Menjaga masa depan anak bangsa bukanlah perkara mudah. Di tengah derasnya arus informasi dan teknologi, anak-anak dan remaja tumbuh dalam lingkungan yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka dapat menemukan berbagai informasi hanya melalui layar ponsel, termasuk informasi tentang tubuh, relasi, seksualitas, dan kesehatan reproduksi, yang selama ini masih dianggap tabu oleh kalangan orang tua.
Persoalannya bukan semata-mata pada banyaknya informasi, tetapi pada kualitas dan kemampuan anak dalam menyaringnya. Tidak semua informasi benar, sesuai usia, atau membawa pesan tanggung jawab. Algoritma media sosial bahkan sering bergerak lebih cepat daripada nasihat orang tua dan guru.
Kita bisa melihat persoalan ini dari hal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika mengunjungi minimarket yang saat ini banyak di sekitar kita, berbagai produk kesehatan seksual, yang dikenal dengan alat kontrasepsi, kini dapat ditemukan secara terbuka. Produk tersebut tentu memiliki fungsi kesehatan dan dalam konteks tertentu memang dibutuhkan.
Yang menjadi, kenapa produk alat kontrasepsi itu begitu terbuka dan mudah diakses? Dan apakah keterbukaan akses tersebut akses diikuti dengan literasi nilai-nilai agama, pendidikan, dan pendampingan yang memadai bagi remaja? Jangan sampai anak remaja kita memperoleh informasi lebih cepat daripada kemampuan orang dewasa untuk mendampinginya.
Menjaga dengan Ilmu dan Iman
Islam tidak memisahkan ilmu dari iman. Pengetahuan harus membimbing manusia kepada tanggung jawab, sementara iman memberikan arah dan nilai dalam menggunakan pengetahuan tersebut.
Setidaknya ada tiga bekal penting yang perlu diberikan kepada remaja.
Pertama, pemahaman tentang tubuh dan fitrah. Remaja perlu mengenali perubahan fisik dan psikologis yang mereka alami. Mereka perlu memahami bahwa tubuh adalah bagian dari amanah Allah dan memiliki martabat yang harus dihormati. Manusia ada ciptaan Allah Swt yang sempurna. Karena itu pengetahuan yang benar akan membantu mereka tidak mudah percaya pada informasi yang keliru.
Kedua, keterampilan hidup. Remaja perlu belajar mengelola emosi, memilih pergaulan, menjaga batas diri, menolak ajakan yang berisiko, serta menggunakan media digital secara bijak. Pengetahuan saja sering tidak cukup ketika mereka menghadapi tekanan teman sebaya atau derasnya arus informasi.
Ketiga, visi masa depan. Masa muda adalah masa untuk belajar, bertumbuh, berprestasi, dan mempersiapkan masa depan. Pernikahan merupakan bagian penting dalam kehidupan dan dalam Islam merupakan ibadah. Namun, pernikahan juga membutuhkan kesiapan fisik, mental, ilmu, dan tanggung jawab. Menunda bukan berarti menolak, melainkan dapat menjadi bagian dari proses menyiapkan diri secara matang.
Tiga Benteng yang Perlu Diperkuat
Pendidikan kesehatan reproduksi tidak akan efektif jika hanya dilakukan melalui seminar atau penyuluhan sesekali. Kita membutuhkan ekosistem yang bekerja bersama. Setidaknya ada tiga benteng yang perlu diperkuat: keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Pertama, keluarga. Rumah adalah madrasah pertama. Orang tua tidak harus menjadi pakar kesehatan untuk memulai percakapan. Yang dibutuhkan anak adalah ruang aman untuk bertanya tanpa takut dihakimi.
Kedua, sekolah. Pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah tidak boleh berhenti pada penjelasan biologis semata. Ia perlu menyentuh dimensi nilai, psikologi, relasi sosial, perlindungan diri, dan tanggung jawab, dengan materi yang sesuai usia dan tahap perkembangan peserta didik.
Ketiga, masyarakat. Remaja hidup dalam dua dunia sekaligus, yaitu dunia nyata dan dunia maya. Karena itu, pendidikan dan dakwah juga harus hadir di ruang digital dengan bahasa yang dekat dengan anak muda.
