Otak Kita Memang Tidak Pernah Puas

Otak Kita Memang Tidak Pernah Puas
*) Oleh : Muhamad Fikri Aththoriq, S.Pd
Anggota Majelis Tabligh PCM Blimbing Daerah Sukoharjo
www.majelistabligh.id -

Pernah nggak sih… kita merasa senang saat mendapatkan sesuatu—barang baru, pencapaian, atau kabar baik—
tapi tidak lama kemudian, rasa itu hilang dan kita mulai menginginkan hal lain?

Seolah-olah, rasa puas itu tidak pernah benar-benar bertahan.

Fenomena ini bukan sekadar perasaan biasa. Dalam kajian neurosains, hal ini berkaitan dengan zat kimia di otak yang disebut dopamin.

Dopamin sering dianggap sebagai “hormon kebahagiaan”. Padahal, fungsi utamanya bukan membuat kita bahagia. Melainkan mendorong kita untuk:
• menginginkan sesuatu
• mengejar sesuatu
• dan terus mencari sesuatu yang baru

Artinya, dopamin tidak bekerja pada “kepuasan”, tetapi pada keinginan. Itulah kenapa
• setelah membeli sesuatu → ingin lagi
• setelah mencapai sesuatu → target baru muncul
• setelah bahagia → muncul rasa kosong lagi

Penelitian dalam bidang neurosains menunjukkan bahwa sistem dopamin lebih aktif saat mengantisipasi sesuatu dibanding saat benar-benar mendapatkannya. (Sumber: Wolfram Schultz, penelitian tentang sistem reward dopamin dalam Nature Reviews Neuroscience)

Akibatnya, manusia terus berada dalam siklus ingin → mendapatkan → sebentar puas → ingin lagi. Dan tanpa disadari, ini membuat kita merasa “tidak pernah cukup.”

Dalam Islam, Rasulullah ﷺ telah menggambarkan sifat ini dengan sangat jelas,
لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ذَهَبٍ، لَابْتَغَى وَادِيًا ثَالِثًا، وَلَا يَمْلَأُ فَمَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
Seandainya anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari lembah ketiga. Dan tidak akan memenuhi (keinginan) perut anak Adam kecuali tanah. Dan Allah menerima taubat siapa yang bertaubat.” (HR. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa kecenderungan manusia untuk “tidak pernah puas” memang sudah menjadi bagian dari tabiatnya.

Namun Islam tidak membiarkan manusia terjebak dalam siklus itu. Islam mengajarkan qonaah—bukan untuk menghentikan usaha, tetapi untuk mengendalikan keinginan.

Jika dilihat dari sisi ilmiah dan spiritual, otak mendorong kita untuk terus ingin. Tapi hati yang terlatih bisa mengendalikan arah keinginan itu. Maka masalahnya bukan karena kita punya keinginan. Tapi karena kita tidak pernah mengendalikannya.

Belajar cukup bukan berarti berhenti bermimpi. Tapi tahu kapan harus berhenti mengerjakan dan mulai mensyukuri.

Karena jika tidak, kita akan terus berlari—tanpa pernah benar-benar sampai. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search