Mengingat Kematian di Tengah Pesta

Mengingat Kematian di Tengah Pesta
*) Oleh : Agus Rosid
Pekerja Sosial
www.majelistabligh.id -

Suasana berkabung sering dijadikan momentum untuk mengingatkan adanya kehidupan abadi. Di situlah nanti tempat untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kita selama hidup di dunia.

Namun masalahnya, mengapa harus menunggu saat seperti itu untuk mengingat kematian? Memang tidak salah, karena pada saat berkabung ada contoh peristiwa nyata yang bisa dijadikan pengingat.

Pertanyaannya kemudian: mengapa tidak di tengah suasana pesta yang penuh kebahagiaan atau pun kemeriahan? Bukankah di momen ini kita sering melalaikan sakaratul maut, suatu peristiwa yang mutlak mustahil terulang lagi dalam siklus kehidupan di dunia.

Kematian bagi yang bernyawa adalah sebuah keniscayaan sebagaimana diingatkan dalam beberapa ayat di kitab suci. Bahkan kita tidak bisa menghindar apabila ajal itu tiba, meskipun dengan berlindung di benteng pertahanan yang tinggi dan kokoh: “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An-Nisa:78).

Namun yang terjadi, justru sebagian kita seolah menganggapnya bukan peristiwa yang mencekam, sehingga tidak dibutuhkan persiapan jauh-jauh hari. Bukannya jadi peringatan, kematian malah disepelekan sebagai peristiwa alam biasa yang akan terus berlangsung selama dunia masih ada.

Banyak orang seolah lupa bahwa saat hari itu tiba, tidak akan bisa diundur meskipun sekejap. Seberapa pun kuasa, mau tidak mau ia akan menghadapi kematian. Ia tidak bisa menolak dan menahan malaikat maut sedetik pun. Bahkan, jabatan dan kekayaan yang dimiliki serta pasukan pengawal pribadi tidak akan bisa melindungi dirinya.

Semua tameng yang dibangun di dunia akan runtuh begitu ajal tiba, tanpa tawar-menawar. “Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah, Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah: 8).

Ayat ini memberikan pesan tersirat bahwa cukuplah kematian sebagai pengingat. Ini artinya, saatnya bagi kita untuk kembali mengenali diri akan tugas dan tanggung jawab sebagai manusia. Jika tidak, kita akan terus terlena dan hanyut dalam hiruk-piruk kesenangan dunia, yang pada akhirnya berujung pada penyesalan yang sia-sia.

Bayangkan jika kita menjadi saksi hidup: di tengah pesta pora, alunan musik, dan gelak tawa, tiba-tiba menjadi mencekam saat kapal yang ditumpangi menghantam gunung es, air laut dingin datang menelan semuanya. Bukankah itu sudah lebih dari cukup sebagai pengingat? Sebagai pemutus kenikmatan?

Ini pelajaran nyata yang pernah terjadi 15 April 1912. Kapal “yang tak akan tenggelam” itu, Titanic, mengalami karam di tengah Samudra Atlantik. Ribuan orang yang semalam berpesta di ballroom mewah, paginya sudah tak bernyawa lagi. Uang, jabatan, dan teknologi paling canggih saat itu tak bisa menunda sakaratul maut sedetik pun.

Siapa sangka, kemeriahan pesta berakhir menjadi sebuah tragedi. Ini semestinya menjadi pelajaran bahwa maut tidak pernah memilih tempat dan waktu. Ia akan terus mengintai, justru di saat kita paling lengah karena bahagia.

Di situlah jawabannya. Mengapa di suasana penuh kebahagiaan kita sering melalaikan kematian? Karena kita terlena. Kita lupa bahwa harta yang dikumpulkan tak bisa menambah satu menit pun usia, juga tak bisa membeli pertolongan saat malaikat maut datang menjemput. Maka jangan berlebihan dan jangan lengah. Kematian pasti datang tanpa kenal momen; di saat bahagia pun, pasti menghampiri.

Mengingat kematian tidak lantas membuat kita pasrah lalu menarik diri dari keramaian dunia. Bukan begitu maksudnya. Hidup justru harus tetap dijalani dengan semangat. Tanggung jawab sebagai khalifatul fil ardh tetap melekat selama hayat masih di kandung badan. Bekerja, berkarya, bersilaturahmi, dan tentu saja menikmati segala sesuatu yang halal adalah bagian dari wujud syukur atas amanah yang Allah berikan.

Namun, kita tidak boleh serta-merta lupa setelah itu. Saat kematian tiba, pejabat, artis, pedagang, hingga santri akan memiliki kedudukan yang sama di hadapan malaikat penanya amal. Di titik ini, semua atribut dunia lenyap seketika. Yang tersisa hanya amal yang mendampingi di liang lahat. Sedangkan di hadapan keluarga dan karib kerabat, yang tersisa hanyalah sebutan “almarhum”—tanpa embel-embel apa pun.

Maka aneh jika kita masih sibuk berlomba mengejar kenikmatan dunia yang fana ini, sementara bekal untuk perjalanan panjang justru kita lalaikan: “Kesenangan dunia itu sedikit, dan akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertakwa.” (QS. An-Nisa: 77).

Dengan mengingat kematian, kita menjadi rendah hati. Kita sadar, semua yang kita banggakan hari ini bisa jadi hanya tinggal cerita orang lain esok hari. Kematian adalah penutup kenikmatan duniawi. Jangan sampai datang saat kita lengah, lalu menjadi penyesalan yang tiada berguna.

Mari kita jadikan pesan bijak ini sebagai inspirasi: hidup secukupnya di dunia, seolah kita akan mati besok. Dan beramal sebanyak-banyaknya untuk akhirat, seolah kita akan hidup selamanya.

Pada akhirnya, cukuplah kematian sebagai pengingat. Sebelum pengingat itu datang dan tidak lagi menyisakan kesempatan untuk memperbaiki apa yang telah diperbuat. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search