Menyemai Soko Guru Peradaban: TPQ dan Akselerasi Kaderisasi Persyarikatan

Menyemai Soko Guru Peradaban: TPQ dan Akselerasi Kaderisasi Persyarikatan
*) Oleh : Agus Salim,
Ketua PCPM Purwokerto Selatan
www.majelistabligh.id -

Gerakan Muhammadiyah bukanlah sekadar organisasi yang hidup dari tumpukan berkas administrasi atau rutinitas formalitas. Ia adalah sebuah gerakan hidup—sebuah organisme dakwah yang menuntut pasokan energi tanpa henti.

Di tengah disrupsi zaman yang kian menggerus moralitas, masa depan cita-cita luhur menuju “Masyarakat Islam yang Sebenarnya” berada di pundak satu kata kunci: Kaderisasi. Dan dalam bentang arsitektur dakwah Muhammadiyah, Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) adalah fondasi paling awal sekaligus paling krusial untuk menyemai para soko guru peradaban Islam.

Fondasi Qur’ani dan Estetika Kaderisasi
Ikhtiar menyemai kader sejati telah diabadikan dengan begitu puitis sekaligus perkasa oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَىٰهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنًا ۖ سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ ٱلسُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى ٱلتَّوْرَىٰةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِى ٱلْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْـَٔهُۥ فَـَٔازَرَهُۥ فَٱسْتَغْلَظَ فَٱسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ يُعْجِبُ ٱلزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ ٱلْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak jengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29)

Dalam Tafsir Fi Dzilalil Qur’an, Sayyid Qutb mengulas ayat ini dengan kedalaman rasa yang luar biasa. Beliau menggambarkan bahwa kader Islam—yang dalam konteks ini adalah kader persyarikatan—layaknya tunas yang baru muncul dari kuncup kehidupan. Tunas belia ini tidak boleh dibiarkan tumbuh liar. Ia menuntut untuk disemai dan dirawat dengan kehangatan kasih sayang, dipupuk dengan keteladanan yang autentik, serta dijaga dengan proteksi ketat dari kontaminasi kerusakan zaman.

Hanya melalui proses tarbiyah yang sabar inilah, tunas tersebut akan bertransformasi menjadi dahan yang kokoh, berakar kuat, dan siap memikul beban berat perjuangan dalam mengarsiteki gerakan amar makruf nahi mungkar.

Mencari Unta Rahilah di Rahim Muhammadiyah
Menjadi kader Muhammadiyah berarti siap menjadi pelopor, pelangsung, dan penyempurna amanah. Namun, sejarah selalu menyaring sedikit sekali manusia yang sanggup berdiri di garis depan sebagai pemikul beban utama. Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sabdanya:
إنَّما النَّاسُ كالإبِلِ المِائَةِ، لا تَكادُ تَجِدُ فيها رَاحِلَةً
“Sesungguhnya manusia itu bagaikan seratus ekor unta, hampir saja kamu tidak mendapati di antaranya satu ekor pun unta rahilah (unta tunggangan yang handal memikul beban berat).” (HR. Bukhari & Muslim)

Kader Muhammadiyah tidak boleh sekadar menjadi bagian dari kerumunan kuantitas (“seratus ekor unta”). Kader Muhammadiyah haruslah merupakan unta rahilah—manusia pilihan yang tangguh, visioner, dan memiliki daya tahan tinggi dalam mengarungi gurun perjuangan dakwah.

Dalam proses evolusi dari “tunas belia” menjadi “unta rahilah”, kehadiran kader senior bertindak sebagai booster pertumbuhan utama. Keteladanan (uswah hasanah) dari para ideolog dan pimpinan senior adalah energi kinetik yang menghidupkan narasi-narasi teologis di ruang kelas menjadi realitas gerakan yang konkret bagi para kader muda.

Kiprah TPQ: Laboratorium Awal Gerakan
Di sinilah letak strategis Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) di bawah naungan persyarikatan. TPQ bukan sekadar tempat menitipkan anak untuk belajar mengeja huruf hijaiyah. TPQ adalah laboratorium kaderisasi fase paling dini (early childhood cadre building).

Kiprah TPQ dalam Muhammadiyah memegang peran hulu yang sangat menentukan. Melalui institusi ini, anak-anak tidak hanya dijejali kemampuan kognitif membaca Al-Qur’an, tetapi diinternalisasi karakter ideologis sejak dini. Dampak unggul TPQ tercermin pada lahirnya generasi penerus gerakan yang memiliki immunitas moral tinggi dan kecintaan mendalam pada masjid serta persyarikatan.

TPQ adalah wadah purifikasi sekaligus kaderisasi generasi belia agar mereka tidak gagap ketika kelak harus menerima estafet kepemimpinan umat.

Penutup: Tanggung Jawab Semesta Persyarikatan
Memberikan perhatian secara paripurna kepada kader sejati, pada hakikatnya, adalah memberikan asupan energi bagi keberlangsungan hidup organisasi itu sendiri. Mematikan kaderisasi sama saja dengan merencanakan kematian gerakan Muhammadiyah.

Oleh karena itu, diperlukan usaha yang maksimal, ikhtiar yang terus-menerus, serta langkah-langkah sistematis-strategis untuk menyemai kader yang tumbuh tegak dalam bimbingan nilai-nilai luhur Al-Qur’an. Mengoptimalkan peran TPQ dan memakmurkan masjid sebagai basis kaderisasi bukanlah tugas sektoral, melainkan tanggung jawab besar bersama. Dari rahim TPQ dan atmosfer suci masjidlah, soko guru peradaban Islam masa depan akan lahir dan membumi. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search