Menghidupkan Kembali HW di Sekolah dan Madrasah Muhammadiyah

Menghidupkan kembali HW.
*) Oleh : Bagus Mustakim dan Agus Sholeh
Anggota Pimpinan Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Hizbul Wathan yang dilaksanakan di lingkungan sekolah dan madrasah Muhammadiyah menjadi salah satu gerakan kepanduan Islam tertua di Indonesia yang hingga kini masih tetap eksis. Organisasi ini sering dibandingkan dengan pramuka, terutama dalam hal sistem dan nilai dasarnya.

Gerakan ini menjadi bagian penting dari sejarah pergerakan nasional, khususnya dalam membina generasi muda melalui pendidikan kepanduan yang terstruktur dalam membangun semangat cinta tanah air di kalangan pemuda.

Di tengah ikhtiar mulia ini, ada ruang perbaikan yang perlu mendapat perhatian bersama, yaitu bagaimana memastikan seragam dan semangat Hizbul Wathan (HW) kembali menjadi pemandangan yang membanggakan di setiap halaman satuan pendidikan Muhammadiyah kita, berdampingan secara harmonis dengan kegiatan kepanduan lainnya.

Temuan dari kegiatan Diksuskamad Muhammadiyah Region DKI Jakarta beberapa waktu lalu patut menjadi bahan renungan. Sekitar 25–30 persen madrasah peserta masih menggunakan seragam Pramuka. Bahkan, sebagian peserta belum mengetahui identitas dasar HW, termasuk warna seragamnya.

Angka tersebut memang tidak bisa serta-merta digeneralisasi untuk seluruh sekolah dan madrasah Muhammadiyah. Namun, ia cukup menjadi alarm bahwa ada pekerjaan rumah yang perlu segera kita selesaikan.

Sebab, HW bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler. Ia merupakan organisasi otonom Muhammadiyah yang lahir pada 22 Desember 1918. Dalam perjalanan Muhammadiyah, kepanduan merupakan salah satu wahana penting untuk membentuk karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, kemandirian, dan semangat pengabdian peserta didik.

Dari Kebijakan ke Kehidupan Nyata

Secara kebijakan, posisi HW sebenarnya sudah cukup jelas. Kerangka Pendidikan Muhammadiyah menempatkan HW dan Tapak Suci sebagai ekstrakurikuler wajib di satuan pendidikan Muhammadiyah. Penguatan karakter kemuhammadiyahan juga mendapat ruang dalam Kurikulum ISMUBA 2024, termasuk melalui kegiatan ekstrakurikuler dan pembiasaan.

Persoalannya adalah bagaimana kebijakan tersebut hadir dalam kehidupan nyata di sekolah dan madrasah. Di lapangan, sedikitnya ada lima persoalan yang perlu diperhatikan.

Pertama, belum meratanya pelatihan bagi pembina HW. Tanpa pembina yang memiliki kompetensi dan pemahaman yang memadai, kegiatan HW mudah berhenti sebagai kegiatan formalitas.

Kedua, belum optimalnya peran Kwarda HW dalam memberikan pelatihan, pendampingan, dan pengembangan program bagi sekolah dan madrasah.

Ketiga, masih terbatasnya literasi tentang HW di kalangan pimpinan satuan pendidikan. Tidak semua kepala sekolah dan kepala madrasah memahami secara utuh posisi strategis HW dalam sistem pendidikan Muhammadiyah.

Keempat, banyak guru yang sudah memiliki pengalaman dalam kegiatan Pramuka, sementara pengalaman mereka dalam HW belum berkembang. Kondisi ini sebenarnya tidak perlu dilihat sebagai persaingan. Justru pengalaman tersebut dapat menjadi modal untuk mengembangkan HW dengan memberikan penguatan nilai-nilai dan identitas Kemuhammadiyahan.

Kelima, kebijakan tentang HW belum selalu diterjemahkan menjadi instrumen teknis, target, pendampingan, dan evaluasi yang jelas.

Kelima persoalan tersebut menunjukkan bahwa menghidupkan HW tidak cukup dengan imbauan. Diperlukan kebijakan yang jelas, pembinaan yang sistematis, dan pendekatan pendidikan yang membuat anak-anak merasa bahwa HW memang menarik dan bermakna bagi kehidupan mereka.

HW sebagai Laboratorium Pembelajaran

HW memiliki modal pedagogis yang sangat kuat untuk menghadirkan pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful. Di sinilah konsep Deep Learning menemukan relevansinya.

Mindful learning dapat dimulai dari kesadaran bahwa setiap aktivitas kepanduan memiliki nilai. Ketika anak belajar membuat simpul, misalnya, ia tidak sekadar belajar keterampilan teknis. Ia dapat diajak bertanya yaitu untuk apa keterampilan ini? Bagaimana keterampilan tersebut dapat digunakan untuk membantu orang lain?

