Hidup ini Allah yang mengatur. Kita hanya menjalaninya, orang lain akan menilai dan mengomentari dengan penilaian dan komentar baik atau buruk. Sebaik apapun kita, Sunnatullah-Nya pasti ada yang suka dan ada yang benci.
Imam Syafi’i berkata,
ما أحد الا وله محب ومبغض, فان كان لا بدّ من ذلك, فليكن المرء مع أهل طاعة الله عز وجل.
“Setiap orang pasti ada yang mencintai dan ada yang membenci. Hendaklah selalu bersama orang-orang yang taat kepada Allah.” (Mawa’idh Imam syafi’i).
Manusia terbaik di muka bumi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, paling baik akhlaknya, pemberi keteladanan.
- Bagus wajah dan penampilannya.
- Paling sabar menghadapi manusia
- Tetap saja ada yang membencinya.
Kita diperintahkan untuk bersabar dalam situasi bagaimanapun. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,
“صبرا جميلا ما أقرب الفرجا..
Bersabarlah yang baik maka kelapangan itu begitu dekat.
من راقب الله في الأمور نجا..
“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dalam segala urusannya maka dia pasti akan selamat.”
من صدق الله لم ينله أذى..
“Barang siapa yang yakin dengan Allah Azza wa Jalla, maka ia pasti tidak merasakan penderitaan.”
و من رجاه يكون حيث رجا..”
“Barangsiapa berharap kepada Allah Azza wa Jalla maka Allah Azza wa Jalla pasti akan memberi pertolongan.” (Kitab Tafsir Ibnu Katsir 8/432).
Islam menyuruh kita agar tidak mendiamkan diri jika kemungkaran terjadi di hadapan kita dengan mencegah atau memberikan nasihat dengan hikmah sesuai kemampuan.
Allah Azza wa Jalla berfirman,
إنَّ اللهَ كان عَلَيْكُمْ رقيبا
“Sesungguhnya Allah Maha Mengawasi kamu sekalian.” (QS. An-Nisaa’: 1).
وكان اللهُ عَلى كُلِّ شَيْءٍ رَقِيْباً
“Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzaab: 52).
Maha Suci Allah yang telah menciptakan satu hati dalam rongga dada manusia, dan cukuplah untuk dikatakan seseorang itu berdusta jika mengatakan bahwa dia mempunyai dua hati dan mampu mendua dalam rongga dadanya.
Allah Azza wa Jalla hanya menciptakan satu hati saja untuk setiap manusia, dan terkumpul di dalamnya rasa bahagia dan rasa sedih. Dua hal yang akan selalu menyertai manusia selama di dunia dan hingga ujung kehidupan di akhirat kelak.
Allah Azza wa Jalla melarang kita bersedih,
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran: 139).
Dalam ayat tersebut, Allah Azza wa Jalla melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk bersikap lemah dan bersedih hati ketika tertimpa musibah dan ketika diuji dengan sebuah ujian.
Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216). (*)
