Mulianya manusia terletak pada akal karena karunia ini membedakannya dari makhluk lain, menjadi alat pembeda benar dan salah, serta landasan dalam mengemban tanggung jawab moral.
Fungsi Utama Akal
- Membedakan nilai: Memilah kebaikan dari keburukan.
- Menerima ilmu: Menyerap pengetahuan dan kebenaran.
- Dasar tanggung jawab: Menjadi syarat sah beban hukum (taklif).
Batas dan Arahan
- Butuh bimbingan: Akal perlu dituntun oleh ajaran agama atau wahyu.
- Tidak mutlak: Ada wilayah gaib yang tidak mampu dijangkau logika murni.
Merawat dan memelihara akal (hifzhul ‘aql) adalah bagian penting dari hifdzul khomsah (lima prinsip dasar kemaslahatan hukum Islam atau al-kulliyatu al-khamsah). Prinsip ini bertujuan menjaga akal manusia dari kerusakan agar dapat berfungsi dengan baik untuk memahami kebenaran.
1.Wahab bin Munabbih rahimahullah mengatakan:
قرأت في بعض ما أنزل الله تعالى إن الشيطان لم يكابد شيئا أشد عليه من مؤمن عاقل
“𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 ﷻ 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘴𝘺𝘦𝘵𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘶’𝘮𝘪𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘭.”
Pernyataan tersebut bermakna bahwa orang beriman yang menggunakan akal sehat dan ilmunya adalah ancaman terbesar bagi setan, karena mereka:
- Sulit ditipu oleh tipu daya atau godaan jahat.
- Tahu ilmu agama sehingga bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
- Cepat sadar dan bertaubat jika berbuat salah
Beliau juga berkata:
وإن الرجلين ليستويان في البر ويكون بينهما في الفضل كما بين المشرق والمغرب بالعقل وما عبد الله بشيء أفضل من العقل
“𝘋𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘬𝘪-𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘮𝘶𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘳𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘶𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘭.”
Pernyataan tersebut bermakna bahwa kualitas amal kebaikan seseorang sangat ditentukan oleh tingkat kebijaksanaan akalnya, di mana akal yang lurus membuat derajat keutamaan manusia menjadi sangat jauh berbeda bagaikan jarak antara timur dan barat.
- Muadz bin Jabal radhiyallahu’anhu berkata:
لو أن العاقل أصبح وأمسى وله ذنوب بعدد الرمل كان وشيكا بالنجاة والتخلص منها ولو أن الجاهل أصبح وأمسى وله من الحسنات وأعمال البر عدد الرمل لكان وشيكا أن لا يسلم له منها مثقال ذرة قيل وكيف ذلك قال إن العاقل إذا زل تدارك ذلك بالتوبة والعقل الذي رزقه والجاهل بمنزله الذي يبني ويهدم فيأتيه من جهله ما يفسد صالح عمله
“𝘚𝘦𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘰𝘳𝘦 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘫𝘶𝘮𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘴𝘪𝘳 𝘯𝘪𝘴𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘚𝘦𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘰𝘳𝘦 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘮𝘢𝘭 𝘴𝘩𝘢𝘭𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘫𝘶𝘮𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘴𝘪𝘳 𝘯𝘪𝘴𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘸𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘢𝘵𝘰𝘮.”
Lalu ada orang bertanya: “𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶?” 𝘉𝘦𝘭𝘪𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣: “𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘣𝘢𝘪𝘬𝘪 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘶𝘣𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘻𝘬𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘚𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘯𝘤𝘶𝘳𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘬 𝘢𝘮𝘢𝘭 𝘴𝘩𝘢𝘭𝘪𝘩𝘯𝘺𝘢.”
- Hasan al Bashri rahimahullah berkata:
لا يتم دين الرجل حتى يتم عقله وما أودع الله امرأ عقلا إلا استنقذه به يوما
“𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘶𝘳𝘯𝘢 𝘢𝘨𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘶𝘳𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘵𝘪𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘵𝘶.”
