Ada satu tempat yang seharusnya selalu kita rindukan setelah lelah menjalani kehidupan, yaitu rumah. Bukan sekadar bangunan yang memiliki dinding dan atap, melainkan tempat hati menemukan ketenteraman, tempat seseorang diterima dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Di sanalah anak pertama kali mengenal kasih sayang, orang tua belajar menunaikan amanah, dan seluruh anggota keluarga bertumbuh dalam kebersamaan.
Namun, pernahkah kita bertanya dengan jujur, apakah rumah kita masih menjadi tempat pulang yang menenteramkan? Ataukah tanpa disadari, rumah telah menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang berdekatan secara fisik, tetapi semakin berjauhan secara batin?
Pertanyaan ini patut menjadi bahan muhasabah bagi kita, warga Persyarikatan Muhammadiyah. Di tengah kesibukan berdakwah, menggerakkan organisasi, mengembangkan amal usaha, menghadiri pengajian, dan melayani masyarakat, jangan sampai kita kehilangan kehangatan dengan orang-orang terdekat.
Betapa menyedihkan apabila seseorang dikenal ramah dan santun di tengah masyarakat, tetapi keluarganya justru merindukan kelembutan tutur katanya. Betapa ironis apabila kita bersemangat membangun umat, tetapi kurang menyediakan waktu untuk mendengarkan kegelisahan anak dan pasangan. Pengabdian kepada Persyarikatan merupakan amal mulia, tetapi kemuliaan itu semestinya semakin menyempurnakan tanggung jawab kita terhadap keluarga.
Allah Swt. mengingatkan dalam Surah Ar-Rum ayat 21 bahwa di antara tanda-tanda kebesaran-Nya adalah diciptakannya pasangan agar manusia memperoleh ketenteraman, serta dijadikannya rasa kasih dan sayang di antara mereka. Ayat ini menghadirkan pelajaran mendalam bahwa keluarga tidak cukup dibangun hanya dengan ikatan perkawinan. Keluarga memerlukan sakinah, ketenteraman yang melahirkan rasa aman; mawaddah, cinta yang senantiasa dipelihara; dan rahmah, kasih sayang yang tetap hadir meskipun kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ketiganya bukan sekadar ungkapan indah dalam nasihat pernikahan, melainkan nilai yang harus dihidupkan dalam perilaku sehari-hari.
Ketahanan keluarga karena itu tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan mempertahankan keutuhan rumah tangga. Sebuah keluarga mungkin tampak utuh dari luar, tetapi belum tentu menghadirkan ketenteraman apabila di dalamnya terdapat ketakutan, kekerasan, penghinaan, atau pengabaian. Ketahanan yang sesungguhnya tumbuh ketika anggota keluarga saling menjaga martabat, menghormati hak, menunaikan kewajiban, dan menghadapi kesulitan dengan semangat kebersamaan.
Keluarga yang tangguh bukanlah keluarga yang tidak pernah mengalami konflik, melainkan keluarga yang terus belajar menyelesaikan perbedaan melalui musyawarah, kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang.
Kehidupan keluarga hari ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Tekanan ekonomi membuat banyak orang tua harus bekerja lebih keras. Perkembangan teknologi menghadirkan kemudahan sekaligus persoalan baru dalam pengasuhan. Anak-anak tumbuh bersama dunia digital yang menawarkan informasi hampir tanpa batas.
Tidak jarang, satu keluarga duduk bersama di ruang yang sama, tetapi masing-masing tenggelam dalam layar gawainya. Percakapan semakin singkat, perhatian semakin terpecah, dan kedekatan emosional perlahan memudar. Teknologi tentu bukan musuh keluarga. Namun, tanpa pengendalian diri dan kebijaksanaan, sesuatu yang seharusnya memudahkan komunikasi justru dapat mengurangi kehangatan hubungan antarmanusia.
Kita juga perlu menyadari bahwa tidak semua persoalan keluarga bersumber dari kelemahan pribadi anggotanya. Banyak keluarga menghadapi keadaan yang berada di luar kemampuan mereka untuk mengendalikannya. Ketidakpastian pekerjaan, keterbatasan pendapatan, mahalnya kebutuhan hidup, persoalan kesehatan, dan lingkungan sosial yang kurang mendukung dapat menggerus ketahanan keluarga.
Karena itu, kita tidak boleh tergesa-gesa menilai keluarga yang sedang mengalami kesulitan sebagai keluarga yang kurang beriman atau kurang bersungguh-sungguh. Sebagian dari mereka sedang menjalani perjuangan yang tidak ringan. Mereka membutuhkan empati, pendampingan, perlindungan, dan uluran tangan yang nyata.
Di sinilah semangat dakwah Muhammadiyah menemukan maknanya yang sangat mendalam. Sejak awal, Muhammadiyah mengajarkan bahwa keberagamaan tidak boleh berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi harus melahirkan amal nyata yang membawa kemaslahatan. Spirit Al-Ma’un yang menjadi salah satu kekuatan gerakan Muhammadiyah mengingatkan bahwa kepedulian kepada sesama merupakan bagian penting dari pengamalan agama. Semangat tersebut perlu terus diperluas dalam kehidupan keluarga.
Ketika ada keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, anak kehilangan kesempatan pendidikan, lansia menghadapi kesepian, atau rumah tangga mengalami persoalan berat, warga Persyarikatan seyogianya hadir membawa harapan, bukan sekadar memberikan nasihat.
