Musibah adalah Jalan Penggugur Dosa dan Mengangkat Derajat

www.majelistabligh.id -

Kehidupan manusia tidak akan pernah lepas dari perputaran roda ujian Allah Swt. Duka dan kesenangan, serta nikmat dan musibah, datang silih berganti sebagai bagian dari ketetapan-Nya untuk menguji kualitas iman setiap hamba.

Hal tersebut ditegaskan oleh Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PWM DIY, Yusup Siradz, S.Pd.I., M.S.I., di Masjid Noor Pakuningratan, Yogyakarta, Jumat (23/10/2026).

Yusup menjelaskan bahwa fenomena bencana alam dan berbagai ujian hidup lainnya tidak sepatutnya langsung diartikan sebagai bentuk azab atau kebencian Allah Swt kepada manusia.

“Ujian yang datang merupakan pembuktian sejauh mana seorang hamba mau bertaqarrub (mendekatkan diri), beristighfar, dan bermunajat kepada Allah,” ujar Yusup.

Guru Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta ini merincikan empat hikmah utama di balik musibah yang menimpa manusia:

1. Menguji Ketabahan dan Keistikamahan

Melalui musibah, Allah Swt ingin melihat sejauh mana ketabahan dan keteguhan iman manusia untuk tetap berada di jalan-Nya dalam kondisi sulit.

2. Gugurnya Benih-Benih Dosa

Setiap rasa lelah, sakit, hingga kesusahan kecil yang dihadapi dengan kesabaran dapat menjadi pembersih dosa. Hal ini mengacu pada hadis riwayat Bukhari bahwa tidaklah seorang muslim tertimpa cobaan melainkan Allah akan menghapuskan sebagian kesalahan atas kesabarannya.

3. Peringatan untuk Evaluasi Diri (Muhasabah)

Musibah berfungsi sebagai teguran agar manusia bersedia melakukan evaluasi diri. Yusup menyoroti maraknya kerusakan lingkungan di darat maupun laut yang merupakan akibat dari ulah tangan manusia sendiri (QS. Ar-Rum: 41), agar manusia segera bertaubat dan kembali ke jalan yang benar.

4. Sarana Penentu Kenaikan Derajat

Selain dari usaha dan ibadah rutin, kemuliaan derajat seorang hamba di mata Allah juga ditempuh melalui kelulusannya saat menghadapi ujian hidup dengan ketakwaan dan ketenangan.

Di akhir khutbahnya, Yusup mengajak umat Islam untuk menyikapi setiap persoalan dengan arif dan bijaksana. Bagi seorang muslim, respon serta sikap dalam menyelesaikan masalah menjadi indikator utama keberhasilan dalam melewati ujian kehidupan. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search