Pernyataan tersebut merupakan atsar (ucapan) dari seorang tabi’in besar bernama Al-Hasan al-Bashri, yang bermakna bahwa akal yang sehat dan lurus adalah alat utama untuk memahami ajaran agama secara benar serta menuntun manusia pada keselamatan.
- Yusuf bin Asbath rahimahullah berkata:
العقل سراج ما بطن وزينة ما ظهر وسائس الجسد وملاك أمر العبد ولا تصلح الحياة إلا به ولا تدور الأمور إلا عليه
“𝘈𝘬𝘢𝘭 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪, 𝘱𝘦𝘳𝘩𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬, 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘶𝘳 𝘫𝘢𝘴𝘢𝘥, 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘸𝘢𝘭 𝘶𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘤𝘶𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘶𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘶𝘵𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘤𝘶𝘢𝘭𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢.”
Kalimat tersebut menjelaskan bahwa akal adalah pelita penuntun hidup, pengendali diri, dan syarat utama kesempurnaan manusia. Akal membedakan yang benar dan salah, merawat kesehatan badan, serta menentukan baik atau buruknya masa depan seseorang.
- Abdullah bin Mubarak rahimahullah ketika ditanya tentang apa yang terbaik setelah nikmat Islam, maka beliau menjawab :
غريزة عقل قيل فإن لم يكن قال أدب حسن قيل فإن لم يكن قال أخ صالح يستشيره قيل فإن لم يكن قال صمت طويل قيل فإن لم يكن قال موت عاجل
“𝘐𝘯𝘴𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢,” 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢? “𝘈𝘥𝘢𝘣 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬,” 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢? “𝘚𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘩𝘢𝘭𝘪𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘦𝘮𝘣𝘪𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢,” 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢? “𝘋𝘪𝘢𝘮 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨,” 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢? “𝘒𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 !”
Pernyataan tersebut adalah jawaban Abdullah bin Al-Mubarak ketika ditanya tentang anugerah terbaik bagi seseorang setelah keimanan atau keislaman.
Penjelasan Tingkatan Anugerah
- Insting akalnya (Gharizah ‘aql): Karunia akal sehat dan pemahaman lurus yang menjadi dasar utama seseorang dalam bertindak serta membedakan benar dan salah.
- Adab yang baik: Akhlak mulia dan sopan santun yang menghiasi diri ketika akal atau kecerdasan alami belum sepenuhnya matang.
- Saudara yang shalih: Teman atau sahabat saleh tempat berdiskusi dan meminta nasihat untuk menjaga diri dari keburukan.
- Diam yang panjang: Pilihan untuk lebih banyak diam dan menjaga lisan dari perkataan sia-sia guna menghindari dosa.
- Kematian yang segera: Puncak keburukan ketika seseorang kehilangan semua hal di atas, sehingga kematian lebih baik baginya agar tidak menambah kemaksiatan.
Pernyataan ini tercatat dalam kitab Raudhatul Muhibbin karya Imam Ibnul Qayyim.
- Izz Abdussalam rahimahullah berkata:
والشرع لا يأتي بما تحيله العقول , ولكنه قد يأتي بما تحار فيه العقول
“𝘚𝘺𝘢𝘳𝘪𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘴𝘵𝘢𝘩𝘪𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘭, 𝘮𝘦𝘴𝘬𝘪 𝘬𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘯𝘨𝘶𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢”.
Bahwa ajaran Islam selalu sejalan dengan logika sehat dan tidak pernah bertentangan dengan hukum kepastian akal, namun akal manusia terkadang memiliki keterbatasan dalam memahami hikmah di balik suatu ketentuan.
Keterbatasan Jangkauan: Akal manusia bersifat terbatas, sehingga ada aturan atau perkara gaib yang membuat akal merasa bingung atau heran karena belum tahu alasannya. Oleh karena itu jika akal belum mampu mencerna hikmahnya, bukan berarti aturan itu salah atau “tidak masuk akal”, melainkan kapasitas akal manusia yang belum sampai pada tingkat tersebut.
