Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa seseorang yang tampak waras dan normal justru kerap terjebak dalam tindakan tercela, seperti korupsi, menyakiti orang lain, atau melontarkan kata-kata kasar?
Menurut Ustaz Adi Hidayat (UAH), fenomena ini bukanlah sekadar hilangnya kesadaran sesaat, melainkan gejala dari “penyakit jiwa” yang jauh lebih dalam. Dalam sebuah kajian yang menggugah, beliau menegaskan bahwa inti kehidupan manusia terletak pada jiwanya. Ketika potensi kebaikan gagal dioptimalkan, kegelapan potensi buruk akan dengan mudah mengambil alih kendali, mengubah manusia menjadi tawanan hawa nafsunya sendiri.
Dalam penjelasannya, Ustaz Adi Hidayat menguraikan bahwa di dalam jiwa manusia hanya ada dua potensi utama yang saling bertolak belakang.
“Kalau bukan potensi kebaikan, maka lawannya yang menjadi tidak baik. Potensi kebaikan itu disebut takwa. Lawannya yang sering dimanfaatkan oleh setan itu disebut fujur,” ujarnya merujuk pada dinamika internal manusia.
Beliau menekankan betapa seriusnya persoalan pengenalan diri ini dengan merujuk pada sumpah Allah dalam Al-Qur’an Surat Asy-Syams ayat 7-10.
“Allah itu kalau sudah bersumpah berarti sangat serius. Karena tanpa sumpah pun sudah serius. Saking pentingnya kita mengenali diri kita dan mampu mendalami tentang keadaan jiwa kita supaya tidak sakit jiwanya,” tegasnya.
Bukan Sekadar Hilang Kesadaran
Ustaz Adi Hidayat meluruskan pemahaman umum yang sering keliru mengenai definisi penyakit jiwa. Penyakit ini tidak selalu identik dengan kondisi kejiwaan klinis di mana seseorang tidak sadar atas perbuatannya.
“Penyakit jiwa sesungguhnya adalah orang yang tidak mampu mengoptimalkan potensi baiknya sehingga dominan dikuasai oleh potensi buruknya. Dan keluarlah kemudian tindakan-tindakan yang negatif yang menyimpang dari fitrah kejiwaannya,” jelasnya.
Penyakit ini, lanjutnya, tidak tersembunyi. Ia terlihat jelas melalui anggota tubuh (jawarih). Provokasi negatif yang bersemayam di jiwa akan diteruskan oleh akal, lalu bermanifestasi melalui lisan yang mengucapkan kata tak pantas, atau tangan yang melakukan pencurian, korupsi, dan tindakan mencederai orang lain.
“Penampakan jiwanya sakit itu ada pada anggota tubuhnya, karena cara kerja jiwa itu akan ditembuskan kepada akal, lalu ke seluruh bagian tubuh untuk bersikap,” tambahnya.
Lantas, bagaimana cara menyembuhkannya? Jawabannya terletak pada peningkatan takwa melalui jalan syariat. Ustaz Adi Hidayat menekankan bahwa syariat, termasuk ibadah seperti salat, puasa, dan haji, bukanlah beban atau rutinitas formalitas belaka, melainkan metode yang dirancang Allah untuk mengeluarkan potensi kebaikan manusia.
“Salat itu kalau benar dikerjakan, mampu membebaskan pelakunya dari dua sumber keburukan, baik fahsya ataupun mungkar. Itulah rahasianya kenapa anak usia 7 tahun diajarkan salat pertama kali. Karena diharapkan anak itu tumbuh menjadi pribadi yang baik di masa depan,” paparnya.
Hal serupa juga berlaku untuk puasa, yang secara alami mampu menekan seseorang dari perbuatan maksiat dan memperbaiki sifat buruk yang pernah dilakukan, menjadikannya momen transformasi diri yang nyata. || Disarikan dari video youtube “Penyakit Jiwa dan Cara Mengobatinya” oleh Ustaz Adi Hidayat Official.
