Meluruskan Makna Silaturahim: Antara Ikatan Nasab dan Persaudaraan Sosial

Meluruskan Makna Silaturahim: Antara Ikatan Nasab dan Persaudaraan Sosial
*) Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten.
www.majelistabligh.id -

Belakangan ini, pembahasan tentang makna silaturahim kembali ramai diperbincangkan. Sebagian orang mengkritik penggunaan istilah “silaturahmi” yang dianggap terlalu luas. Mereka berpendapat bahwa silaturahim dalam Islam sejatinya hanya berlaku untuk hubungan keluarga atau orang-orang yang memiliki ikatan nasab. Sementara hubungan dengan teman, sahabat, tetangga, atau kolega dinilai tidak tepat disebut silaturahmi.

Pandangan ini sebenarnya memiliki dasar dari sisi bahasa Arab dan kajian istilah syariat. Kata silaturahim berasal dari shilat al-rahim, yakni menyambung hubungan dengan “rahim” atau kerabat sedarah. Karena itu, secara makna asli, silaturahim memang berkaitan erat dengan hubungan keluarga.

Dalam banyak ayat dan hadis, perhatian Islam terhadap hubungan kekerabatan memang sangat besar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan memberi ancaman keras terhadap orang yang memutus hubungan keluarga.

Beliau bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memperlihatkan betapa pentingnya menjaga hubungan dengan keluarga dan kerabat. Maka tidak salah jika ada ulama atau kalangan tertentu yang menegaskan bahwa makna utama silaturahim memang khusus untuk hubungan nasab.

Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika sebagian orang kemudian menyalahkan atau menghakimi masyarakat yang menggunakan istilah “silaturahmi” untuk hubungan sosial secara umum. Di sinilah diperlukan sikap yang lebih bijak dan proporsional.

Dalam perkembangan bahasa, khususnya di Indonesia, istilah silaturahmi telah mengalami perluasan makna. Masyarakat memahaminya sebagai upaya menjalin hubungan baik dengan sesama, baik keluarga, sahabat, tetangga, maupun rekan kerja. Secara linguistik, fenomena seperti ini sangat lazim terjadi dalam perkembangan bahasa dan budaya.

Karena itu, memperdebatkan istilah hingga menimbulkan perpecahan justru bisa menghilangkan esensi ajaran Islam itu sendiri, yaitu menjaga persaudaraan dan akhlak mulia.

Islam tidak hanya memerintahkan hubungan baik dengan keluarga, tetapi juga dengan sesama manusia secara umum. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…” (QS. Al-Hujurat: 10)

Ayat ini menegaskan adanya ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan sesama muslim yang tidak dibatasi hubungan darah. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dikenal sangat menjaga hubungan sosial dengan tetangga, sahabat, dan masyarakat luas.

Karena itu, jika ada yang mengatakan bahwa hubungan baik di luar nasab sama sekali bukan bagian dari nilai silaturahmi, maka pandangan tersebut perlu dilihat secara lebih utuh. Secara istilah syariat mungkin benar bahwa silaturahim berfokus pada kerabat, tetapi secara nilai dan semangat ajaran Islam, hubungan sosial yang baik tetap sangat dianjurkan.

Masalahnya bukan pada istilah semata, melainkan pada substansi. Ironisnya, ada orang yang sibuk memperdebatkan definisi silaturahim, tetapi justru mudah memutus persaudaraan karena perbedaan pendapat. Padahal Islam mengajarkan kelembutan, hikmah, dan persatuan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Mukmin yang bergaul dengan manusia dan sabar atas gangguan mereka lebih baik daripada mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar atas gangguan mereka.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan pentingnya hubungan sosial yang sehat dalam kehidupan seorang muslim.

Karena itu, perlu ada keseimbangan dalam memahami persoalan ini. Mengakui bahwa silaturahim secara khusus berkaitan dengan hubungan nasab adalah benar. Tetapi menghargai penggunaan istilah silaturahmi dalam konteks sosial yang lebih luas juga bukan sesuatu yang keliru selama substansinya tetap mengarah pada kebaikan, persaudaraan, dan kasih sayang.

Jangan sampai umat Islam terjebak dalam perdebatan istilah, tetapi lupa menjaga hati, adab, dan persatuan. Sebab pada akhirnya, Islam datang bukan untuk mempersempit kasih sayang, melainkan untuk memperluas rahmat bagi sesama manusia.(*)

 

Tinggalkan Balasan

Search