Kampung Nelayan Pantai Kenjeran terletak di Kelurahan Sukolilo Baru, Kecamatan Bulak, wilayah pesisir utara Kota Surabaya. Wilayah ini berbatasan dengan Kelurahan Kenjeran di sebelah utara, Kelurahan Dukuh Sutorejo di selatan, Kelurahan Gading di barat, serta Selat Madura di sebelah timur.
Kelurahan Sukolilo Baru merupakan hasil penggabungan (merger) antara Kelurahan Sukolilo dan Kelurahan Komplek Kenjeran pada 2015. Dengan 41 RT dan 7 RW, wilayah ini mencatatkan luas 1,95 hektar berdasarkan data profil kelurahan, atau 2,31 hektar menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS).
Letak geografis pesisir Kenjeran dikenal kaya akan hasil laut. Wilayah ini diapit dua ikon wisata pantai utama, yaitu Ken Park (Pantai Ria) dan Taman Hiburan Pantai (THP) Kenjeran Lama. Pemerintah Kota Surabaya telah membangun berbagai destinasi baru di kawasan ini—seperti Jembatan Suroboyo, Air Mancur Menari, mural, Kampung Nelayan Warna-Warni, Taman Surabaya, Taman Bulak, hingga Sentra Ikan Bulak—sebagai upaya menata perairan Kenjeran menjadi lebih baik.
Lantas, bagaimana sebenarnya kehidupan para nelayan di sana? Apakah sudah tenang, nyaman, dan sejahtera?
Keinginan mengulas hal ini muncul saat penulis menjemput cucu di kawasan pesisir tersebut. Kala itu, warga sedang menonton film karya remaja setempat. Sebagai putra daerah yang lahir dan besar di Sukolilo, penulis mengapresiasi karya tersebut.
Meski membutuhkan sedikit penyempurnaan pada alur cerita, karya generasi muda ini sangat membanggakan. Momen tersebut mendorong penulis untuk membandingkan kehidupan kampung nelayan Sukolilo masa lalu dan masa kini.
Perubahan Kondisi Lingkungan dan Hasil Laut
Pada era 1980-an, suasana pesisir Sukolilo terasa damai dan asri. Sirkulasi air laut terjaga, ombak datang silih berganti, dan bibir pantai dihiasi pasir lembut. Pantai menjadi arena bermain anak-anak untuk berolahraga hingga bermain petak umpet.
Kini, kondisinya jauh berbeda. Area berpasir telah hilang, berganti dengan hamparan sampah dan limbah yang berserakan. Saat air laut surut, para nelayan kesulitan membawa hasil tangkapan karena tepi pantai dipenuhi lumpur pekat melebihi tinggi lutut.
Hasil tangkapan ikan pun menyusut drastis. Dahulu, jaring nelayan selalu dipenuhi udang, grago (udang kecil), cumi-cumi, rajungan, kepiting, hingga ikan kakap. Menurut tokoh nelayan setempat, pendapatan harian kala itu minimal mencapai Rp1.000.000.
Saat ini, selain hasil tangkapan berkurang, nelayan tidak bisa melaut sebulan penuh karena masih mengandalkan metode penangkapan tradisional. Jaring berbentuk mengerucut sepanjang 15 meter yang digunakan hanya mengandalkan kekuatan arus air. Akibatnya, pada tanggal 19–20 dan 4–5 penanggalan Jawa/Hijriah, nelayan harus terpaksa tidak melaut (marit) karena arus laut terlalu lemah.
Karakteristik dan Pola Hidup Masyarakat
Masyarakat nelayan Sukolilo memiliki beberapa karakteristik sosial yang khas:
- Pola Konsumsi Tergantung Hasil Laut: Saat panen melimpah, nelayan membawa bekal lengkap ke laut, dan perputaran ekonomi pedagang makanan di Sukolilo bergerak cepat. Sebaliknya, saat hasil laut sepi, aktivitas ekonomi warga ikut lesu.
- Ketergantungan pada Pinjaman: Sebagian warga terbiasa mengambil pinjaman—mulai dari warung, bank, hingga rentenir—meski tidak memiliki penghasilan tetap. Hal ini berisiko memicu masalah finansial jangka panjang.
- Pendidikan Belum Menjadi Prioritas: Perhatian terhadap pendampingan belajar anak masih minim, yang terlihat dari tingginya angka tunggakan biaya sekolah. Namun, warga cenderung rela mengeluarkan biaya untuk kegiatan pentas seni atau pertunjukan anak (drumband).
- Pengelolaan Keuangan yang Fluktuatif: Keuangan warga cenderung konsumtif saat musim panen tiba, seperti kebiasaan membeli perhiasan atau barang elektronik. Barang-barang tersebut kerap dijual kembali ketika musim paceklik tiba.
Faktor Penyebab Penurunan Hasil Tangkapan
Berdasarkan analisis warga nelayan setempat, penurunan hasil tangkapan disebabkan oleh beberapa faktor utama:
- Dampak pembuangan lumpur Sidoarjo yang berlangsung terus-menerus.
- Aktivitas reklamasi di kawasan pesisir yang berdampak pada:
- Pendangkalan air laut hingga beberapa mil dari bibir pantai.
- Kerusakan ekosistem dan terumbu karang.
- Penumpukan lumpur pekat di tepi pantai.
- Ketidakseimbangan ekosistem perairan.
Harapan Masa Depan
Pemerintah Kota Surabaya diharapkan segera memberikan solusi nyata. Bagaimanapun, Selat Madura memegang peran vital sebagai jalur pelayaran, kawasan industri, sekaligus wilayah penangkapan ikan yang sebagian lokasinya dikelola dengan konsep konservasi.
Semoga warga Sukolilo dapat terus berkembang melalui pengelolaan hasil laut secara profesional—mulai dari pemrosesan hingga pengemasan yang berdaya saing tinggi—guna meningkatkan nilai jual tangkapan.
Selain itu, kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan pantai harus terus ditingkatkan agar Kampung Nelayan Sukolilo menjadi kawasan yang asri, bersih, dan sejahtera. (*)
