Milad ke-105 Muhammadiyah Surabaya: Tumbuh dari Militansi, Menguat melalui Takāmul al-Ijtimā‘ī

Milad ke-105 Muhammadiyah Surabaya: Tumbuh dari Militansi, Menguat melalui Takāmul al-Ijtimā‘ī
*) Oleh : M. Ainul Yaqin Ahsan, M.Pd
Wakabid. Dakwah PC PM Rungkut Surabaya
www.majelistabligh.id -

Pengabdian yang tidak berhenti di kampung halaman
Dalam kehidupan berMuhammadiyah, kita bisa menjumpai orang-orang yang setelah menetap di Surabaya berusaha mencari kembali lingkungan persyarikatannya. Ada yang mendatangi kantor pimpinan cabang atau ranting, menghubungi tokoh Muhammadiyah yang lebih dahulu tinggal di Surabaya, mencari informasi tentang pengajian, atau bahkan datang ke amal usaha untuk mengetahui kegiatan yang bisa diikuti.

Sebagian dari mereka kemudian terlibat dalam kegiatan organisasi. Ada yang menyumbangkan tenaga dan pemikiran, ada yang dipercaya mengemban amanah kepemimpinan, ada pula yang berkontribusi dalam pengembangan amal usaha. Tidak semuanya harus menjadi pimpinan atau menduduki jabatan tertentu. Kehadiran orang yang bersedia datang ke pengajian, membantu kegiatan ranting atau ikut menggerakkan aktivitas sosial pun merupakan bagian dari pengabdian. Saya kira, ini adalah modal yang tidak kecil bagi Muhammadiyah Surabaya.

Kader yang datang dari daerah lain tidak seharusnya hanya dipandang sebagai orang baru yang perlu menyesuaikan diri. Mereka mungkin memang perlu mengenal lingkungan setempat, memahami karakter masyarakat Surabaya, dan membangun hubungan dengan warga Muhammadiyah yang sudah lebih dahulu berkiprah. Namun, pengalaman yang mereka bawa juga patut dilihat sebagai kekuatan.

Tentu, hal ini tidak berarti bahwa perkembangan Muhammadiyah Surabaya merupakan hasil kerja para pendatang semata. Warga asli Surabaya memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kesinambungan gerakan. Mereka yang telah lama berjuang di ranting, menghidupkan masjid, mengelola amal usaha, membina generasi dan merawat hubungan dengan masyarakat setempat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan persyarikatan.

Yang menarik justru perjumpaan keduanya. Pengalaman lokal bertemu dengan pengalaman dari luar. Kader yang telah lama tinggal di Surabaya bertemu dengan kader yang baru datang. Dari perjumpaan semacam inilah seharusnya muncul kekuatan baru. Mungkin kita perlu mulai membiasakan diri melihat kader bukan semata-mata dari asal daerahnya, tetapi dari pengalaman, kemampuan, komitmen dan kesediaannya untuk berkontribusi.

Ada data organisasi yang menarik untuk dikomparasikan. Dalam rekapitulasi Amal Usaha Muhammadiyah se-Jawa Timur yang dipublikasikan Lazismu Jawa Timur, Surabaya tercatat memiliki 29 Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan 128 Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM). Sementara itu, Lamongan tercatat memiliki 27 PCM dan 363 PRM. Saya membandingkan dengan Lamongan karena di sanalah kampung halaman saya. Paling tidak saya mengetahui dinamika, potensi dan tantangan dalam berMuhammadiyah ala warga Lamongan.

Angka tersebut tentu perlu dibaca dengan hati-hati karena tahun pemutakhiran dan metode pendataannya tidak dijelaskan secara terperinci. Namun, sebagai gambaran, data itu memperlihatkan sesuatu yang menarik, yaitu jumlah cabang Surabaya dan Lamongan tidak terpaut jauh, tetapi jumlah ranting yang tercatat berbeda cukup besar.

Apa maknanya? angka tersebut mengingatkan kita bahwa perkembangan organisasi tidak selalu bisa dibaca dari satu ukuran. Jumlah cabang, jumlah ranting, banyaknya amal usaha, dan luasnya pelayanan merupakan indikator yang berbeda. Sebuah daerah bisa memiliki jaringan ranting yang luas, sementara daerah lain memiliki karakter perkembangan amal usaha dan kehidupan perkotaan yang berbeda.

Pengalaman saya mengenal Muhammadiyah di Lamongan memperlihatkan bagaimana kehidupan ranting dapat tumbuh sangat dekat dengan masyarakat desa atau akar rumput (grassroot). Di beberapa tempat, keberadaan PRM bahkan terasa sampai tingkat dusun (bagian wilayah pemerintahan suatu desa). Ranting tidak hanya menjadi nama dalam struktur organisasi, tetapi hadir melalui masjid, pengajian, kegiatan sosial dan amal usaha yang dikelola bersama warga.

Pertumbuhan semacam itu tentu tidak selalu mudah. Ada amal usaha yang berkembang secara perlahan karena mengandalkan kemampuan ekonomi jamaah yang terbatas. Tetapi, di sisi lain, ada semangat gotong royong dan militansi warga yang menjadi kekuatan tersendiri.

Surabaya memiliki tantangan yang berbeda. Sebagai kota metropolitan, kehidupan masyarakatnya lebih dinamis, mobilitas penduduk tinggi, dan kebutuhan sosial semakin beragam. Karena itu, kita tidak perlu membandingkan Surabaya dan Lamongan untuk menentukan mana yang lebih baik. Keduanya memiliki konteks dan tantangan masing-masing.

Justru perbandingan itu dapat menjadi bahan belajar. Surabaya dapat mengambil pelajaran tentang pentingnya menghidupkan basis organisasi hingga tingkat ranting, sementara daerah lain juga dapat belajar dari pengalaman pengelolaan amal usaha dan pelayanan perkotaan yang berkembang di Surabaya.

 

Tinggalkan Balasan

Search