Merawat Keluarga, Menguatkan Persyarikatan

Merawat Keluarga, Menguatkan Persyarikatan
*) Oleh : Dr. Jaharuddin
Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta.
www.majelistabligh.id -

Dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, kehidupan keluarga mendapat perhatian penting sebagai tempat pembentukan pribadi Muslim yang berakhlak mulia. Keluarga bukan hanya tempat berlangsungnya kehidupan domestik, tetapi juga lingkungan pendidikan iman, ilmu, akhlak, dan tanggung jawab sosial. Rumah semestinya menjadi madrasah pertama, tempat ajaran Islam tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi dicontohkan melalui tindakan.

Anak-anak belajar tentang kejujuran dengan menyaksikan kejujuran orang tuanya. Mereka mengenal kasih sayang melalui perlakuan yang penuh kelembutan. Mereka memahami tanggung jawab ketika melihat ayah dan ibu saling membantu serta menghormati.

Karena itu, tanggung jawab membangun keluarga tidak semestinya dibebankan kepada satu pihak. Ayah tidak cukup hadir sebagai pencari nafkah, tetapi juga perlu menjadi pendidik, pelindung, pendengar, dan teladan. Ibu tidak seharusnya dibiarkan menanggung seluruh beban pengasuhan dan urusan rumah tangga seorang diri. Suami dan istri adalah mitra yang saling menguatkan dalam menunaikan amanah keluarga, sesuai keadaan dan kemampuan masing-masing.

Anak-anak pun perlu tumbuh dalam suasana yang menghargai pendapat, mengajarkan kedisiplinan tanpa kekerasan, dan memberi ruang untuk belajar dari kesalahan. Kehangatan keluarga lahir bukan dari banyaknya tuntutan, melainkan dari kesediaan untuk saling memahami.

Bagi Muhammadiyah, ikhtiar memperkuat keluarga selayaknya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari gerakan dakwah dan tajdid. Masjid, ranting, cabang, majelis, serta amal usaha memiliki peluang besar untuk membangun lingkungan yang mendukung ketahanan keluarga. Pengajian tidak hanya menjadi tempat memperdalam pengetahuan agama, tetapi juga ruang belajar tentang komunikasi pasangan, pengasuhan anak, kesehatan mental, dan tanggung jawab antargenerasi. Sekolah Muhammadiyah dapat memperkuat kemitraan dengan orang tua.

Layanan kesehatan dan sosial dapat memberikan perhatian kepada keluarga rentan. Bahkan, penyelenggaraan kegiatan Persyarikatan perlu mempertimbangkan keseimbangan antara tanggung jawab organisasi dan kebutuhan keluarga para penggeraknya.

Kita perlu mengingat bahwa pengabdian kepada umat tidak boleh membuat orang-orang tercinta merasa ditinggalkan. Seorang aktivis Persyarikatan yang begitu tekun menghadiri rapat dan kegiatan dakwah juga memerlukan kebijaksanaan untuk menyediakan waktu berkualitas bersama keluarganya. Sebab, keberhasilan dakwah bukan hanya tampak pada ramainya kegiatan atau berkembangnya amal usaha, melainkan juga pada hadirnya nilai-nilai Islam yang mencerahkan dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai kita berhasil menghadirkan kegembiraan bagi banyak orang, tetapi lupa menghadirkan senyum di rumah sendiri.

Pada akhirnya, ketahanan keluarga bukanlah keadaan yang dapat dicapai sekali untuk selamanya. Ia merupakan ikhtiar panjang yang perlu dirawat melalui perhatian kecil, doa yang tulus, rezeki yang halal, kesediaan meminta maaf, kemampuan memaafkan, dan keberanian memperbaiki diri. Kadang kekuatan keluarga justru terlihat dalam peristiwa sederhana, seorang ayah yang bersedia mendengarkan cerita anaknya, seorang ibu yang mendapatkan dukungan ketika kelelahan, pasangan yang memilih berdialog daripada saling menyalahkan, atau anggota keluarga yang tetap saling menjaga ketika ujian kehidupan datang silih berganti.

Wahai warga Persyarikatan, marilah kita kembali merenungkan makna kehadiran kita di tengah keluarga. Sebelum mengajak masyarakat kepada kebaikan, sudahkah kebaikan itu dirasakan oleh orang-orang di rumah? Sebelum berbicara tentang kasih sayang kepada umat, sudahkah pasangan, anak-anak, dan orang tua kita merasakan kelembutan hati kita? Sebelum menyerukan pentingnya membangun peradaban, sudahkah kita menjadikan rumah sebagai tempat tumbuhnya iman, ilmu, akhlak, dan kemanusiaan?

Muhammadiyah memiliki cita-cita besar untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Cita-cita mulia itu membutuhkan pribadi-pribadi yang beriman, berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial. Keluarga merupakan salah satu lingkungan paling penting bagi tumbuhnya pribadi-pribadi tersebut. Karena itu, merawat keluarga sesungguhnya merupakan bagian dari merawat masa depan Persyarikatan, umat, dan bangsa. Keluarga yang kuat dapat menjadi sumber lahirnya generasi yang tangguh, penuh kasih, berkemajuan, dan siap menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.

 

Tinggalkan Balasan

Search