Di sinilah konsep Ulul Albab menjadi penting. Al-Qur’an menggambarkan Ulul Albab sebagai manusia yang menggunakan akalnya untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah, tetapi pada saat yang sama tidak kehilangan kesadaran kepada-Nya. QS. Ali ‘Imran ayat 190–191 mempertemukan aktivitas berpikir dengan aktivitas mengingat Allah. Ada fikr, tetapi juga ada dzikr.
Inilah manusia yang kita perlukan untuk masa depan.
Manusia yang mampu berpikir kritis, tetapi tidak kehilangan adab.
Manusia yang menguasai ilmu, tetapi tidak kehilangan kerendahan hati.
Manusia yang mampu berbeda pendapat, tetapi tidak kehilangan persaudaraan.
Manusia yang mampu menggunakan kekuasaan, tetapi tidak kehilangan kesadaran bahwa kekuasaan adalah amanah.
Manusia yang memiliki kebebasan berpikir, tetapi tidak menjadikan kebebasan sebagai alasan untuk mengingkari tanggung jawab moral.
Dengan demikian, pendidikan Qurani bukan pendidikan yang menjauhkan manusia dari dunia. Justru ia mendidik manusia agar mampu mengelola dunia tanpa diperbudak oleh dunia.
Ilmu ekonomi tetap diperlukan. Ilmu politik tetap diperlukan. Ilmu teknologi tetap diperlukan. Ilmu kedokteran, pertanian, hukum, pendidikan, sains, dan berbagai cabang ilmu lainnya tetap diperlukan. Tetapi semuanya ditempatkan dalam kesadaran bahwa ilmu adalah amanah dan kemampuan adalah tanggung jawab.
Karena itu, pendidikan Qurani tidak seharusnya dipahami sebagai pendidikan yang hanya menambah pelajaran agama ke dalam kurikulum. Yang lebih mendasar adalah mengubah orientasi pendidikan itu sendiri.
Agama tidak ditempatkan sebagai satu mata pelajaran yang berdiri di sudut kurikulum, sementara kehidupan lainnya berjalan tanpa hubungan dengan nilai ketuhanan. Tauhid justru menjadi orientasi yang menghubungkan seluruh ilmu.
Seorang ilmuwan dapat meneliti alam dengan sangat serius karena alam adalah ayat-ayat Allah yang dapat dibaca.
Seorang ekonom dapat memikirkan distribusi kekayaan dengan kesadaran bahwa harta memiliki dimensi amanah dan keadilan.
Seorang ahli politik dapat memandang kekuasaan bukan sebagai hak milik, tetapi sebagai tanggung jawab.
Seorang pendidik dapat melihat peserta didik bukan sebagai angka dalam statistik, tetapi sebagai manusia yang memiliki potensi dan martabat.
Seorang teknolog dapat mengembangkan inovasi sambil mempertimbangkan dampaknya terhadap manusia dan lingkungan.
Dengan demikian, tauhid tidak membatasi ilmu. Tauhid memberikan arah moral bagi ilmu.
Di sinilah kita kembali kepada persoalan ideologi yang menjadi pintu masuk rangkaian tulisan ini.
Sejarah menunjukkan bahwa manusia dapat membangun gagasan yang sangat kuat tentang masyarakat dan kekuasaan. Tetapi setiap gagasan manusia memiliki kemungkinan untuk disalahgunakan, dimutlakkan, atau dijadikan alat dominasi. Karena itu, bangsa yang matang bukan bangsa yang merasa telah menemukan sistem manusia yang sempurna, melainkan bangsa yang memiliki kemampuan untuk terus melakukan koreksi berdasarkan ilmu, moral, pengalaman, dan nilai yang diyakininya.
Dalam perspektif Qurani, koreksi itu tidak berarti manusia bebas tanpa arah. Justru karena manusia memiliki wahyu sebagai petunjuk, akal sebagai alat memahami, dan pengalaman sebagai bahan belajar, ia memiliki kemampuan untuk terus memperbaiki kehidupan.