Akal berfungsi untuk memahami dalil dan membuktikan kebenaran wahyu, bukan untuk menolak aturan agama hanya karena ukurannya terasa asing bagi logika sempit.
- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
م تأت بما يعلم بالعقل امتناعه
“𝘉𝘦𝘭𝘪𝘢𝘶 (𝘙𝘢𝘴𝘶𝘭𝘶𝘭𝘭𝘢𝘩) 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘩𝘺𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘢𝘬𝘢𝘭.”
Maksud dari ungkapan bahwa Rasulullah tidaklah datang dengan wahyu yang mustahil atau tidak dapat diterima oleh akal adalah bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw selalu sejalan dengan akal yang sehat, rasional, serta tidak pernah memerintahkan sesuatu yang secara mutlak diingkari atau dipandang mustahil oleh akal manusia.
- Hujjatul Islam imam al Ghazali rahimahullah berkata :
العقل لن يهتدي إلا بالشرع والشرع لم يتبين إلا بالعقل فالعقل كالأس والشرع كالبناء ولن يغني أساس ما لم يكن بناء ولن يثبت بناء ما لم يكن اساس
“𝘈𝘬𝘢𝘭 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘵𝘶𝘯𝘫𝘶𝘬 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘴𝘺𝘢𝘳𝘪𝘢𝘵, 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘺𝘢𝘳𝘪𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘩𝘢𝘮𝘪 𝘬𝘦𝘤𝘶𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘭. 𝘔𝘢𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘱𝘰𝘯𝘥𝘢𝘴𝘭𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘺𝘢𝘳𝘪𝘢𝘵 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢 𝘨𝘶𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘰𝘯𝘥𝘢𝘴𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘰𝘯𝘥𝘢𝘴𝘪.”
Benar bahwa sumber agama ini adalah wahyu, namun akal berfungsi untuk mencerna dan memahaminya.
Batasan Antara Mustahil dan di Luar Jangkauan Akal
- Tidak ada yang mustahil bagi akal: Wahyu yang sahih tidak akan pernah membawa berita atau perintah yang oleh akal sehat dipastikan sebagai kebohongan atau kemustahilan (seperti 1 ditambah 1 menjadi 3, atau keberadaan sesuatu yang ada sekaligus tiada).
- Melampaui jangkauan (bukan menolak): Terkadang wahyu mengabarkan perkara gaib atau mukjizat yang belum atau tidak mampu dicerna sepenuhnya oleh detail nalar manusia, namun hal itu bukan berarti mustahil secara logika. Contohnya adalah perkara surga, neraka, atau peristiwa Isra Mikraj.
- Akal memiliki keterbatasan: Akal manusia itu terbatas ruang dan waktunya, sedangkan ilmu Allah meliputi segalanya. Oleh karena itu, ketidakmampuan akal memahami hikmah suatu wahyu bukan berarti wahyu itu salah, melainkan akal butuh tunduk pada kebenaran yang dibawa oleh rasul.
Posisi Akal Terhadap Wahyu dalam Islam
- Akal sebagai alat pemaham: Fungsi utama akal yang diberikan Allah adalah untuk memahami, merenungkan, dan mentadaburi isi wahyu, bukan untuk menjadi hakim yang menolak wahyu.
- Menolak pertentangan semu: Jika ada dalil wahyu yang tampak bertentangan dengan akal, para ulama Ahlus Sunnah memastikan bahwa hal itu terjadi karena dua hal: dalilnya tidak sahih (lemah/palsu) atau pemahaman akal manusia itu sendiri yang belum sampai atau keliru dalam mencernanya
Akal adalah sarana untuk bisa menerima kebenaran Islam dan memahami ajaran-ajaran dibawanya. Itu mengapa di banyak ayat Allah ta’ala memperingatkan agar manusia memakai akalnya dan mencela bagi mereka yang tidak mau mempergunakannya. Seperti firmanNya:
أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯?” (QS. Al Baqarah : 44).
