STIT Muhammadiyah Kediri secara resmi melepas mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tahun 2026 untuk melaksanakan pengabdian kepada masyarakat di Desa Tiron, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri, Senin (3/8/2028). Pelepasan yang berlangsung di Balai Desa Tiron tersebut menjadi awal dimulainya rangkaian pengabdian mahasiswa sebagai implementasi salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat.
Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Ketua IV STIT Muhammadiyah Kediri, Ir. Hari Widyasmoro, MM, yang mewakili Ketua STIT Muhammadiyah Kediri, dosen pembimbing lapangan, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Banyakan, Pemerintah Desa Tiron, mahasiswa peserta KKN, panitia, serta tamu undangan. Kehadiran seluruh unsur tersebut menunjukkan komitmen bersama dalam membangun sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, Persyarikatan Muhammadiyah, dan masyarakat demi mewujudkan pengabdian yang memberikan manfaat nyata.
Dalam sambutannya, Ir. Hari Widyasmoro menegaskan bahwa KKN bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik, tetapi juga menjadi wahana pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan, membangun kepedulian sosial, serta memberikan solusi terhadap kebutuhan masyarakat.
”Mahasiswa harus mampu menjaga nama baik almamater, membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat, serta menghadirkan program yang benar-benar memberikan manfaat. Jadikan KKN sebagai media belajar sekaligus mengabdi,” pesannya sebelum secara simbolis menyerahkan mahasiswa kepada Pemerintah Desa Tiron.
Kepala Desa Tiron, Ina Rahayu, SE menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Desa Tiron sebagai lokasi KKN STIT Muhammadiyah Kediri Tahun 2026. Menurutnya, kehadiran mahasiswa diharapkan mampu menjadi mitra pemerintah desa dalam meningkatkan kualitas pendidikan, keagamaan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.
”Kami menyambut baik kehadiran mahasiswa KKN. Semoga seluruh program yang dirancang dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Desa Tiron,” ujarnya.
Mewakili seluruh mahasiswa, ketua panitia KKN STIT Muhammadiyah Kediri Tahun 2026, Mukhlas Wahyudi, menjelaskan bahwa seluruh program kerja disusun berdasarkan hasil observasi lapangan dan koordinasi bersama pemerintah desa, PCM Banyakan, serta tokoh masyarakat sehingga diharapkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan warga.
”KKN ini kami maknai sebagai kesempatan untuk mendermakan salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat. Kami ingin mengamalkan ilmu yang telah diperoleh selama kuliah agar benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Kami juga berharap kehadiran mahasiswa mampu mempererat sinergi dengan warga serta menumbuhkan semangat fastabiqul khairat dalam menghadirkan berbagai program yang bermanfaat,” tutur Mukhlas.
Ia menambahkan bahwa seluruh mahasiswa juga berkomitmen menghidupkan nilai-nilai Muhammadiyah melalui amal nyata di tengah masyarakat, sebagaimana pesan yang selalu ditanamkan di lingkungan Persyarikatan, yaitu menghidupi Muhammadiyah dan tidak mencari hidup di Muhammadiyah. Semangat tersebut diharapkan menjadi landasan moral bagi seluruh mahasiswa selama menjalankan pengabdian sehingga setiap program yang dilaksanakan benar-benar dilandasi keikhlasan, profesionalisme, dan semangat memberi manfaat.
Selama masa pengabdian, mahasiswa akan melaksanakan berbagai program kerja yang mencakup bidang pendidikan, keagamaan, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Program tersebut antara lain pendampingan TPQ dan tahsin Al-Qur’an bagi anak usia TK hingga SMP, bimbingan belajar akademik, tahsin qiraah bagi bapak dan ibu, stimulasi sensori bagi balita dan PAUD, kelas Bahasa Arab, kelas Bahasa Inggris, Majelis Taklim Ahad Pagi, Gerakan Jumat Bersih, Semarak HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, tabligh akbar, pemeriksaan kesehatan dan bekam, bakti sosial, pelatihan pemulasaran jenazah, pelatihan manasik haji dan umrah, cooking class, parenting Islami, serta pembangunan Legacy Pojok Baca sebagai bentuk kontribusi jangka panjang dalam meningkatkan budaya literasi masyarakat.
Selain menjalankan berbagai program tersebut, mahasiswa KKN juga berkomitmen membangun hubungan yang harmonis dengan seluruh elemen masyarakat. Pendekatan yang dilakukan mengedepankan semangat musyawarah, gotong royong, dan kolaborasi agar setiap kegiatan tidak hanya terlaksana dengan baik, tetapi juga mampu menumbuhkan rasa memiliki dari masyarakat. Dengan demikian, berbagai program yang telah dirancang diharapkan dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan oleh masyarakat setelah masa KKN berakhir.
KKN juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan kepemimpinan, komunikasi, manajemen organisasi, serta kepekaan terhadap berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat. Pengalaman hidup bersama masyarakat selama masa pengabdian diharapkan mampu membentuk karakter mahasiswa yang adaptif, mandiri, berintegritas, serta memiliki semangat melayani sebagai calon intelektual muslim yang siap memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan umat, bangsa, dan negara.
Prosesi pelepasan ditandai dengan penyematan jas almamater dan ID Card KKN sebagai simbol penyerahan mahasiswa kepada Pemerintah Desa Tiron. Acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Bapak Sulaiman dari PCM Banyakan agar seluruh rangkaian KKN diberikan kelancaran, keselamatan, kesehatan, dan keberkahan selama menjalankan pengabdian di tengah masyarakat.
Melalui KKN Tahun 2026 ini, STIT Muhammadiyah Kediri berharap sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, Persyarikatan Muhammadiyah, dan masyarakat dapat terus terjalin dengan baik sehingga melahirkan program-program yang berkelanjutan, memperkuat nilai-nilai keislaman, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memberikan dampak positif bagi kemajuan Desa Tiron.
Semangat pengabdian yang ditunjukkan mahasiswa diharapkan menjadi wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus ikhtiar menghadirkan kemaslahatan bagi umat. Dengan semangat kolaborasi, pengabdian, dan fastabiqul khairat, KKN STIT Muhammadiyah Kediri Tahun 2026 diharapkan mampu meninggalkan jejak kebaikan yang terus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Desa Tiron, bahkan setelah masa pengabdian mahasiswa berakhir. (dariyanto)
