Ada satu hal yang menurut saya menarik untuk direnungkan ketika kita berbicara tentang perkembangan Muhammadiyah di Surabaya: siapa sebenarnya yang ikut membesarkan persyarikatan ini?
Pertanyaan di atas mungkin terdengar sederhana. Namun, jika kita mencoba melihat lebih dekat, jawabannya tidak sesederhana menyebut nama para pendiri, pimpinan atau bahkan orang-orang yang selama ini aktif dalam organisasi.
Perkembangan Muhammadiyah di Surabaya juga tidak terlepas dari pertemuaan banyak orang dengan latar belakang yang berbeda. Ada warga asli Surabaya, ada kader yang datang dari berbagai daerah, dan ada pula masyarakat luas yang meskipun tidak menjadi bagian dari Muhammadiyah, turut memberikan kepercayaan dan dukungan. Barangkali di situlah salah satu sisi menarik dari perjalanan Muhammadiyah di kota ini.
Pada 2026, Muhammadiyah Surabaya memasuki usia 105 tahun, jika dihitung dari pengesahannya sebagai cabang pada 1921. Sebuah perjalanan yang tentu tidak singkat. Selama lebih dari satu abad, persyarikatan ini tumbuh di tengah perubahan wajah kota, dinamika masyarakat dan berbagai tantangan kehidupan perkotaan.
Tetapi, usia panjang sebuah organisasi tidak cukup hanya dibaca melalui catatan sejarah. Kita juga perlu melihat bagaimana gerakan itu bertahan, siapa saja yang ikut menghidupkannya, dan bagaimana ia terus menemukan ruang pengabdian di tengah masyarakat yang lekat dengan kultur atau budaya khas Jawa.
Kota yang mempertemukan banyak pengalaman
Surabaya adalah kota besar yang sejak lama menjadi tujuan orang untuk bekerja, belajar, berdagang dan membangun kehidupan. Orang datang dari berbagai daerah, menetap, kemudian menjadi bagian dari kehidupan kota. Perpindahan semacam ini bukan sekedar cerita yang kita dengar sehari-hari. Data Pemerintah Kota Surabaya memperlihatkan betapa dinamisnya mobilitas penduduk tersebut.
Pada 2024, jumlah penduduk Surabaya tercatat sekitar 3 juta jiwa. Dalam tahun yang sama, data administrasi kependudukan mencatat 75.044 penduduk pindah masuk dan 83.197 penduduk pindah keluar. Angka ini menunjukkan bahwa Surabaya bukan hanya kota tempat orang menetap, tetapi juga ruang yang terus mengalami pergerakan penduduk.
Tentu, angka perpindahan tersebut tidak semuanya berasal dari luar Surabaya. Data administrasi itu juga mencakup perpindahan dalam wilayah kota. Karena itu, kita tidak bisa menggunakannya untuk menyimpulkan berapa banyak pendatang dari luar daerah, apalagi berapa banyak di antaranya yang merupakan kader Muhammadiyah. Namun, data tersebut cukup memberi gambaran tentang dinamika sosial kota yang menjadi tempat bertemunya berbagai latar belakang manusia.
Di antara orang-orang yang datang itu, ada yang membawa pengalaman organisasi dari daerah asalnya. Mereka mungkin sebelumnya aktif di ranting, cabang, majelis, organisasi otonom, atau amal usaha Muhammadiyah di kampung halaman. Ada yang tumbuh dari keluarga Muhammadiyah, ada pula yang sejak muda telah terbiasa terlibat dalam kegiatan persyarikatan.
Ketika kemudian pindah ke Surabaya karena pekerjaan atau alasan kehidupan lainnya, pengalaman itu tidak serta-merta hilang. Mereka tetap membawa cara pandang, kebiasaan berorganisasi, jaringan pertemanan, dan semangat pengabdian yang telah tumbuh sebelumnya.
Di sinilah kita perlu melihat perpindahan penduduk dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Perpindahan manusia bisa saja sekaligus menjadi perpindahan pengalaman dan potensi. Seseorang yang datang ke Surabaya bukan selalu orang yang harus memulai semuanya dari awal. Bisa jadi, ia justru membawa bekal pengalaman yang dapat memperkuat kehidupan persyarikatan di tempat barunya.
