Inilah manusia yang tidak mudah menjadi pengikut ideologi secara membabi buta.
Ia tidak mudah mengkultuskan tokoh.
Ia tidak mudah mempertuhankan negara.
Ia tidak mudah menganggap pasar sebagai jawaban bagi seluruh persoalan.
Ia tidak mudah menganggap mayoritas selalu benar.
Ia tidak mudah menganggap kebebasan tidak memiliki batas.
Ia juga tidak mudah menganggap tradisi sebagai kebenaran hanya karena diwariskan.
Ia belajar.
Ia berpikir.
Ia menguji.
Ia bermusyawarah.
Ia berdoa.
Dan pada akhirnya ia bertanggung jawab.
Karena itu, mungkin pelajaran paling penting dari sejarah bukan hanya bagaimana kita mengenang tragedi masa lalu, tetapi bagaimana kita mencegah lahirnya kondisi yang memungkinkan tragedi serupa muncul dalam bentuk yang berbeda.
Bahaya ideologi tidak cukup dihadapi dengan slogan.
Ia harus dihadapi dengan ilmu.
Fanatisme tidak cukup dilawan dengan fanatisme tandingan.
Ia harus dilawan dengan kedalaman berpikir.
Penyalahgunaan kekuasaan tidak cukup dicegah dengan mengganti orang.
Ia harus dicegah dengan institusi yang sehat dan manusia yang amanah.
Krisis manusia tidak cukup diselesaikan dengan perubahan aturan.
Ia membutuhkan pendidikan yang membentuk manusia.
Dan pendidikan itu tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang pintar.
Ia harus melahirkan manusia yang berilmu, berintegritas, berkapasitas, beradab, dan berjiwa tauhidik.
Di sinilah perjalanan enam tulisan ini sampai pada titik akhirnya.
Kita memulai dari G30S, sebagai salah satu momentum sejarah yang mengingatkan kita tentang pertarungan ideologi dan kekuasaan.
Kita kemudian masuk ke ideologi, untuk memahami bahwa gagasan politik juga membawa cara tertentu dalam membaca kehidupan.
Kita bergerak ke epistemologi, karena cara manusia menentukan kebenaran akan memengaruhi tindakan dan sistem yang dibangunnya.
Kita kemudian berbicara tentang sistem, dan menyadari bahwa sistem penting tetapi tidak pernah berjalan tanpa manusia.
Kita masuk kepada manusia Ulul Albab, yang menggabungkan akal dan kesadaran tauhidik.
Kita berbicara tentang integritas dan kapasitas, karena amanah membutuhkan orang yang dapat dipercaya sekaligus mampu.
Kita sampai pada musyawarah, sebagai ruang untuk mempertemukan ilmu, pengalaman, pertimbangan moral, dan kepentingan bersama.
Dan akhirnya kita kembali kepada pendidikan, karena manusia seperti itu tidak lahir secara kebetulan.
Ia harus dibentuk.
Maka, jika kita benar-benar ingin berbicara tentang masa depan peradaban, mungkin pertanyaan kita tidak boleh berhenti pada:
“Sistem apa yang paling baik?”
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:
“Manusia seperti apa yang harus kita lahirkan agar mampu membangun, menjalankan, mengoreksi, dan menjaga sistem apa pun yang kita gunakan?”
Dari perspektif Epistemologi Qurani, jawabannya adalah manusia yang menjadikan Allah sebagai orientasi tertinggi, ilmu sebagai amanah, akal sebagai instrumen membaca realitas, integritas sebagai penjaga diri, kompetensi sebagai bekal menjalankan amanah, musyawarah sebagai jalan mengambil keputusan, dan kekuasaan sebagai tanggung jawab.
Itulah manusia Ulul Albab.
Itulah manusia berjiwa tauhidik.
Dan mungkin, di situlah sesungguhnya pekerjaan besar sebuah bangsa dimulai:
bukan pertama-tama dengan membangun sistem, tetapi dengan membangun manusia yang layak membangun peradaban. (*)
