Muhammadiyah Menilai Fenomena LGBTQ Jadi Tantangan Global

Ustaz Rofiq Muzakir, dalam Pengajian Karyawan PP Muhammadiyah. (ist)
www.majelistabligh.id -

Dunia saat ini tengah menghadapi tantangan moral dan sosial yang besar, salah satunya adalah maraknya fenomena Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Queer (LGBTQ) yang dinilai sebagai “penyakit” global yang sulit disembuhkan.

Hal tersebut ditegaskan oleh Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Ustaz Rofiq Muzakir, dalam Pengajian Karyawan PP Muhammadiyah yang digelar di Yogyakarta, Senin (6/7/2026).

Dalam tausiahnya, Rofiq awalnya memantik diskusi dengan melempar pertanyaan mengenai urgensi internasionalisasi Muhammadiyah. Menurutnya, gerakan internasionalisasi ini sangat krusial karena dunia global tanpa arah bimbingan Islam akan kehilangan kompas moralnya.

“Kasihan dunia sekarang, mereka sedang sakit. Tanpa Islam, dunia ini memprihatinkan,” ungkap Rofiq.

Ia menjabarkan bahwa salah satu “penyakit” terbesar yang dihadapi masyarakat global saat ini adalah pergeseran nilai lewat LGBTQ. Tantangan ini bukan lagi sekadar isu eksternal yang jauh, melainkan ancaman nyata yang sudah berada di lingkungan terdekat masyarakat Indonesia.

“Ini bukan masalah yang jauh, tapi sangat dekat. Bahkan bisa saja terjadi pada keponakan, atau bahkan anak-anak kita sendiri,” tuturnya mengingatkan audiens agar meningkatkan kewaspadaan.

Melalui perspektif Islam Berkemajuan yang berlandaskan tauhid murni nan fungsional, Muhammadiyah diharapkan mampu hadir menawarkan solusi sekaligus menjadi “penyembuh” bagi krisis moral yang sedang melanda dunia saat ini.

Pendekatan Humanis dan Rehabilitasi

Kendati memandang fenomena tersebut sebagai kekeliruan besar, Rofiq menegaskan bahwa sikap Muhammadiyah tetap berpijak pada prinsip kemanusiaan yang adil. Berdasarkan Fatwa Tarjih, kelompok LGBTQ tidak boleh dibenci, dimusuhi, atau dikucilkan dari pergaulan sosial. Sebagai warga negara, mereka tetap memiliki hak-hak sosial yang sama.

Alih-alih memberikan stigma negatif, Muhammadiyah mendorong pendekatan yang persuasif dan solutif melalui proses rehabilitasi. Langkah ini diharapkan dapat membantu mereka yang terdampak untuk kembali pada fitrah seksualnya.

Rofiq menambahkan, keberhasilan penanganan fenomena ini tidak bisa bertumpu pada satu pihak saja, melainkan menjadi tanggung jawab kolektif yang melibatkan pemerintah serta seluruh komponen masyarakat. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search