Pendidikan Muhammadiyah diminta tidak terlena dengan capaian besar yang telah diraih selama ini. Sebagai tulang punggung pendidikan swasta di Indonesia, sekolah-sekolah Muhammadiyah dipacu untuk terus berinovasi dan melepaskan diri dari zona nyaman demi melahirkan generasi unggul berkemajuan.
Pesan tersebut disampaikan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, saat memberikan pengarahan dalam Konsolidasi Pendidikan Muhammadiyah Jawa Timur. Acara bertajuk “Transformasi Pendidikan Bermutu untuk Semua: Mewujudkan Sumber Daya Unggul Berkemajuan” tersebut digelar di Aula Mas Mansyur, Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Surabaya, Rabu (29/7/2026).
Di hadapan ratusan pengelola pendidikan, Abdul Mu’ti menegaskan betapa besarnya kontribusi Muhammadiyah bagi bangsa. Berdasarkan data Kemendikbudristek, Muhammadiyah mengelola ribuan unit sekolah dan madrasah dari tingkat dasar hingga menengah di seluruh Indonesia, belum termasuk ribuan PAUD dan ratusan perguruan tinggi. Dominasi ini menempatkan Muhammadiyah di peringkat teratas penyelenggara sekolah swasta berprestasi.
“Saya tidak merasa terbebani oleh Muhammadiyah, justru Muhammadiyah yang banyak membantu saya. Muhammadiyah paling banyak menyelenggarakan pendidikan dan kualitasnya bagus-bagus. Namun, sekolah yang di bawah jangan merasa nyaman, harus terus dipacu untuk meningkatkan kualitasnya,” ujar Abdul Mu’ti disambut tepuk tangan hadirin.
Dalam paparannya, Mendikdasmen menyoroti pentingnya pendidikan holistik-integratif yang berfokus pada pendekatan well-being. Pendidikan ideal tidak boleh hanya mengasah kecerdasan otak, melainkan harus menyentuh empat fitrah dasar manusia: fitrah diniyah (keagamaan), fitrah akal, fitrah hati (emosional), serta fitrah fisik. Menurutnya, keseimbangan empat dimensi ini adalah kunci mencetak manusia yang cerdas, terampil, dan mandiri.
Secara khusus, ia membedah pentingnya peran sekolah sebagai pemandu bakat (talent scouting). Ia mencontohkan fenomena bintang muda sepak bola dunia, Lamine Yamal, yang mampu mengangkat nama negaranya di panggung global berkat bakat yang dimaksimalkan sejak dini serta rasa bangga akan identitasnya sebagai muslim.
“Pendidikan Muhammadiyah harus mampu menemukan bakat-bakat tersembunyi dari para muridnya. Seorang individu bisa melambungkan nama negaranya karena bakatnya diasah dengan benar. Berikan ruang seluas-luasnya agar anak-anak kita bisa tampil dan berprestasi,” tegasnya.
Pengembangan bakat ini, lanjut Mu’ti, wajib dimulai sedini mungkin dari jenjang PAUD dan TK. Jenjang dasar inilah yang menjadi pondasi utama penentu keberhasilan anak di tingkat pendidikan selanjutnya. Sebagai bentuk dukungan nyata pemerintah terhadap pendidikan usia dini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menargetkan program Satu Desa Satu PAUD/TK, sekaligus menyalurkan Program Indonesia Pintar (PIP) bagi siswa TK, karena pada tingkat ini masuk dalam ekosistem wajib balajar 13 tahun.
Perhatian pada pendidikan usia dini ini juga diiringi komitmen untuk memperhatikan kesejahteraan para pendidik di tingkat paling dasar tersebut. “Guru PAUD itu tantangannya paling besar. Mengajarnya susah, dan tak jarang hidupnya pun masih susah. Ini yang harus terus kita perbaiki bersama,” ungkapnya.
Mengakhiri arahannya, Abdul Mu’ti mengajak seluruh barisan pengelola pendidikan Muhammadiyah untuk terus menjaga ethos dan spirit sebagai pelopor pendidikan nasional. Muhammadiyah diharapkan tidak sekadar menjadi penyelenggara sekolah terbanyak, melainkan terus menjadi pembuka jalan bagi lahirnya teladan-teladan baru menuju Indonesia Emas. || chusnun
