Ustaz Adi Hidayat: Investasi Terbaik adalah Generasi Qurani

Ustaz Adi Hidayat
www.majelistabligh.id -

Di tengah hiruk-pikuk manusia memperebutkan status sosial, jabatan, dan kemewahan materi, Ustadz Adi Hidayat (UAH) memberikan sebuah tamparan spiritual yang mendalam. Beliau mengingatkan bahwa segala bentuk kemegahan di dunia ini sejatinya hanyalah kepalsuan yang bersifat sementara, dan kompetisi sejati yang harus dimenangkan oleh umat manusia adalah perlombaan menuju kehidupan abadi di akhirat.

Dalam sebuah ceramah mendalam yang diunggah melalui kanal YouTube resminya, Ustadz Adi Hidayat menyoroti kecenderungan manusia yang kerap kali terlalu mengistimewakan hal-hal yang fana.

Beliau menggarisbawahi betapa semunya perbedaan status sosial yang diciptakan manusia. Kaya atau miskin, pejabat atau rakyat jelata, semuanya akan kembali ke tempat yang sama dan mendambakan gelar akhir yang serupa di papan nisan mereka, yaitu ‘almarhum’.

“Kenapa sih yang di dunia itu terlalu diistimewakan? Mengistimewakan yang hilang itu tidak ada kerjaan. Mengagungkan yang hancur, yang sifatnya fana. Di dunia itu semu, dunia itu sebentar aja dan tidak pasti sifatnya,” ujar Ustadz Adi Hidayat.

Lebih lanjut, UAH menekankan bahwa pencapaian duniawi seperti gelar akademik dari universitas ternama luar negeri maupun keahlian sains bukanlah sesuatu yang istimewa jika tidak dibarengi dengan orientasi akhirat.

Menurutnya, orang yang tidak beriman pun bisa menguasai matematika atau fisika, sehingga hal tersebut bukanlah tolok ukur kemuliaan yang sejati di hadapan Allah Swt.

Teladan dari Abdullah bin Abbas

Sebagai teladan nyata, UAH mengangkat kisah Abbas radhiyallahu ‘anhu dan anaknya, Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas). Abbas, meskipun sibuk dengan urusan perniagaan dan dunianya, memiliki visi yang sangat cerdas dan visioner untuk masa depan sang anak. Ia memastikan anaknya lekat dengan Nabi Muhammad saw sejak dini agar menjadi ahli agama. Buah dari visi tersebut begitu luar biasa; jika Abbas menghafal sekitar 200 hadis, sang anak, Ibnu Abbas, berhasil menghafal hingga 2.000 hadis.

“Beliau (Abbas) ini sesibuk-sibuknya masih berpikir: ‘Investasi saya boleh sibuk, tidak dapat semua hadis Nabi, tapi anak saya mesti mendapatkan yang luput dari saya. Saya boleh tidak mendapatkan semua Al-Qur’an, tapi anak saya mesti ada yang jadi ahli Qur’an’,” tutur UAH menirukan cara berpikir Abbas.

UAH mengajak para orang tua modern—baik yang bekerja sebagai diplomat, pegawai kantor, pedagang, hingga ibu rumah tangga—untuk merenungkan warisan apa yang sedang mereka persiapkan. Beliau mengimbau agar setiap keluarga menyiapkan minimal satu anak untuk menjadi penghafal Al-Qur’an sebagai pelita dan kebanggaan sejati di akhirat kelak.

Keuntungan terbesar dari investasi spiritual ini, jelas UAH, adalah aliran pahala yang tidak akan terputus. Ketika orang tua memfasilitasi anaknya untuk menjadi ahli agama, maka setiap ilmu dan kebaikan yang diamalkan sang anak akan terus mengalirkan pahala kepada orang tuanya, sekalipun orang tua tersebut tidak mencapai derajat keilmuan yang sama semasa hidup.

Di akhir ceramahnya, Ustadz Adi Hidayat mengingatkan kembali bahwa popularitas di dunia sangat cepat tenggelam, namun kedudukan di sisi Allah akan kekal melintasi zaman.

“Dunia itu sementara, yang diputuskan viral hari ini, kadang-kadang besok sudah tidak ada lagi. Tapi, kalau orang-orang yang dihiraukan oleh Allah atas kehendak Allah, itu abadi melintasi setiap masa,” pungkasnya. || Disarikan dari video youtube Adi Hidayat Official dengan judul “Apa sih yang diharapkan dari dunia ini?”

Video selengkapnya dapat disaksikan melalui tautan YouTube berikut: https://www.youtube.com/watch?v=hh5htqkAdvw

Tinggalkan Balasan

Search