Konten singkat tentang penghargaan terhadap diri, siniar bersama ahli, infografis kesehatan, maupun kisah inspiratif anak muda dapat menjadi alternatif terhadap derasnya konten yang tidak sehat. Tokoh masyarakat, pemuda masjid, kader, dan organisasi perempuan juga perlu hadir sebagai teladan sekaligus pendamping.
Peran Strategis Nasyiatul ‘Aisyiyah
Dalam konteks inilah peran Nasyiatul ‘Aisyiyah menjadi sangat strategis. Sebagai gerakan remaja perempuan berkemajuan yang memiliki akar kuat dalam pendidikan, kesehatan, keluarga, dan kehidupan masyarakat, dia memiliki modal sosial yang besar untuk membangun ekosistem edukasi dan pendampingan kesehatan reproduksi remaja.
Gerakan ini tidak cukup berhenti pada seminar. Yang dibutuhkan adalah keluarga yang terbuka, sekolah yang aman, kader yang memiliki kapasitas, komunitas yang peduli, serta ruang digital yang menghadirkan narasi positif.
Jaringan pendidikan, amal usaha, layanan kesehatan, majelis taklim, komunitas perempuan, hingga lingkungan keluarga dapat menjadi ruang strategis untuk membangun gerakan tersebut. Dengan pendekatan yang sistematis dan berkelanjutan, pendidikan kesehatan reproduksi dapat ditempatkan bukan sebagai isu yang menakutkan, melainkan sebagai bagian dari ikhtiar membangun manusia yang sehat, berkarakter, dan bertanggung jawab.
Dalam membahas isu ini, kita juga perlu menghindari dua ekstrem.
Ekstrem pertama adalah sikap tertutup yang menganggap kesehatan reproduksi sebagai sesuatu yang tabu dan tidak layak dibicarakan. Sikap seperti ini dapat membuat remaja mencari jawaban dari sumber yang keliru. Ekstrem kedua adalah sikap permisif yang menempatkan kebebasan tanpa tanggung jawab sebagai ukuran utama.
Islam menawarkan jalan yang seimbang yaitu jalan ilmu, iman, dan kasih sayang. Kita berbicara secara terbuka dan ilmiah, tetapi tetap berpijak pada nilai agama, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Kita tidak menakut-nakuti, tetapi juga tidak membiarkan.
Menjaga Hari Ini, Menyiapkan Masa Depan
Pada akhirnya, menjaga kesehatan reproduksi remaja adalah investasi jangka panjang untuk memperkuat keluarga dan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Remaja yang mampu menjaga dirinya, menyelesaikan pendidikan, merencanakan masa depan, dan kelak membangun keluarga dengan kesiapan yang baik adalah modal penting bagi lahirnya generasi berikutnya yang lebih sehat dan berkualitas.
Pemerintah memiliki berbagai program edukasi dan pendewasaan usia perkawinan. Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah memiliki gerakan keluarga sakinah serta jaringan pendidikan, kesehatan, dan amal usaha yang luas. Tantangannya adalah mempertemukan berbagai kekuatan tersebut dalam kerja nyata yang berbasis data, berkelanjutan, dan terus dievaluasi.
Kita perlu mengubah cara pandang terhadap remaja. Jangan melihat mereka semata-mata sebagai kelompok yang rawan masalah. Remaja adalah kekuatan masa depan. Mereka bukan masalah yang harus ditakuti, melainkan generasi yang harus dipercaya, didampingi, dan dipersiapkan.
Ketika kita menjaga kesehatan reproduksi remaja hari ini, sesungguhnya kita sedang merajut mimpi besar keluarga dan bangsa yaitu melahirkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, berakhlak, mandiri, dan berkemajuan.
Karena itu program kolaborasi antara Nasyiatul ‘Aisiyah dan UNFPA dalam penanganan Kesehatan Reproduksi Remaja, yang didukung oleh Majelis Dikdasmen PNF Muhammadiyah, layak untuk diteruskan agar hasil pemetaan dan modul-modul yang dihasilkan dapat mengedukasi dan membimbing remaja-remaja di sekolah dan madrasah Muhammadiyah dengan lebih baik.
Menjaga masa depan anak bangsa memang bukanlah perkara mudah. Di sinilah kolaborasi antara Majelis Dikdasmsen PNF PP Muhammadiyah, Nasyiatul “Aisiyah dan Lembaga Pengembangan Pondok Pesantren (LP2P) Muhanmadiyah amat ditunggu kiprahnya untuk sekolah, madrasah dan pesantren Muhammadiyah. (*)
