Paradoks Sembelihan: Memanjangkan Doa Kurban, Memperpanjang Hewan Tersiksa

Paradoks Sembelihan: Memanjangkan Doa Kurban, Memperpanjang Hewan Tersiksa
*) Oleh : Agus Rosid
Pekerja Sosial, Alumni STKS Bandung dan Anggota Takmir Masjid Baitul Fadli Surabaya
www.majelistabligh.id -

Sebentar lagi umat Islam kembali disibukkan dengan ritual kurban untuk meneladani ketaatan Nabi Ibrahim. Momentum yang bisa menghadirkan pahala dan keutamaan, tetapi juga bisa berubah menjadi kezaliman ketika adab penyembelihan hewan kurban kurang diperhatikan.

Prosesi ibadah kurban dalam Islam bukan sekadar aktivitas menyembelih hewan lalu membagikan daging kepada masyarakat, melainkan di dalamnya ada pelajaran penting tentang kasih sayang dan adab terhadap makhluk Allah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah mewajibkan ihsan atas segala sesuatu. Maka jika kalian menyembelih, sembelihlah dengan cara yang baik…” [HR. Muslim 1955]

Dalam konteks ini, ihsan tidak berhenti pada niat, tapi harus terlihat dalam setiap gerakan saat menyembelih. Untuk itu, seluruh proses penyembelihan hewan semestinya dilakukan dengan penuh kebijakan dan kebajikan. Ada aturan yang perlu dijadikan pedoman, tidak sekadar grusa grusu agar bisa segera menyelesaikan tugas sebagai panitia kurban.

Kita kerap kali lupa arti pentingnya ‘ihsan’ dalam penyembelihan. Di antaranya, menggunakan pisau yang tajam, mempercepat proses sembelihan, serta menghindarkan hewan dari rasa sakit yang tidak perlu. Bahkan mengasah pisau di depan hewan pun termasuk hal yang dimakruhkan karena dapat menambah ketakutan hewan.

Realitasnya dalam praktik di lapangan, masih ditemukan pemandangan yang kurang mencerminkan sikap ihsan dalam menjalankan syariat kurban. Salah satunya adalah kebiasaan membaca doa terlalu panjang ketika hewan sudah direbahkan dan siap disembelih.

Bayangkan, tidak jarang seekor sapi sudah dalam posisi terikat, leher ditekan, napas mulai terengah, bahkan terlihat memberontak karena takut, tetapi proses penyembelihan belum juga dilakukan karena pembacaan doa, kumandang takbir, atau penyebutan nama shahibul kurban yang cukup panjang.

Padahal dalam kondisi seperti itu, hewan sedang berada dalam ketakutan dan tekanan. Semakin lama jeda sebelum penyembelihan dilakukan, semakin besar pula rasa takut dan penderitaan yang dialami hewan tersebut.

Di sinilah pentingnya memahami bahwa sunnah tidak hanya berkaitan dengan bacaan doa, tetapi juga menyangkut cara memperlakukan hewan dengan baik dan memenuhi adab.

Memang, selain sebagai bagian dari syariat kurban, bacaan doa dalam proses penyembelihan juga dimaksudkan untuk memantapkan niat hanya semata-mata wujud ketaatan dengan mengharap ridha Allah saja, bukan untuk kepentingan di luar perkara ibadah.

Tetapi perlu dipahami, menurut fatwa ulama bahwa bacaan yang wajib saat menyembelih hanyalah menyebut nama Allah, yaitu “Bismillah”, berdasarkan firman-Nya: “Maka makanlah dari apa yang disebut nama Allah atasnya” [QS. Al-An’am: 118]. Adapun “Allahu Akbar” hukumnya sunnah, sebagaimana Rasulullah ﷺ menyembelih kurban sambil menyebut nama Allah dan bertakbir [HR. Bukhari 5565, Muslim 1966].

Artinya, sesuai sunnah yang dicontohkan Rasulullah ﷺ dengan membaca tasmiyah dan takbir, sebenarnya sudah cukup memenuhi ketentuan syariat.

Meskipun demikian, pembacaan doa panjang sebenarnya tetap bisa dipertahankan selama memang ada tuntunan dan tanpa harus membuat hewan tersiksa.

Bagaimana solusinya? Tentu saja bukan menghilangkan doa, melainkan menempatkannya secara lebih tepat, dengan harapan suasana religius tetap terbangun, bahkan lebih tertata dan khidmat.

Misalnya, sebelum hewan dibawa ke tempat penyembelihan, panitia bisa memulai dengan takbiran dan membaca doa: “Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal ardh”. Lalu menyebut nama shahibul kurban beserta doa agar kurbannya diterima Allah.

Setelah itu, ketika hewan sudah direbahkan dan posisi jagal siap menyembelih, cukup dibacakan secara singkat: “Bismillahi Allahu Akbar”.

Lalu penyembelihan segera dilakukan dengan cepat dan tepat. Dengan cara ini, syariat tetap terlaksana, sunnah tetap hidup, dan hewan tidak terlalu lama berada dalam kondisi tertekan.

Tak kalah pentingnya, perlu juga memperhatikan beberapa adab lain yang sering terlupakan dalam pelaksanaan kurban. Hewan sebaiknya tidak melihat hewan lain disembelih, dan perlu dihindari menyeret hewan secara kasar.

Dalam hal ini, kita sebagai panitia juga perlu menjaga suasana agar tetap tenang dan tertib, bukan gaduh seperti tontonan dengan dalih biar semarak dan menunjukkan syi’ar Islam. Kepada anak-anak yang hadir juga sebaiknya diberi pemahaman bahwa kurban adalah ibadah, bukan hiburan.

Dengan memenuhi adab kurban yang bersumber dari syariat, ibadah ini tidak hanya menghadirkan keteladanan Nabi Ibrahim, tetapi juga menghadirkan ihsan kepada sesama makhluk Allah SWT.

Kini, sudah saatnya kita yang ditunjuk sebagai panitia bertekad memperbaiki cara-cara penyembelihan. Sebab hewan kurban pun memiliki hak untuk diperlakukan dengan baik hingga detik terakhir hidupnya.

___

Sumber Referensi:

Lima Adab Menyembelih Hewan Kurban Menurut Majelis Tarjih Muhammadiyah


https://muhammadiyah.or.id/2024/06/adab-menyembelih-hewan-kurban-praktik-yang-sesuai-syariat/.
Lajnah Daimah, Fatwa No. 20989, 1418 H.

 

Tinggalkan Balasan

Search