Milad ke-105 Muhammadiyah Surabaya: Tumbuh dari Militansi, Menguat melalui Takāmul al-Ijtimā‘ī

Milad ke-105 Muhammadiyah Surabaya: Tumbuh dari Militansi, Menguat melalui Takāmul al-Ijtimā‘ī
*) Oleh : M. Ainul Yaqin Ahsan, M.Pd
Wakabid. Dakwah PC PM Rungkut Surabaya
www.majelistabligh.id -

Kepercayaan pun Datang dari Luar Persyarikatan
Ada satu hal lain yang tidak kalah menarik, yaitu dukungan masyarakat yang tidak selalu berasal dari warga Muhammadiyah sendiri.

Dalam beberapa pengalaman pengembangan amal usaha, dukungan masyarakat bisa datang dari orang-orang yang tidak aktif dalam kegiatan persyarikatan. Mereka mungkin tidak rutin mengikuti pengajian Muhammadiyah, tidak memiliki jabatan organisasi bahkan bukan sebagai anggota. Namun, ketika melihat sebuah lembaga memiliki tujuan dan manfaat yang jelas, mereka bersedia memberikan dukungan.

Saya teringat pada cerita pembangunan amal usaha di Kecamatan Rungkut yang memperoleh dukungan dana dari para donatur dan dapat dibangun tanpa mengandalkan pinjaman bank. Di antara dukungan tersebut, ternyata banyak aghniya’ dan muhsisnin yang tidak selalu berada dalam lingkaran kegiatan Muhammadiyah. Tentu kita juga tidak melupakan kontribusi dan perjuangan Pimpinan dalam pengembangan Amal Usaha Muhammadiyah, apapun dan bagaimanapun caranya yang penting halal/boleh dilakukan (tidak melanggar syariat).

Dari sana kita tahu bahwa kepercayaan tidak selalu tumbuh karena kesamaan identitas organisasi. Seseorang bisa saja tidak menjadi bagian dari Muhammadiyah, tetapi percaya kepada lembaga pendidikan, kesehatan atau sosial yang dikelolanya. Ia memberikan dukungan bukan karena merasa memiliki ikatan struktural, melainkan karena melihat manfaat dan meyakini bahwa lembaga tersebut layak didukung.

Di sinilah kita dapat memahami bahwa amal usaha Muhammadiyah sesungguhnya memiliki hubungan yang lebih luas daripada sekadar hubungan internal organisasi. Ia berada di tengah masyarakat dan melayani kebutuhan masyarakat. Kepercayaan seperti ini menjadi modal sosial yang sangat berharga. Tetapi, modal tersebut juga membawa tanggung jawab.

Ketika masyarakat telah memberikan kepercayaan, Muhammadiyah perlu menjaganya melalui pelayanan yang baik, tata kelola yang transparan dan menjaga integritas. Jangan sampai kepercayaan masyarakat hanya dipandang sebagai sumber dukungan ketika lembaga membutuhkan bantuan. Kepercayaan itu harus dijawab dengan manfaat yang benar-benar dirasakan. Dan Jangan lupa untuk selalu memberikan kesempatan bagi kader untuk bergabung dan berkontribusi di AUM, sebab merekalah yang akan meneruskan perjuangan dalam mengembangkan “rumah” ideologis kita.

Pertumbuhan Perlu Diikuti Kemauan Merawat
Melihat berbagai kekuatan tersebut, kita tentu patut bersyukur atas perkembangan Muhammadiyah Surabaya. Namun, Milad ke-105 juga merupakan kesempatan untuk mengajukan beberapa pertanyaan yang mungkin tidak selalu nyaman, tetapi penting untuk direnungkan.

Apakah pertumbuhan amal usaha telah berjalan seiring dengan penguatan kehidupan ranting? Apakah kader yang tumbuh dan yang datang dari berbagai daerah mendapatkan ruang pengabdian yang memadai? Apakah pengalaman dan komitmen mereka telah menjadi bagian dari pertimbangan dalam proses kaderisasi dan pengelolaan AUM? dan Bagaimana pula hubungan antara kaderisasi dan profesionalisme dalam pengelolaan amal usaha?

Pertanyaan terakhir ini penting. Amal usaha Muhammadiyah membutuhkan tenaga-tenaga profesional yang memiliki kompetensi sesuai bidangnya. Kualitas pendidikan, kesehatan dan pelayanan sosial tidak boleh dikorbankan hanya karena pertimbangan kedekatan organisasi. Namun, di sisi lain, rekam jejak pengabdian, komitmen dan pemahaman terhadap nilai-nilai persyarikatan juga merupakan hal yang patut diperhitungkan.

Profesionalisme dan militansi seharusnya tidak ditempatkan sebagai dua hal yang saling meniadakan. Keduanya justru perlu saling menguatkan. Sebuah lembaga membutuhkan orang yang mampu bekerja dengan baik, tetapi juga perlu memastikan bahwa orientasi kerjanya tidak terlepas dari nilai dan tujuan yang melandasi keberadaan dan nilai lembaga tersebut. Sebaliknya, semangat pengabdian saja tidak cukup apabila tidak disertai kemampuan dan tanggung jawab profesional.

Demikian pula dengan kekuatan organisasi. Banyaknya amal usaha tentu membanggakan, tetapi kehidupan persyarikatan tidak boleh berhenti pada urusan mengelola bangunan dan lembaga. Pengajian, pembinaan kader, aktivitas ranting dan kedekatan dengan masyarakat tetap menjadi bagian penting dari denyut gerakan. Jangan sampai kita terlalu sibuk membesarkan institusi, tetapi kurang memberi perhatian pada orang-orang yang menghidupkan gerakan dari bawah.

 

Tinggalkan Balasan

Search