Beramal saleh itu baiknya tangan kanan memberi, tangan kiri tidak tahu. Sebaiknya sembunyi karena jika diketahui publik dikhawatirkan akan menjadi riya’. Apakah benar demikian? Bagaimana jika bersedekah diketahui publik justru akan mendorong syiar?
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ خَبْءٌ مِنْ عَمَلٍ صَالِحٍ فَلْيَفْعَلْ
“Barang siapa di antara kalian yang mampu untuk memiliki amal saleh yang tersembunyikan maka lakukanlah ”
Coba kita bersikap jujur dan bertanya pada diri sendiri, “Berapakah amal saleh kita yang tersembunyi, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya, bahkan istri dan anak-anak? Ataukah setiap kali kita beramal saleh hati dan lidah menjadi gatal ingin segera menceritakannya kepada orang lain?”
Sungguh tidaklah mudah menyembunyikan amalan saleh, karena sesungguhnya manusia adalah makhluk yang senang untuk dipuji dan dihormati. Dengan menampakan kebaikan dan amal salehnya maka orang-orangpun akan menjadi menghormati, menghargai, dan memujinya.
Faedah menyembunyikan amal saleh:
- Menyembunyikan amal saleh lebih menjauhkan seseorang dari penyakit riya dan sum’ah
- Amal saleh yang tersembunyi pahalanya lebih besar daripada amal saleh yang dinampakkan
- Amal saleh yang tersembunyikan bisa menjadikan seseorang jauh dari penyakit ujub. Karena ia sadar bahwasanya ia telah berusaha menyembunyikan amalan salehnya sebagaimana ia telah mati-matian berusaha untuk menyembunyikan kemaksiatan-kemaksiatan dan keburukannya. Jika orang-orang tidak mengetahui kebaikannya maka sebagaimana mereka tidak mengetahui keburukan-keburukannya.
- Amal saleh yang tersembunyikan melatih seseorang terbiasa hanya mencari muka di hadapan Allah dan tidak memperdulikan komentar manusia, karena yang terpenting adalah penilaian Allah dan bukan penilaian manusia.
- Menyembunyikan amal saleh menjadikan seseorang bahagia, karena meskipun tidak ada orang yang menghormatinya ia akan merasa bahagia karena Penguasa alam semesta ini mengetahui amal salehnya.
Karenanya Salamah bin Diinaar berkata:
اُكْتُمْ مِنْ حَسَنَاتِكَ كَمَا تَكْتُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكَ
“Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu” (*)
