Negativity Bias: Mengapa Manusia Cenderung Fokus pada Keburukan?

Negativity Bias: Mengapa Manusia Cenderung Fokus pada Keburukan?
*) Oleh : Abdul Hafid
Anggota LDK PDM Bojonegoro
www.majelistabligh.id -

Melihat dinamika interaksi sosial sehari-hari, kita sering melihat hubungan pertemanan terkadang rusak begitu saja. Kedekatan pertemanan itu hancur disebabkan oleh sebuah permasalahan kecil yang terjadi. Saat itulah sifat egois manusia muncul. Ada semacam penyakit amnesia menyerang yang membuat mendadak lupa dengan kebaikan yang pernah dilakukan oleh orang tersebut.

Kita mungkin pernah mendengar peribahasa “panas setahun dihapus oleh hujan sehari” atau “karena nila setitik, rusak susu sebelanga”. Peribahasa ini tampaknya masih menjadi gambaran kondisi psikologi sosial kita. ini adalah cerminan sifat manusia yang kadang mudah melupakan seribu kebaikan hanya karena satu kesalahan. Lalu, bagaimana Al-Qur’an membedah fenomena amnesia kebaikan ini?

Secara psikologi, manusia cenderung lebih fokus, mudah mengingat dan lebih terpengaruh oleh pengalaman atau informasi negatif dibandingkan hal positif yang disebut dengan negativity bias. Al-Qur’an telah jauh menggambarkan fenomena ini bukan sekadar mekanisme biologis, namun ini adalah masalah integritas hati. Dalam Surah Al-’Adiyat ayat 6, Allah berfirman:
اِنَّ الْاِ نْسَا نَ لِرَبِّهٖ لَـكَنُوْدٌ
Sungguh, manusia itu sangat ingkar (tidak bersyukur) kepada Tuhannya.”

Imam Hasan Al-Bashri menjelaskan bahwa Al-Kanud adalah tipikal orang yang senantiasa menghitung-hitung musibah dan kesulitan yang menimpanya, namun ia menutup mata dan melupakan ribuan nikmat yang telah diberikan oleh Tuhannya. Jika kepada Allah yang memberikan segala kenikmatan saja manusia bisa melupakan kebaikan, maka tidak heran jika sifat ini akan terbawa ke dalam relasi pertemanan dan menjadikannya kolektor kesalahan.

Seseorang yang terjebak ekspektasi akan menjadi pelupa terhadap kebaikan orang lain karena adanya adaptasi hedonik (hedonic adaptation). Ketika ada orang yang terus-menerus berbuat kebaikan kepada kita, maka kebaikan secara perlahan kehilangan nilainya. Berbuat baik akan berubah menjadi sesuatu yang lumrah, bahkan bergeser menjadi ekspektasi atau hak yang harus dipenuhi.

Ketika orang tersebut melakukan satu kesalahan atau gagal memenuhi ekspektasi kita, maka kita akan merasa dikhianati dan menjadi lupa bahwa dialah orang yang sering memberikan pertolongan. Dalam hal ini, ego manusia sering kali menjadi besar sehingga melupakan rasa syukurnya. Kita akan merasa punya hak untuk selalu mendapatkan kebaikan dan lupa bahwa manusia adalah tempatnya salah dan lupa.

Al-Qur’an telah memberikan rambu yang sangat indah untuk mencegah rusaknya hubungan manusia, terutama ketika terjadi konflik. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 237, Allah berfirman:
وَ لَا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ
“...Dan janganlah kamu lupa kebaikan di antara kamu…”

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan, ayat ini adalah perintah bagi setiap mukmin untuk tetap menggunakan akal sehat, nurani, dan kemuliaan akhlak meski dalam kondisi berselisih. Hubungan yang baik di masa lalu harus menjadi pertimbangan sebelum seseorang menjatuhkan hukuman atau memutus silaturahmi. Mengingat fadhl (keutamaan atau kebaikan) orang lain adalah perisai agar kita tidak jatuh pada kezaliman. Orang yang mulia adalah orang yang mampu melihat sisi terang seseorang di tengah kegelapan konflik yang sedang terjadi.

Islam mengajarkan bahwa syukur kepada Allah belum sempurna tanpa adanya rasa terima kasih kepada sesama manusia. Sebagaimana diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ Mَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ
Tidak dikatakan bersyukur kepada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih kepada manusia.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954).

Syukur adalah obat dari amnesia kebaikan dengan melatih memori kita secara sadar. Jika suatu saat kita merasa marah kepada teman, pasangan, atau rekan kerja, berhentilah sejenak dan lihat, berapa kali dia menolong kita di saat kita susah? Berberapa kali ia meluangkan waktunya yang berharga hanya untuk mendengarkan keluh kesah kita?

Jangan sampai satu kesalahan menghapus seribu kebaikan. Kita sadari bahwa manusia memiliki banyak kekurangan, yang suatu hari nanti kita berharap orang lain ingat dengan kebaikan yang pernah kita lakukan. Berhenti menjadi akuntan kesalahan dan mulai berbenah diri menjadi penulis setiap kebaikan. Kita harus belajar menuliskan kesalahan orang lain di atas pasir pantai agar mudah terhapus ombak, dan menulis kebaikan di atas batu karang agar selalu abadi dalam ingatan. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search