Pendidikan Qur’ani dan Jalan Menuju Peradaban Tauhidik

Pendidikan Qur’ani dan Pendidikan Qur'ani dan Jalan Menuju Peradaban Tauhidik
*) Oleh : Muhammad Hidayatulloh
Pengurus PRM Berbek dan Pengasuh Kajian Tafsir Al Qur'an di Masjid Al Huda Berbek Sidoarjo.
www.majelistabligh.id -

#Bagian 6 dari 6 — Membentuk Manusia Sebelum Membentuk Peradaban

Kita telah memulai perjalanan ini dari sebuah momentum sejarah: peringatan G30S. Dari sana kita berbicara tentang ideologi dan menyadari bahwa sebuah ideologi tidak hanya menawarkan program politik, tetapi juga membawa cara tertentu dalam memahami manusia, masyarakat, kebenaran, dan kekuasaan.

Pembahasan kemudian bergerak menuju epistemologi, sebab cara manusia memperoleh dan menentukan kebenaran akan sangat memengaruhi cara manusia membangun kehidupan. Dari epistemologi kita bergerak menuju sistem, lalu kepada manusia yang menjalankan sistem tersebut. Setelah itu kita berbicara tentang Ulul Albab, integritas, kapasitas, dan musyawarah. Kini seluruh rangkaian tersebut bertemu pada satu pertanyaan terakhir: dari mana manusia seperti itu akan lahir?

Jawabannya adalah pendidikan.

Namun pendidikan yang dimaksud bukan sekadar pendidikan dalam pengertian sekolah, kurikulum, ujian, ijazah, atau gelar akademik. Pendidikan adalah proses panjang membentuk manusia: cara berpikirnya, cara memandang kehidupan, cara memperlakukan orang lain, cara menggunakan ilmu, cara mengambil keputusan, dan akhirnya cara mempertanggungjawabkan seluruh kehidupannya di hadapan Allah.

Di sinilah kita perlu mengajukan pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat menentukan masa depan sebuah bangsa: pendidikan kita sebenarnya sedang menghasilkan manusia macam apa?

Apakah kita hanya ingin menghasilkan manusia yang mampu mendapatkan pekerjaan? Apakah kita ingin menghasilkan manusia yang mampu memenangkan kompetisi? Apakah ukuran keberhasilan pendidikan cukup dengan nilai ujian, gelar akademik, jabatan, pendapatan, dan status sosial?

Semua itu penting dalam kadar tertentu. Tetapi jika pendidikan berhenti pada ukuran tersebut, ada sesuatu yang lebih mendasar yang mungkin terlewat: manusia itu sendiri.

Manusia bukan sekadar tenaga kerja. Ia bukan sekadar konsumen. Ia bukan sekadar pemilih. Ia bukan sekadar warga negara. Ia adalah makhluk yang memiliki akal, hati, kehendak, tanggung jawab moral, dan hubungan dengan Penciptanya.

Karena itu, pendidikan Qurani memulai persoalan dari pertanyaan yang lebih mendasar daripada sekadar kompetensi: siapa manusia dan untuk apa ia hidup?

Al-Qur’an memperkenalkan manusia sebagai makhluk yang memiliki amanah. Manusia tidak hanya hidup untuk memenuhi kebutuhan materialnya, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi. Kesadaran inilah yang membedakan pendidikan yang sekadar menghasilkan manusia terampil dengan pendidikan yang berusaha membentuk manusia beradab.

Seorang manusia dapat memiliki kecerdasan yang tinggi, tetapi kecerdasannya tidak otomatis membuatnya bijaksana. Ia dapat menguasai teknologi, tetapi teknologi tidak otomatis membuatnya memiliki moral. Ia dapat memiliki kekuasaan, tetapi kekuasaan tidak otomatis membuatnya amanah. Ia dapat memiliki kekayaan, tetapi kekayaan tidak otomatis membuatnya bahagia.

Maka pendidikan harus menyentuh lebih dari sekadar kemampuan.

Ia harus menyentuh kesadaran.

 

Tinggalkan Balasan

Search