Meaningful learning membuat materi kepanduan tidak berhenti pada hafalan. Pionering, pertolongan pertama, navigasi, kerja kelompok, dan berbagai keterampilan lainnya dapat dipelajari melalui pengalaman nyata, pemecahan masalah, praktik lapangan, dan refleksi.

Sementara itu, joyful learning menjadikan latihan, permainan, perkemahan, lomba, dan kegiatan seni sebagai pengalaman yang menyenangkan. Dalam suasana seperti itu, disiplin, tanggung jawab, kerja sama, keberanian, dan kepemimpinan tidak perlu terus-menerus diceramahkan. Anak belajar mengalaminya.

Dengan demikian, HW sesungguhnya dapat menjadi salah satu laboratorium terbaik untuk mewujudkan pembelajaran mendalam di sekolah dan madrasah Muhammadiyah.

Namun, metode saja tidak cukup. Pendidikan membutuhkan ruh. Di sinilah Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dapat memberikan perspektif baru dalam pembinaan HW.

Pembina HW perlu hadir bukan sekadar sebagai komandan yang memberi instruksi, tetapi sebagai murabbi yang mendampingi pertumbuhan anak. Ketegasan tetap diperlukan, tetapi ketegasan tidak harus berjarak dengan kasih sayang.

HW tidak hanya mengajarkan keterampilan. HW menjadi pengalaman pendidikan yang membentuk karakter dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap Muhammadiyah.

Guru Pembina

Gagasan besar harus diterjemahkan menjadi langkah yang sederhana dan realistis. Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan adalah sekolah dan madrasah Muhammadiyah harus mempunyai Dua Pembina HW. Setiap satuan pendidikan didorong memiliki sedikitnya dua guru yang mendapatkan pelatihan dasar kepanduan HW.

Majelis Dikdasmen bersama Kwarda HW dapat mengembangkan pelatihan yang praktis dan mudah direplikasi di tingkat daerah. Targetnya sederhana yaitu setiap sekolah dan madrasah memiliki pembina, memiliki jadwal kegiatan, dan memiliki program HW yang berjalan.

Pada saat yang sama, Kwarda HW perlu diperkuat sebagai rumah pembinaan. Kwarda tidak cukup hanya memiliki struktur kepengurusan. Ia harus hadir dengan program pelatihan, jambore, pendampingan, dan jejaring antarsatuan pendidikan.

Literasi HW juga perlu diperluas. Sejarah HW, identitas, AD/ART, seragam, prinsip kepanduan, serta capaian pembinaan perlu dikemas dalam bahan yang sederhana dan mudah diakses oleh kepala sekolah, kepala madrasah, guru, pembina, orang tua, dan peserta didik.

Yang tidak kalah penting adalah membangun sinergi dengan mereka yang selama ini aktif di Pramuka. Mereka adalah pihak yang harus diajak berkolaborasi. Pengalaman mereka justru dapat menjadi kekuatan untuk membesarkan HW, dengan memberikan orientasi tentang nilai-nilai dan identitas kepanduan Muhammadiyah.

HW akan menjadi program yang menarik bagi para siswa di sekolah dan madrasah Muhammadiyah apabila dikelola secara serius. Apalagi HW dapat terhubung dengan pembiasaan dalam Kurikulum ISMUBA 2024.

Pada fase awal, anak dibiasakan dengan disiplin, doa, salam, kerja sama, dan nilai dasar kepanduan. Pada fase berikutnya, mereka mengembangkan keterampilan dan kepemimpinan regu. Pada fase yang lebih tinggi, mereka dapat diarahkan pada kegiatan pengabdian masyarakat, pendampingan adik kelas, dan proyek kepemimpinan.

Dengan demikian, HW tidak berdiri sendiri sebagai kegiatan tambahan setelah jam pelajaran. Ia menjadi bagian dari ekosistem pendidikan Muhammadiyah.

Tentu saja, semua itu membutuhkan keberanian untuk bergerak bersama. Majelis membutuhkan kebijakan yang jelas. Kwarda membutuhkan revitalisasi. Sekolah dan madrasah membutuhkan pembina. Guru membutuhkan pelatihan. Dan anak-anak membutuhkan pengalaman HW yang menyenangkan sekaligus bermakna.

Menghidupkan kembali HW bukan sekedar melanjutkan program masa lalu. Ini adalah ikhtiar mempersiapkan generasi Muhammadiyah untuk masa depan.

Kita membutuhkan anak-anak yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh, mandiri, mampu bekerja sama, memiliki kepedulian sosial, berani mengambil tanggung jawab, dan memiliki komitmen terhadap nilai-nilai Islam berkemajuan. Dan HW memiliki semua modal itu.

Karena itu, sudah saatnya halaman sekolah dan madrasah Muhammadiyah kembali menjadi ruang tumbuh bagi Pandu HW.

HW bukan sekadar seragam. HW bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler. HW adalah bagian dari ikhtiar Muhammadiyah menanamkan karakter, kepemimpinan, dan semangat pengabdian. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search