Dear kamu,
Muhammadiyah akhir-akhir ini mungkin terlihat menarik. Di media sosial, kamu melihat wajahnya yang rapi, progresif, rasional, modern, dan penuh kerja nyata. Kamu melihat sekolah, rumah sakit, kampus, gerakan kemanusiaan, tokoh-tokoh yang berbicara jernih, dan kader-kader muda yang tampak percaya diri membawa identitas Muhammadiyah ke ruang publik.
Tapi izinkan saya, sebagai kader aktif di Muhammadiyah, mengatakan sesuatu dengan jujur bahwa Muhammadiyah tidak seindah potongan-potongan yang kamu lihat di media sosial.
Muhammadiyah bukan organisasi yang sempurna. la tidak selalu berisi kabar baik. Di dalamnya ada kerja sunyi, ada konflik kecil, ada kelelahan kader, ada rapat yang panjang, ada dinamika antarorang, ada problem akar rumput, ada kesenjangan antara gagasan besar dan pelaksanaan di lapangan. Ada ranting yang hidup, ada juga yang nyaris mati. Ada amal usaha yang maju, ada juga yang harus berjuang hanya untuk tetap berjalan. Ada kader yang ikhlas, ada pula yang masih belajar menata niatnya.
Ketenaran Muhammadiyah hari ini tidak lahir dari euforia sesaat. la dibangun oleh tangan-tangan yang bekerja sebelum kamera menyala. Oleh guru yang mengajar dengan gaji terbatas. Oleh pengurus ranting yang menjaga pengajian kecil tetap hidup. Oleh tenaga kesehatan yang melayani tanpa banyak bicara. Oleh kader yang mengurus bencana, pendidikan, ekonomi umat, dan dakwah sehari-hari tanpa perlu diumumkan ke mana-mana.
Jadi, kalau kamu ingin bergabung ke Muhammadiyah hanya karena sedang ramai dibicarakan, PIKIRKAN lagi. Bukan untuk menakut-nakutimu. Bukan pula untuk menutup pintu. Muhammadiyah tidak seharusnya menjadi ruang eksklusif bagi orang yang merasa paling paham. Justru Muhammadiyah harus terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar, bertumbuh, dan ikut bekerja.
Namun, masuklah dengan kesadaran bahwa Muhammadiyah bukan tempat mencari panggung semata. Bukan tempat untuk merasa lebih benar dari kelompok lain. Bukan alat untuk menjatuhkan organisasi Islam yang berbeda jalan. Muhammadiyah bukan agama. Muhammadiyah hanyalah wadah perjuangan. Islam jauh lebih besar daripada organisasi mana pun.
Di Muhammadiyah, kamu akan belajar bahwa dakwah tidak selalu berupa ceramah. Dakwah bisa berupa sekolah yang dikelola dengan baik, klinik yang melayani masyarakat kecil, data yang digunakan untuk mengambil keputusan, bantuan bencana yang datang cepat, dan pengajian yang tetap hidup meski hanya dihadiri beberapa orang. Dakwah juga bisa melalui tulisan yang mencerahkan pada media-media afiliasi Muhammadiyah.
Tapi kamu juga perlu tahu, Muhammadiyah harus terus dikritik dari dalam. Jangan hanya bangga pada nama besarnya. Jangan hanya mengulang romantisme sejarah. Jangan hanya sibuk dengan citra modern, sementara problem kaderisasi, pemerataan gerakan, dan kepekaan sosial di akar rumput diabaikan. Organisasi sebesar Muhammadiyah bisa menjadi lamban kalau terlalu nyaman dengan reputasinya sendiri.
Maka kalau kamu datang, datanglah bukan sebagai pengagum yang mudah kecewa. Datanglah sebagai pembelajar. Kalau niatmu belum sepenuhnya bersih, tidak apa-apa. Niat manusia memang sering tumbuh pelan-pelan. Yang penting, jangan berhenti di FOMO (Fear of Missing Out. rasa takut tertinggal). Jangan hanya ikut tren. Jangan hanya memakai identitas. Kerjakan sesuatu. Belajar. Hadir. Dengarkan. Berkontribusi.
Muhammadiyah tidak membutuhkan orang yang hanya ingin terlihat Muhammadiyah. Muhammadiyah membutuhkan orang yang mau ikut memikul kerja-kerja Muhammadiyah.
Dan bagi kami yang sudah lebih dulu berada di dalamnya, fenomena anak muda yang datang ini juga harus menjadi cermin.
Jangan terlalu cepat curiga. Jangan merasa paling senior. Jangan membuat Muhammadiyah tampak seperti rumah tua yang pintunya berat untuk dibuka.
Kalau anak muda datang karena kagum, tugas kita bukan mengusir mereka dengan ujian niat, tetapi membantu mereka menemukan makna gerakan ini dengan lebih jujur.
Sebab pada akhirnya, Muhammadiyah bukan tentang siapa yang paling lama berada di dalamnya. Muhammadiyah adalah tentang siapa yang terus berusaha menghidupkan amal, ilmu, dan kebermanfaatan. Jadi, pikirkan baik-baik sebelum masuk. Dan kalau sudah masuk, jangan hanya bangga. Bekerjalah! || sumber: Threads _alwan.fakhry
