Enam dekade lebih satu tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah organisasi kesiapsiagaan seperti KOKAM (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah). Sejak lahir pada 1 Oktober 1965, KOKAM telah melewati berbagai dinamika sejarah bangsa Indonesia. Kini, memasuki usia ke-61 pada tahun 2026, KOKAM menghadapi tantangan yang semakin kompleks dan berbeda dibandingkan masa-masa sebelumnya.
Perubahan sosial, perkembangan teknologi digital, derasnya arus informasi, serta berbagai persoalan kebangsaan menuntut KOKAM untuk terus beradaptasi. KOKAM tidak cukup hanya dipahami sebagai kekuatan yang memiliki kesiapsiagaan fisik, tetapi juga perlu hadir sebagai kekuatan sosial, intelektual, dan kemanusiaan.
Semangat “KOKAM Tangguh Menjaga Persatuan, Membangun Peradaban Bangsa” menjadi sangat relevan untuk direnungkan pada Milad KOKAM ke-61. KOKAM memiliki tanggung jawab untuk ikut merawat persatuan sekaligus mengambil bagian dalam membangun peradaban bangsa yang berkemajuan.
Peradaban sebuah bangsa tidak hanya dapat dilihat dari megahnya pembangunan fisik dan infrastruktur. Peradaban sejati juga tercermin dari kualitas manusia, etika publik, kepedulian terhadap sesama, penghormatan terhadap perbedaan, serta kuatnya persatuan di tengah keberagaman.
Bagi Muhammadiyah, persatuan bukan berarti menghilangkan perbedaan atau memaksakan keseragaman. Persatuan adalah kemampuan untuk hidup berdampingan, saling menghormati, dan bekerja bersama untuk menghadirkan kemaslahatan bagi bangsa.
Dalam konteks tersebut, pendidikan menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun persatuan. Sejarah menunjukkan bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak dapat dilepaskan dari kualitas pendidikan dan budaya ilmu yang dimilikinya. Masyarakat yang memiliki kemampuan berpikir kritis dan tradisi literasi akan lebih mampu menghadapi perubahan zaman.
Hal ini sejalan dengan semangat Islam Berkemajuan yang dikembangkan Muhammadiyah. Memajukan bangsa harus dimulai dari upaya mencerdaskan kehidupan masyarakat, mencerahkan akal budi, meningkatkan kualitas pendidikan, serta membangun manusia yang berilmu dan berakhlak.
Musuh persatuan tidak selalu berbentuk konflik terbuka. Pada era digital, ancaman terhadap persatuan dapat muncul melalui hoaks, provokasi, fanatisme buta, ujaran kebencian, polarisasi, dan informasi yang sengaja digunakan untuk mempertentangkan masyarakat.
Karena itu, KOKAM perlu memperluas makna kesiapsiagaan. Kesiapsiagaan tidak hanya berarti siap secara fisik ketika menghadapi keadaan darurat, tetapi juga siap secara intelektual dan sosial menghadapi berbagai persoalan masyarakat.
Anggota KOKAM harus memiliki kemampuan untuk memahami persoalan, memilah informasi, menggunakan media sosial secara bijak, serta menjadi bagian dari masyarakat yang menjaga komunikasi publik tetap sehat. Dengan demikian, kesiapsiagaan KOKAM dapat berkembang dari kesiapsiagaan fisik menuju kesiapsiagaan peradaban.
KOKAM sebagai Perekat Persatuan dan Pelayan Kemanusiaan
Sebagai bagian dari gerakan pemuda Muhammadiyah, KOKAM memiliki ruang pengabdian yang luas. Kemanusiaan, kebencanaan, dan ekologi merupakan bagian penting dari pengabdian yang dapat memperkuat hubungan KOKAM dengan masyarakat.
Dalam bidang kemanusiaan, KOKAM hadir untuk membantu sesama tanpa menjadikan perbedaan latar belakang sebagai penghalang. Ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, yang dikedepankan adalah nilai kemanusiaan dan kemaslahatan.
Begitu pula dalam bidang kebencanaan. Indonesia merupakan negara yang memiliki berbagai potensi bencana sehingga kesiapsiagaan masyarakat menjadi kebutuhan bersama. KOKAM dapat mengambil peran melalui edukasi, respons kebencanaan, pelayanan masyarakat, hingga membantu proses pemulihan setelah bencana.
Persatuan juga tidak dapat dipisahkan dari kepedulian terhadap lingkungan. Kerusakan ekologi pada akhirnya dapat memengaruhi kehidupan sosial dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab bersama untuk menjaga masa depan bangsa.
Bagi KOKAM Kabupaten Sukoharjo, Milad ke-61 dapat menjadi momentum untuk memperkuat kembali kapasitas kader. KOKAM perlu terus melahirkan anggota yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga memiliki wawasan luas, kemampuan intelektual, kepedulian sosial, kecakapan digital, serta kesiapan untuk mengabdi kepada masyarakat.
Seragam loreng dan baret KOKAM memang menjadi identitas yang kuat. Namun, makna di balik identitas tersebut jauh lebih penting. Ketegasan, kedisiplinan, keberanian, dan kesiapan harus diterjemahkan menjadi kerja nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Medan pengabdian KOKAM hari ini semakin luas. Selain membantu masyarakat dalam situasi kebencanaan dan kemanusiaan, KOKAM juga perlu mengambil bagian dalam menghadapi tantangan informasi digital, menjaga nalar sehat masyarakat, memperkuat literasi, serta mencegah berkembangnya narasi yang dapat memecah persatuan.
Inilah bentuk kesiapsiagaan peradaban yang perlu dibangun. KOKAM harus siap menjaga bukan hanya keamanan fisik, tetapi juga tenun sosial dan persatuan bangsa agar tidak mudah terkoyak oleh provokasi, kedangkalan berpikir, maupun kepentingan kelompok yang sempit.
Pada akhirnya, Milad KOKAM ke-61 bukan sekadar peringatan bertambahnya usia organisasi. Milad adalah momentum untuk melakukan refleksi sekaligus meneguhkan kembali komitmen pengabdian.
KOKAM dapat terus menjadi perekat persatuan, pelayan kemanusiaan, penjaga lingkungan, serta bagian dari gerakan mencerdaskan masyarakat. Dengan berpegang pada nilai-nilai Muhammadiyah dan semangat Islam Berkemajuan, KOKAM dapat terus mengambil peran dalam membangun masyarakat yang berilmu, tangguh, peduli, dan mampu hidup dalam keberagaman.
Tidak ada peradaban besar yang dapat dibangun oleh bangsa yang terus-menerus terpecah. Karena itu, menjaga persatuan merupakan bagian penting dari ikhtiar membangun masa depan Indonesia.
Selamat Milad ke-61 KOKAM.
KOKAM Tangguh Menjaga Persatuan, Membangun Peradaban Bangsa.
Terus tegap menjaga semesta, ikhlas mengabdi untuk kemajuan bangsa.
