Menjadi ibu dituntut untuk bisa memberikan contoh kepada anak. Ibu harus bisa menghadirkan madrasah pertama di tengah keluarga kita di tengah anak-anak kita, sehingga apapun yang dilakukan seorang ibu hanyalah mencari rida Allah.
Era digital adalah pedang bermata dua. Di satu sisi anak kita bisa belajar Al-Qur’an, hadis, dan ilmu lewat genggaman. Di sisi lain, tantangan pergaulan bebas, bullying, konten tidak senonoh, dan pengaruh influencer yang jauh dari nilai Islam juga ada di layar yang sama.
Lalu bagaimana kita membangun bentengnya?
5 Fondasi Benteng Akhlak Ala Rasulullah ﷺ
1. Menjadi Teladan “Ibu yang Penuh Rahmat”
Rasulullah ﷺ adalah manusia paling sibuk mengurus umat, tapi beliau paling lembut ke anak-anak.
Anas bin Malik melayani beliau 10 tahun dan beliau tidak pernah berkata “ah” atau “kenapa kamu lakukan itu”.
Benteng pertama: Anak belajar akhlak bukan dari ceramah, tapi dari yang dia lihat tiap hari di rumah.
2. Menanamkan Ketaatan Dulu, Baru Aturan Gadget
Sebelum kita batasi HP, tanamkan dulu cinta kepada Allah. Rasulullah mendidik dengan tauhid.
Ajak anak shalat berjamaah, tilawah bareng, doa sebelum buka HP.
Kalau hati sudah terikat ke Allah, dia akan malu bermaksiat walau tidak ada orang yang lihat.
3. Mengajarkan “Filter Iman” Saat Bermedia Sosial
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka katakan yang baik atau diam.”
4. Membangun Lingkungan Pertemanan yang Sholeh
Rasulullah ﷺ bersabda: “Seseorang itu di atas agama temannya.”
Arahkan anak ke komunitas ngaji, tahfidz, hadist. Di Les Privat Ngaji & Tahfidz kita bukan hanya baca, tapi juga bahas akhlak dari hadist-hadist pilihan. Lingkungan yang baik akan menguatkan benteng di rumah.
5. Komunikasi Terbuka dengan Kasih Sayang
Jangan jadi orang tua yang hanya melarang. Jadilah seperti Rasulullah yang jadi tempat curhat para sahabat.
Dengarkan, rangkul, lalu arahkan dengan hikmah. Anak yang merasa aman di rumah, tidak akan cari pelarian di luar.
Lima fondasi tersebut diperkuat dengan materi yang disampaikan Ketua Majelis Tabligh PP Aisyiyah Prof. Dr. Hj. Casmini, S.Ag., M.Si dalam kajian PD Aisyiyah Sidoarjo, Ahad (23/8/2026 di Pendopo Pemkab Sidoarjo.
Ada 3 dasar fondasi mendidik anak dalam Al-Qur’an yaitu Surah At-Tahrim ayat 6 bukanlah menjaga anak tetapi jagalah dirimu dan keluargamu. Kemudian Lukman ayat 13 menjelaskan anak harus dibangun dengan Tauhid kepada Allah dan anak harus dekat dengan nasihat. Dan yang terakhir adalah Al-Furqan ayat 74 orang tua yang menjadikan anak qurrota ayun.
Dalam praktiknya, dalam mendidik anak ada sejumlah perlakuan, kalau disingkat menjadi GUYUB.
G guyub
U urun rembuk
Y yakin karena Allah
U ulet mendidik anak
B bersama menjaga pergaulan
Keluarga yang guyub adalah keluarga yang selalu hadir satu sama lain, dan ini tantangan di era zaman ini. Saat ini Hp adalah sebagai alat menuju karier, maka dari itu gunakan Hp unk potensi anak. Adakan bonding dan komunikasi bersama anak minimal 25 menit dalam sehari. Saling berkomunikasi memberikan nasehat menyampaikan keluh kesah antara anggota keluarga.
Urun rembuk, rata-rata orang tua memberlakukan kepada anaknya dengan perkataan “Jangan” idealnya hrs nya dengan konsep pertanyaan, mengapa atau apa, akan ada kelanjutan komunikasi dan bisa saling bercerita.
Yang ketiga adalah Yakin kepada Allah. Bukan artinya pasrah dengan keadaan tetapi harus ada upaya usaha dan tindakan. Anak harus dilatih untuk kuat dan mampu menghadapi karang yang ada depan mata. Karakter perempuan berkemajuan adalah Iman takwa, taat ibadahnya, akhlaq karimah, tajdid dan wasatiyah, amal Sholeh inklusif sikapnya.
Yang keempat adalah ulet mendidik anak.
Ada 4 prinsip dalam mendidik anak, yaitu:
Pertama adalah uswah, berikan uswah adalah contoh yang diberikan Ibu kepada anak. Yang kedua pengulangan secara terus menerus, jangan berhenti memberikan contoh yang baik karena karakter perlu dibentuk secara berulang-ulang dan continue. Anak akan berhasil berani berbicara di depan umum butuh perjuangan dan proses. Untuk menjadi keluarga yang tanggung harus bisa mengalami banyak cobaan dan ujian.
Ketiga adalah urai atau penjelasan dalam keluarga. Membangun anak harus ada uraian dan penjelasan dari orang tua ataupun dari organisasi sosial seperti kajian. Yang keempat pembiasaan.
Terakhir Guyub, bersama menjaga pergaulan, bersama menjaga lingkungan yang positif bagi anak. Anak yang kuat ada dalam lingkaran yang positif. Apa yang dilakukan orang tua akan memantul kepada anak.
“Anak adalah cerminan mu di masa lalu”. Ingin suami baik lakukan hal baik dari dirimu, ingin anak baik lakukan kebaikan dari orang tua terlebih dahulu,” jelasnya. (Nony Anggraeni K. F, SPd)
