“If the affairs of the world make you far from Allah, then the world is deceiving you. But if obedience to Allah makes you lose the world, know that Allah is preparing something better for you.”
“(Jika urusan dunia membuatmu jauh dari Allah, maka dunia itu sedang menipumu. Namun jika ketaatan kepada Allah membuatmu kehilangan dunia, ketahuilah bahwa Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik untukmu).”
Kisah Pelatih Tim Nasional Senegal, Pape Thiaw, yang dikabarkan tetap memilih menunaikan salat Jumat meskipun cuaca buruk, memberikan pelajaran berharga tentang prioritas hidup seorang Muslim. Terlepas dari perlunya verifikasi terhadap detail kisah yang beredar, pesan moralnya sangat jelas: kewajiban kepada Allah SWT harus didahulukan di atas segala urusan dunia.
Allah SWT berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menjelaskan bahwa tujuan utama penciptaan manusia adalah beribadah, mentauhidkan Allah, serta menaati seluruh perintah-Nya. Allah SWT juga berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. Al-Jumu’ah: 9)
Menurut Tafsir Al-Muyassar, ayat ini menegaskan bahwa ketika panggilan salat Jumat berkumandang, seluruh kesibukan dunia hendaknya ditinggalkan demi memenuhi panggilan Allah SWT. Dalam hadis, Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ
“Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi…. “(HR. Tirmidzi No. 413 dan An-Nasa’i No. 466)
Hadis ini menunjukkan bahwa salat merupakan tiang agama dan ukuran utama kualitas amal seorang hamba.
Kisah Pape Thiaw mengingatkan kita agar tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Jabatan, popularitas, dan harta hanyalah sementara, sedangkan ketaatan kepada Allah adalah bekal menuju kehidupan abadi. Seorang mukmin yang mengutamakan Allah akan memperoleh keberkahan dan kecukupan dalam urusannya.
Marilah kita senantiasa menjaga sholat, mendahulukan perintah Allah SWT di atas kepentingan dunia, serta menjadikan setiap aktivitas sebagai jalan meraih ridha-Nya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang istiqamah dalam ketaatan.
Semoga bermanfaat.
