Menanti Muktamar Muhammadiyah 2027 di Medan

*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Ada satu tradisi indah yang telah lama mengakar di tubuh Muhammadiyah. Setiap kali pergantian kepemimpinan tiba, yang terasa bukan ketegangan, melainkan kehangatan. Bukan sorak-sorai kemenangan satu kubu atas kubu lain, melainkan pelukan persaudaraan.

Tradisi inilah yang kini kembali menanti untuk dihidupkan dalam Muktamar Muhammadiyah yang dijadwalkan berlangsung pada akhir tahun 2027 mendatang di Medan, Sumatra Utara.

Kota Medan, dengan denyut multikulturalnya yang khas, dengan keramahan masyarakatnya yang terbuka, dan dengan jejak sejarah panjang Muhammadiyah di tanah Sumatra, dipilih bukan tanpa alasan. Di kota inilah, insya Allah, ribuan warga Persyarikatan dari seluruh penjuru Nusantara akan berkumpul—bukan untuk bertanding, melainkan untuk bersilaturrahmi; bukan untuk saling mengalahkan, melainkan untuk saling menguatkan.

Dua Muktamar, Satu Pesan: Damai Itu Indah

Jauh sebelum Muktamar Muhammadiyah 2027 digelar, dua organisasi otonom di bawah naungan Persyarikatan telah lebih dahulu menunaikan hajatan besar mereka. Nasyiatul Aisyiyah, organisasi perempuan muda Muhammadiyah, dan Tapak Suci Putera Muhammadiyah, perguruan bela diri kebanggaan Persyarikatan, sama-sama telah melaksanakan Muktamar dengan suasana yang menyejukkan hati.

Tidak ada kursi yang beterbangan. Tidak ada kata-kata kasar yang melukai. Tidak ada intrik yang memecah belah. Yang ada hanyalah musyawarah yang teduh, pemilihan yang tertib, dan pelukan hangat antara yang terpilih dan yang belum mendapat amanah. Keduanya membuktikan satu hal penting, bahwa Muktamar bukanlah arena pertempuran, melainkan taman silaturrahmi tempat kepemimpinan berganti dengan anggun dan penuh rida.

Apa yang ditunjukkan Nasyiatul Aisyiyah dan Tapak Suci Putera Muhammadiyah ini bukan sekadar formalitas organisasi. Ia adalah cerminan dari nilai-nilai yang telah ditanamkan sejak awal berdirinya Muhammadiyah oleh KH Ahmad Dahlan, bahwa organisasi ini dibangun di atas fondasi keikhlasan, bukan ambisi; di atas semangat kebersamaan, bukan persaingan.

Modal Besar Menuju Medan 2027

Dua Muktamar yang berlangsung tenang, damai, dan penuh kegembiraan itu kini menjadi modal berharga. Ia menjadi bukti hidup bahwa warga Muhammadiyah telah dewasa dalam berdemokrasi. Bahwa suksesi kepemimpinan di lingkungan Persyarikatan tidak harus diwarnai drama, tidak perlu diramaikan oleh saling caci, dan tidak membutuhkan pemenang serta pecundang.

Modal ini akan dibawa ke Medan. Di sana, para peserta Muktamar Muhammadiyah 2027 akan duduk bersama—para ulama, cendekiawan, aktivis sosial, pendidik, dan tokoh masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Mereka akan merumuskan arah gerak Persyarikatan untuk lima tahun ke depan, memilih pemimpin yang akan mengemban amanah, dan memperbarui komitmen untuk terus berkhidmat bagi umat dan bangsa.

Dan semua itu, insya Allah, akan berlangsung dalam suasana yang menggembirakan. Sebab bagi warga Muhammadiyah, Muktamar adalah pesta keluarga besar. Tempat di mana sahabat lama berjumpa kembali, tempat di mana gagasan-gagasan segar dipertukarkan, dan tempat di mana doa bersama dipanjatkan agar setiap langkah organisasi senantiasa dalam lindungan Allah Swt.

Medan Menanti, Muhammadiyah Bersiap

Persiapan menuju Muktamar 2027 terus dimatangkan. Panitia bekerja dalam senyap namun pasti. Kota Medan bersolek menyambut tamu-tamu dari seluruh Indonesia. Infrastruktur dipersiapkan, agenda-agenda dirancang, dan yang terpenting, hati setiap warga Muhammadiyah mulai ditata agar hadir di Muktamar dengan niat yang tulus, mencari yang terbaik untuk Persyarikatan, bukan yang terbaik untuk diri sendiri.

Semangat yang ditunjukkan Nasyiatul Aisyiyah dan Tapak Suci Putera Muhammadiyah akan menjadi napas yang mengalir di setiap sudut arena Muktamar nanti. Bahwa kegembiraan bukan berarti tanpa keseriusan. Bahwa kedamaian bukan berarti tanpa perbedaan pendapat. Bahwa ketenangan bukan berarti tanpa dinamika. Semua bisa berjalan beriringan, selama hati tetap tertaut pada niat yang satu: rida Allah Swt.

Maka, mari kita songsong Muktamar Muhammadiyah 2027 di Medan dengan penuh harap dan sukacita. Bukan sebagai penonton yang menanti drama, melainkan sebagai keluarga besar yang menanti perjumpaan.

Sebab di sanalah, insya Allah, Muhammadiyah akan sekali lagi menunjukkan kepada dunia bahwa pergantian kepemimpinan bisa menjadi perayaan persaudaraan—tenang, damai, dan menggembirakan. Wallahu a’lam bish-shawab. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search