, Masjid Kobe bukan sekadar milik umat Islam. Ia adalah warisan budaya Jepang yang diakui pemerintah setempat. Bangunan tiga lantai ini menjadi bukti bahwa Jepang adalah negara yang terbuka terhadap keberagaman budaya dan agama.
Bagi siapa pun yang berkunjung, Masjid Kobe menawarkan lebih dari sekadar pemandangan arsitektur. Ia memberikan pelajaran tentang daya tahan, tentang bagaimana sebuah bangunan—dan komunitas di dalamnya—mampu bertahan melewati ujian zaman yang paling ekstrem sekalipun. || chusnun hadi, dari berbagai sumber
