Pendidikan Qur’ani dan Jalan Menuju Peradaban Tauhidik

Pendidikan Qur’ani dan Pendidikan Qur'ani dan Jalan Menuju Peradaban Tauhidik
*) Oleh : Muhammad Hidayatulloh
Pengurus PRM Berbek dan Pengasuh Kajian Tafsir Al Qur'an di Masjid Al Huda Berbek Sidoarjo.
www.majelistabligh.id -

Di sinilah kita menemukan hubungan antara wahyu dan akal.

Wahyu memberi arah.

Akal membaca realitas.

Ilmu memberikan kapasitas.

Pengalaman memberikan pelajaran.

Integritas menjaga amanah.

Musyawarah mempertemukan berbagai pertimbangan.

Institusi menerjemahkan keputusan ke dalam tindakan.

Dan kekuasaan melaksanakan amanah tersebut.

Jika salah satu unsur hilang, keseimbangannya dapat terganggu.

Wahyu tanpa kemampuan membaca realitas dapat dipahami secara sempit.

Akal tanpa orientasi nilai dapat kehilangan arah.

Ilmu tanpa integritas dapat menjadi alat penyimpangan.

Kekuasaan tanpa amanah dapat menjadi dominasi.

Musyawarah tanpa kapasitas dapat menjadi keramaian tanpa kebijaksanaan.

Karena itu, peradaban membutuhkan integrasi.

Dan integrasi itu harus dimulai dari manusia.

Inilah alasan mengapa pendidikan tidak boleh diposisikan sebagai urusan sekunder dalam pembangunan bangsa. Pendidikan justru merupakan salah satu arena paling strategis untuk menentukan manusia macam apa yang akan mengisi institusi, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan pada masa depan.

Kita dapat membangun institusi yang sangat modern. Kita dapat membuat regulasi yang sangat lengkap. Kita dapat menggunakan teknologi yang sangat canggih. Tetapi semuanya tetap membutuhkan manusia.

Teknologi yang canggih di tangan manusia yang tidak amanah dapat menjadi alat kejahatan.

Kekuasaan yang besar di tangan manusia yang tidak berintegritas dapat menjadi alat penindasan.

Ilmu yang tinggi di tangan manusia yang kehilangan moral dapat menjadi alat manipulasi.

Karena itu, persoalan peradaban pada akhirnya kembali kepada persoalan manusia.

Tetapi manusia juga tidak boleh dibebani seluruh persoalan seolah-olah sistem tidak penting. Kita telah melihat bahwa sistem membentuk perilaku. Karena itu, pendidikan manusia dan pembangunan sistem harus berjalan bersama.

Manusia yang baik membutuhkan sistem yang memungkinkan kebaikannya tumbuh. Sistem yang baik membutuhkan manusia yang mampu menjaganya.

Inilah hubungan yang harus dibangun.

Pendidikan membentuk manusia.

Manusia membangun institusi.

Institusi membentuk budaya.

Budaya memengaruhi perilaku generasi berikutnya.

Dan siklus itu terus berlangsung.

Karena itu, jika kita ingin mengubah masa depan, kita harus memikirkan siklus tersebut sejak sekarang.

Jangan hanya bertanya, “Sistem seperti apa yang kita inginkan?”

Tanyakan pula:

“Manusia seperti apa yang akan mengisi sistem itu?”

Dan lebih jauh:

“Pendidikan seperti apa yang akan melahirkan manusia tersebut?”

Di sinilah gagasan tentang Generasi Tauhidik menemukan tempatnya.

Generasi Tauhidik bukan generasi yang hanya pandai berbicara tentang tauhid. Ia adalah generasi yang menjadikan tauhid sebagai orientasi kehidupannya. Ia mampu melihat ilmu sebagai amanah, kekuasaan sebagai tanggung jawab, harta sebagai sarana, manusia sebagai makhluk yang bermartabat, dan kehidupan dunia sebagai bagian dari perjalanan menuju pertanggungjawaban akhirat.

Generasi seperti ini tidak harus anti terhadap modernitas. Ia justru harus mampu memahami modernitas secara kritis. Ia tidak harus menolak teknologi. Ia harus mampu menguasai teknologi tanpa menjadi budaknya. Ia tidak harus menolak berbagai pemikiran manusia. Ia harus mampu mempelajarinya dengan terbuka, mengujinya secara kritis, mengambil yang bermanfaat, dan menolak apa yang bertentangan dengan prinsip kebenaran yang diyakininya.

 

Tinggalkan Balasan

Search