Muhammadiyah Sentil Pentingnya Ekosistem Syariah

Bendahara Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Hilman Latief.
www.majelistabligh.id -

Keberlanjutan dakwah organisasi keagamaan tidak hanya bergantung pada kekuatan finansial kelembagaan, tetapi juga resiliensi ekonomi para jemaahnya. Dua fondasi ini menjadi kunci utama Muhammadiyah dalam menghadapi tantangan zaman.

Hal tersebut ditegaskan oleh Bendahara Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Hilman Latief, dalam Pengajian PP Muhammadiyah bertajuk “Muhammadiyah dan Kemandirian Ekonomi Umat” di Kantor Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Jumat malam (25/9/2026).

Hilman menekankan pentingnya menerjemahkan narasi besar kemandirian ekonomi menjadi aksi nyata. Salah satu langkah konkret yang baru saja diresmikan adalah pendirian Koperasi Syariah Menara 62 di Kantor Pusat Dakwah Muhammadiyah.

“Langkah kecil ini diharapkan dapat menjadi wadah penggerak bersama,” ujar Hilman.

Meski Muhammadiyah memiliki potensi besar, jaringan luas, dan teknologi yang memadai, Hilman mengakui bahwa tantangan terbesar saat ini terletak pada kesiapan mental wirausaha para anggotanya. Tanpa mentalitas yang kuat, potensi besar tersebut belum bisa teroptimalkan dengan maksimal.

Sebagai komparasi, ia mengajak warga Muhammadiyah belajar dari lompatan ekonomi Tiongkok yang kini menjadi kekuatan global. Menurutnya, umat Islam tidak boleh menutup diri dari kerja sama internasional, sebagaimana para sahabat Nabi dahulu yang berdakwah hingga ke Tiongkok.

Tantangan Industri Halal dan Keuangan Syariah

Hilman juga menyoroti peran Muhammadiyah dalam sektor keuangan syariah dan industri halal. Kendati ekosistem filantropi organisasi sudah berjalan dengan baik, kontribusi Muhammadiyah dalam lembaga keuangan formal dan produk halal terbilang belum optimal.

“Dalam konteks keuangan dan industri syariah, kita belum memiliki produk unggulan yang benar-benar kuat. Padahal dengan modal resource yang melimpah, Muhammadiyah seharusnya bisa menjadi penopang utama,” tegasnya.

Terkait konsep “umat”, Hilman mengingatkan agar pemberdayaan ekonomi dimulai dari lingkaran terdekat, seperti keluarga, jemaah, dan lingkungan organisasi—bukan sekadar menatap kelompok yang jauh.

Secara khusus, Hilman mendorong Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) untuk lebih jeli melihat peluang bisnis masa kini, salah satunya industri fashion syariah yang digandrungi generasi milenial dan Gen Z.

Ia berharap generasi muda Muhammadiyah tidak terjebak pada wacana dan narasi yang terlalu berat, melainkan berani terjun langsung ke dunia kewirausahaan memanfaatkan teknologi digital.

“Coba wacananya jangan seperti orang tua yang berat-berat terus. Sentuhlah aspek wirausaha, misalnya dunia fashion syariah yang trennya sangat pesat. Jangan sia-siakan peluang dan kemudahan teknologi yang ada,” pungkasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search