Paradigma Pendidikan: Lain Dulu Lain Sekarang

*) Oleh : Jatim, M.A.
Litbang SD Muhammadiyah 29 Surabaya
www.majelistabligh.id -

Menjadi guru berpengalaman berkat pengabdian yang cukup lama di dunia pendidikan—sehingga dikenal sebagai guru senior—membuat seseorang mau tidak mau harus bermetamorfosis pada era sekarang. Hal ini disebabkan oleh kemajuan peradaban dan kecanggihan teknologi yang membawa perubahan zaman secara tak terelakkan.

Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “paradigma” memiliki tiga arti:

  1. Daftar bentukan kata: Daftar semua bentuk dari sebuah kata yang memperlihatkan konjugasi (perubahan bentuk kata kerja) dan deklinasi (perubahan bentuk kata benda/sifat).
  2. Model ilmu: Model dalam teori ilmu pengetahuan.
  3. Kerangka berpikir: Cara pandang, model utama, atau pola seseorang dalam memahami dan menyikapi suatu permasalahan.

Istilah paradigma yang dimaksud dalam tulisan ini merujuk pada arti ketiga, yakni pola pandang seseorang dalam menyikapi suatu permasalahan. Apabila dikaitkan dengan judul di atas, pembahasan lebih menitikberatkan pada perbandingan paradigma pendidikan dulu dengan sekarang.

Berangkat dari keresahan seorang guru yang melihat perkembangan peserta didik—terutama terkait masalah sikap atau adab siswa—penulis terinspirasi untuk mengangkat topik ini sesuai dengan judul di atas.

Perbedaan utama paradigma pendidikan dulu dengan sekarang bermula dari pergeseran pusat pembelajaran, dari berpusat pada guru (teacher-centered) menjadi berpusat pada siswa (student-centered).

Pusat Pembelajaran dan Peran Guru

  • Dahulu: Guru merupakan sumber utama ilmu pengetahuan (teacher-centered). Siswa cenderung pasif mendengarkan dan menghafal materi yang diberikan guru.
  • Sekarang: Guru berperan sebagai fasilitator atau mentor. Siswa didorong aktif mencari informasi sendiri, berpikir kritis, dan memecahkan masalah.

Sumber dan Teknologi Belajar

  • Dahulu: Sangat terbatas pada buku teks cetak, papan tulis hitam dengan kapur, serta penjelasan lisan di kelas.
  • Sekarang: Sangat luas dan berbasis digital. Siswa memanfaatkan internet, video pembelajaran, e-learning, hingga perangkat seperti laptop dan gawai.

Orientasi dan Tujuan

  • Dahulu: Lebih menekankan pembentukan karakter, kepatuhan, serta penanaman sopan santun secara tradisional.
  • Sekarang: Berfokus pada pengembangan kompetensi abad ke-21 (kreativitas, kolaborasi, komunikasi, berpikir kritis, dan penguasaan iptek).

Bentuk Disiplin dan Hukuman

  • Dahulu: Hukuman fisik atau teguran keras yang tegas sering diterapkan di kelas.
  • Sekarang: Menggunakan pendekatan disiplin positif, teguran lisan, atau konsekuensi akademik seperti membaca buku.

Perbedaan Output Dulu dengan Sekarang

Perubahan output lulusan tidak terlepas dari pergeseran kurikulum, orientasi sistem, dan tuntutan zaman.

  • Dahulu: Pendidikan berfokus menghasilkan lulusan yang patuh dan menguasai teori.
  • Sekarang: Fokusnya adalah menghasilkan lulusan yang adaptif, kreatif, dan melek digital.

Berikut adalah perbandingan mendalam terkait aspek penyebab dan perbedaan outputnya:

  1. Orientasi Kemampuan Lulusan
  • Dulu: Berfokus pada hafalan akademis (rote learning) dan mengutamakan nilai angka di atas kertas.
  • Sekarang: Berfokus pada kompetensi, kemampuan berpikir kritis (critical thinking), penguatan karakter, dan pemecahan masalah (problem solving).
  1. Kesiapan Menghadapi Dunia Kerja
  • Dulu: a. Mencetak lulusan untuk menjadi pekerja kantoran atau PNS. b. Kemampuan teknis (hard skill) sangat mendominasi.
  • Sekarang: a. Mencetak lulusan untuk menjadi inovator, wirausahawan, atau pekerja kreatif. b. Menjaga keseimbangan antara hard skill dan kemampuan sosial (soft skill), seperti kolaborasi.
  1. Penguasaan Teknologi dan Informasi
  • Dulu: a. Output gagap teknologi karena keterbatasan fasilitas. b. Sumber informasi tunggal hanya dari guru dan buku cetak.
  • Sekarang: a. Output fasih digital (digital native) dan mampu mengolah data. b. Akses sumber informasi tanpa batas dari internet dan kecerdasan buatan (AI).
  1. Sikap dan Mentalitas
  • Dulu: Cenderung seragam, patuh pada instruksi, dan takut salah.
  • Sekarang: Lebih berani berpendapat, menghargai keberagaman, dan fleksibel.

Tanda Perubahan Paradigma Pembelajaran

Perubahan paradigma pembelajaran masa kini ditandai dengan pergeseran dari pembelajaran tradisional yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran modern yang berpusat pada siswa serta berbasis teknologi digital.

Adapun ciri utama perubahan paradigma tersebut adalah:

  1. Guru sebagai Fasilitator: Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber utama informasi, melainkan berperan sebagai fasilitator, pembimbing, dan mitra belajar yang mengarahkan siswa.
  2. Pembelajaran Aktif: Siswa didorong untuk aktif mencari tahu, berdiskusi, dan mengeksplorasi pengetahuan secara mandiri, bukan sekadar mendengarkan ceramah secara pasif di kelas.
  3. Berbasis Teknologi dan Digital: Pemanfaatan platform e-learning, internet, video pembelajaran, dan aplikasi digital membuat proses belajar dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja tanpa batasan ruang.
  4. Fokus pada Kompetensi dan Karakter: Orientasi pembelajaran bergeser dari sekadar menghafal materi buku teks ke penguasaan kompetensi, keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, serta penguatan karakter.
  5. Pembelajaran Berdiferensiasi: Proses belajar dirancang lebih fleksibel dan disesuaikan dengan tahap perkembangan serta kebutuhan belajar setiap individu siswa.

Sisi Positif dan Negatif Perubahan Paradigma

Sisi Positif

  • Student-Centered: Siswa lebih aktif mengeksplorasi pengetahuan serta berpikir kritis dan kreatif melalui pendekatan modern.
  • Akses Tanpa Batas: Teknologi digital dan internet memudahkan pencarian materi belajar dari berbagai belahan dunia.
  • Fleksibilitas Kurikulum: Kurikulum dirancang adaptif terhadap minat, bakat, serta kebutuhan abad ke-21.

Sisi Negatif

  • Distraksi Digital: Ketergantungan pada gawai sering memicu kecanduan gim daring dan menurunkan fokus belajar.
  • Degradasi Etika: Sebagian orientasi bergeser secara instan hanya demi mengejar angka rapor atau nilai ujian.

Dari beberapa uraian di atas, pertanyaannya adalah: mengapa hal demikian terjadi?

Setidaknya ada dua alasan paling mendasar, yaitu:

  1. Perubahan Kurikulum: Transisi dari kurikulum berbasis materi (seperti Kurikulum 1994) menjadi kurikulum berbasis fleksibilitas siswa (seperti Kurikulum Merdeka).
  2. Perkembangan Zaman: Dunia industri masa kini tidak lagi membutuhkan manusia yang bekerja seperti robot, melainkan manusia yang mampu berinovasi bersama teknologi.

Berangkat dari berbagai permasalahan yang ada—baik perbedaan paradigma pendidikan lama maupun baru—kondisi ini diperparah oleh pengaruh gawai yang luar biasa pada peserta didik (khususnya Generasi Alpha). Akibatnya, sebagian siswa cenderung cuek, pemalas, rendah semangat belajar, sempit tingkat berpikirnya, bermentalitas rapuh, serta bertindak semaunya sendiri. Hal inilah yang membuat tantangan dalam dunia pendidikan semakin berat.

Semoga Allah Swt senantiasa membuka hati para orang tua siswa agar lebih proaktif melakukan pendampingan dan pengawasan, baik terkait penggunaan ponsel pintar maupun kegiatan belajar di rumah, sehingga tumbuh kembang anak menjadi lebih baik. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search