Mendekap Hati Anak: Sinergi Ayah-Bunda Mengubah Rehat Menjadi Berkah

Oleh : Ahmad Afwan Yazid, M.Pd (Anggota LPP PCM Lowokwaru, Anggota Corps Mubaligh Muhammadiyah Malang Raya, Praktisi Pendidikan dan Parenting Keluarga)
*) Oleh : Ahmad Afwan Yazid, M.Pd
Anggota LPP PCM Lowokwaru, Anggota Corps Mubaligh Muhammadiyah Malang Raya, Praktisi Pendidikan dan Parenting Keluarga
www.majelistabligh.id -

Musim liburan sekolah sering kali disambut anak-anak dengan sorak sorai gembira. Namun, bagi sebagian orang tua, momen ini tidak jarang mendatangkan kecemasan tersendiri. Ada kekhawatiran tentang bagaimana mengisi waktu anak agar tidak kecanduan gawai, atau bagaimana menyusun agenda pelesiran yang menguras dompet. Di era modern ini, pergeseran makna liburan marak terjadi; liburan kerap diidentikkan dengan aktivitas hura-hura, pamer kemewahan di media sosial, atau sekadar memuaskan nafsu konsumtif.

Padahal, dalam kacamata Islam, waktu luang, termasuk liburan sekolah adalah sebuah amanah besar yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Liburan seharusnya menjadi jeda yang sakral. Momen ini adalah waktu bagi Ayah dan Bunda untuk melambat sejenak, mendekap kembali hati anak-anak yang mungkin sempat berjarak karena kesibukan harian, serta menanamkan kesadaran bahwa liburan adalah wujud syukur atas nikmat istirahat dari riuhnya dunia.

Sinergi Ayah dan Bunda: Nakhoda Iman di Masa Libur

Pendidikan anak bukanlah tugas tunggal seorang ibu, melainkan proyek peradaban yang harus dikomandani oleh ayah dan didekap oleh bunda. Di tengah masa liburan, kehadiran figur kedua orang tua secara utuh (present) sangat dinantikan oleh anak.

Ayah, sebagai kepala keluarga, berperan menetapkan visi liburan. Kehadiran fisik dan emosional seorang ayah saat menemani anak bermain, berdiskusi, atau berolahraga di hari libur akan memberikan rasa aman serta menguatkan konsep diri anak. Sementara Bunda, dengan kelembutan dan ketelitiannya, berperan mengondisikan atmosfer rumah agar tetap hangat, kreatif, dan penuh kasih sayang selama masa libur.

Ketika Ayah dan Bunda bersinergi hadir seutuhnya tanpa interupsi gawai atau urusan pekerjaan, di situlah bonding (ikatan emosional) yang kuat akan tercipta. Anak-anak tidak membutuhkan liburan yang mewah untuk merasa bahagia; mereka hanya membutuhkan orang tua yang mau mendengarkan cerita mereka, menatap mata mereka dengan penuh cinta, dan tertawa bersama dalam kesederhanaan.

Salah satu tugas terpenting orang tua di masa liburan adalah meluruskan paradigma anak tentang arti “istirahat”. Islam tidak melarang umatnya untuk menyegarkan pikiran (refreshing), namun Islam melarang keras segala bentuk kesia-siaan dan perilaku berlebih-lebihan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 27:

اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra: 27)

Melalui ayat ini, Ayah dan Bunda dapat mengajarkan kepada anak bahwa menghabiskan waktu liburan dengan berfoya-foya, menghamburkan uang untuk hal yang tidak bermanfaat, atau membuang waktu tanpa makna adalah bentuk jebakan setan.

Alih-alih mengajarkan anak untuk berburu kesenangan duniawi yang semu, orang tua bisa mengajak anak merenungkan makna istirahat yang sesungguhnya. Istirahat dalam Islam adalah pergantian dari satu amal saleh ke amal saleh lainnya (tafrijul kurbah). Liburan adalah momentum emas untuk mengistirahatkan jiwa dan raga dari rutinitas sekolah yang padat, guna mengumpulkan energi baru untuk beribadah dan belajar kembali di masa depan.

Menanamkan Rasa Syukur Atas Nikmat Waktu Luang

Waktu luang dan kesehatan adalah dua nikmat yang paling sering melalaikan manusia. Rasulullah SAW telah mengingatkan kita dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu (rugi) di dalam keduanya, yaitu: nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari no. 6412)

Masa liburan sekolah adalah representasi nyata dari “waktu luang” tersebut. Ayah dan Bunda harus memandu anak agar tidak menjadi golongan orang yang merugi. Caranya adalah dengan mengubah aktivitas liburan menjadi madrasah rasa syukur.

Jika keluarga memilih untuk berlibur ke alam terbuka, seperti pantai atau pegunungan, jadikan momentum itu sebagai sarana tadabbur alam. Ajak anak menatap hamparan laut atau kokohnya gunung, lalu hubungkan keindahan tersebut dengan keagungan Allah Sang Pencipta. Dengan demikian, rekreasi tersebut berubah nilai menjadi ibadah yang mempertebal keimanan anak.

Jika anggaran atau kondisi tidak memungkinkan untuk bepergian jauh, rumah bisa disulap menjadi tempat liburan yang penuh berkah. Ayah dan Bunda bisa mengajak anak-anak membaca sirah nabawiyah bersama, memasak menu baru di dapur, melakukan kerja bakti membersihkan rumah, atau memperbanyak hafalan Al-Qur’an. Katakan kepada anak, “Nak, alhamdulillah Allah beri kita waktu libur 3 pekan untuk beristirahat di rumah bersama-sama. Ini adalah hadiah dari Allah agar kita bisa lebih khusyuk beribadah dan berkumpul.”

Untuk mewujudkan liburan yang berkualitas dan bermakna, berikut beberapa langkah taktis yang bisa diterapkan oleh Ayah dan Bunda:

  1. Buat Kesepakatan Bersama (Family Digital Detox): Batasi penggunaan gawai baik bagi anak maupun orang tua selama jam-jam tertentu di hari libur. Alihkan perhatian mereka pada permainan fisik atau obrolan mendalam (deep talk).
  2. Agendakan Silaturahmi: Gunakan waktu libur untuk mengunjungi kakek, nenek, kerabat, atau menjenguk teman yang sakit. Ini adalah cara nyata mengajarkan anak tentang pentingnya menyambung tali persaudaraan.
  3. Ajarkan Berbagi: Ajak anak menyisihkan sebagian uang jajan atau mainan layak pakai mereka untuk disumbangkan ke panti asuhan atau tetangga yang membutuhkan di musim liburan. Ini akan melatih empati dan menjauhkan mereka dari sifat egois.

Liburan sekolah bukanlah lampu hijau untuk membiarkan anak-anak hanyut dalam kemalasan dan kesia-siaan. Di balik keceriaan hari libur, ada peran besar Ayah dan Bunda sebagai pemegang kendali moral dan spiritual keluarga.

Mari jadikan musim liburan kali ini sebagai momen untuk merekatkan kembali tangki ego anak yang kosong, menanamkan untaian adab, serta menyadarkan mereka bahwa rehat sejenak dari riuhnya dunia adalah anugerah besar yang wajib disyukuri. Ketika liburan diisi dengan jalinan kasih sayang orang tua dan rida Allah, maka anak-anak akan kembali ke sekolah tidak hanya dengan tubuh yang segar, tetapi juga dengan jiwa yang matang dan berkarakter mulia. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search