Melawan Mitos Angka 13, Amal Usaha Muhammadiyah adalah Konkretisasi Amal Saleh

Ibrahim Tower RS Roemani Muhammadiyah Semarang yang megah berdiri setinggi 13 lantai. (ist)
www.majelistabligh.id -

Muhammadiyah tidak boleh mandek dalam gerakan aksi, melainkan harus terus bertransformasi menjadi gerakan pemikiran. Hal tersebut ditegaskan oleh Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti.

“Muhammadiyah itu adalah gerakan Islam, dakwah amar makruf nahi mungkar, dan tajdid,” ujar Mu’ti saat mengisi Pengajian Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang di Griya Harmoni Amposari Timur, Kedungmundu, Sabtu (13/6/2026).

Menurut Mu’ti, berbagai amal usaha yang dijalankan Muhammadiyah saat ini merupakan wujud aktualisasi, konkretisasi, dan objektivikasi dari pengamalan amal saleh. Salah satu bukti nyatanya adalah Ibrahim Tower di RS Roemani Muhammadiyah Semarang yang megah berdiri setinggi 13 lantai.

Menariknya, pemilihan jumlah lantai ini sengaja menabrak takhayul yang berkembang di masyarakat. “Ini gedung tertinggi di Kota Semarang dan itu melawan mitos. Karena selama ini orang takut dengan angka 13. Kalau orang Barat takut angka 13, sementara orang Tionghoa takut angka 4,” kelakarnya.

Bagi Mu’ti, kehadiran Ibrahim Tower tidak hanya merepresentasikan kemegahan fisik bangunan. Lebih dari itu, gedung tersebut menggambarkan kokohnya konstruksi ideologi Muhammadiyah.

“Muhammadiyah tidak hanya sebatas gerakan sosial, tetapi gerakan sosial yang dilandasi oleh teologi dan ideologi Muhammadiyah,” bebernya.

Landasan ideologis inilah yang menjadi pembeda (distingsi) utama antara layanan sosial Muhammadiyah dengan lembaga lainnya.

Ia menambahkan, sejak awal Muhammadiyah selalu mengajarkan bahwa Al-Qur’an tidak sekadar menjadi kitab suci yang disakralkan atau dibaca untuk ritual belaka, melainkan harus menjadi petunjuk yang hidup dan aplikatif dalam keseharian.

Menghidupkan Petunjuk Agama Lewat Sains dan Aksi Nyata

Lantas, bagaimana cara mengimplementasikan petunjuk tersebut? Mu’ti memberikan sebuah contoh konkret lewat sebuah hadis riwayat Muslim yang berbunyi: “Setiap penyakit ada obatnya.”

Secara tekstual, hadis ini sama sekali tidak memuat instruksi eksplisit untuk mendirikan rumah sakit. “Tidak ada perintah dirikan rumah sakit, bahkan tidak ada contohnya langsung dari Nabi,” ungkap Mu’ti.

Namun, hadis tersebut menyuntikkan optimisme bahwa setiap penyakit pasti bisa disembuhkan. Hal ini diperkuat oleh Al-Qur’an Surah Asy-Syu’ara ayat 80, yang menegaskan bahwa Allah adalah Zat Yang Maha Menyembuhkan.

“Di satu sisi kita mendapat petunjuk agar senantiasa berikhtiar. Namun, bagaimana cara menemukan dan memproduksi obat? Bagaimana menjembatani kesembuhan dari Allah? Itu semua butuh aksi nyata,” urai Mu’ti.

Di sinilah titik temu antara aktualisasi, konkretisasi, dan objektivikasi itu terjadi. Jika dikontekstualisasikan dalam dunia medis, maka umat Islam harus melahirkan para ahli farmasi, dokter spesialis, mendirikan balai pengobatan, hingga membangun rumah sakit modern.

“Di situlah kita mengaktualisasikan petunjuk agama dengan cara-cara yang modern, rasional, ilmiah, dan bisa dibuktikan keberhasilannya,” tegasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search