Perjalanan Dakwah Kurban Lazismu Jatim Menembus Daerah Minoritas Muslim di Bali

Perjalanan Dakwah Kurban Lazismu Jatim Menembus Daerah Minoritas Muslim di Bali
www.majelistabligh.id -

Rombongan Lazismu Jawa Timur bergerak dari Gedung Kemanusiaan Lazismu Jatim, Selasa (26/5/2026) pagi. Sebanyak 150 sapi dalam program kurban Iduladha 1447 Hijriah menjadi bagian dari perjalanan besar yang tidak sekadar bicara daging kurban, tetapi tentang menemani umat Islam di wilayah-wilayah yang membutuhkan penguatan dakwah.

Salah satu titik perjalanan itu adalah Bali. Pulau wisata dunia itu menyimpan denyut dakwah yang terus hidup. Di tengah Muslim yang menjadi minoritas, sekolah-sekolah Muhammadiyah, mushala, dan pusat dakwah tetap berdiri menjaga cahaya tauhid.

Rabu pagi (27/5/2026), rombongan perjalanan dakwah kurban LAZISMU Jawa Timur mengikuti Shalat Iduladha di halaman SD Muhammadiyah 1 Denpasar, Jalan Imam Bonjol No 51 Denpasar.

Di kompleks Gedung Dakwah dan Pendidikan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Bali itu berdiri PAUD Aisyiyah 1 Denpasar, TK Aisyiyah Bustanul Athfal 1 Denpasar, TPA Aisyiyah Denpasar, hingga SD Muhammadiyah 1 Denpasar. Tempat itu bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi benteng dakwah Muhammadiyah di Pulau Dewata.

Shalat Id dipimpin Imam Andre Kurniawan SE, sementara khutbah disampaikan Drs H Jawas Sokan, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Bali.

Tema khutbah pagi itu terasa menyentuh perjalanan rombongan kurban: Pelajaran Cinta dan Ketaatan dari Keluarga Nabi Ibrahim AS.

Di hadapan jemaah, Jawas mengingatkan bahwa Iduladha adalah momentum menghidupkan tauhid di tengah dunia yang semakin materialistis.

“Sebagian saudara kita melaksanakan ibadah haji, sebagian melaksanakan Idul Adha. Jangan melupakan saudara kita di Palestina,” ujarnya.

Takbir menggema. Angin pagi Denpasar berembus pelan. Di halaman sekolah Muhammadiyah itu, kisah Nabi Ibrahim seperti hidup kembali.

Jawas menjelaskan bagaimana Nabi Ibrahim AS mendidik keluarganya dengan tauhid, bukan sekadar kata-kata, tetapi keteladanan hidup.

Ia mengisahkan bagaimana Siti Hajar menerima keputusan ditinggalkan di lembah tandus Makkah. Bukan karena tidak sedih, tetapi karena percaya itu perintah Allah.

“Inilah nilai tauhid yang mengalahkan akal dan perasaan,” katanya.

Baginya, kurban bukan hanya tentang penyembelihan hewan. Kurban adalah hasil pendidikan iman yang panjang dalam keluarga.

“Kalau Ismail dan Ibrahim menolak perintah Allah, maka syariat kurban tidak akan pernah ada,” tegasnya.

Khutbah itu terasa dekat dengan realitas dakwah di daerah minoritas Muslim. Ketika umat harus bertahan menjaga identitas, membangun sekolah, masjid, dan keluarga yang tetap teguh memegang tauhid.

Jawas juga menyoroti bahaya kehidupan modern yang terlalu mengejar materi hingga melupakan akhirat.

“Ketika manusia mulai dipengaruhi materi dan meninggalkan akhirat, maka kehancuran akan datang,” ujarnya.

Di Bali, pesan itu terasa kuat.

Di tengah hiruk-pikuk pariwisata dan budaya global, Muhammadiyah Bali tetap membangun pendidikan dan dakwah. Dari PAUD hingga sekolah dasar. Dari mushala hingga rumah sosial.

Momentum Iduladha tahun ini juga diwarnai distribusi hewan kurban di lingkungan Muhammadiyah Bali. Di SD Muhammadiyah 1 Denpasar tercatat 2 sapi dan 6 kambing. Tingkat SMP menerima 2 sapi dan 4 kambing. Rumah Sosial menerima 4 sapi dan 28 kambing.

Adapun LAZISMU Jawa Timur turut menyalurkan 5 ekor hewan kurban dalam perjalanan dakwah tersebut.

Bagi rombongan Lazismu Jatim, perjalanan ini bukan sekadar mengantar hewan kurban. Mereka sedang menyaksikan bagaimana dakwah bertahan di daerah minoritas Muslim: dengan pendidikan, keteladanan keluarga, dan penguatan tauhid.

Dari Gedung Kemanusiaan di Jawa Timur menuju Pulau Dewata, perjalanan kurban itu seakan menegaskan satu hal: dakwah tidak selalu hadir lewat mimbar besar. Kadang ia tumbuh diam-diam di halaman sekolah, di mushala kecil, dan di hati keluarga yang tetap setia menjaga iman. (syahroni nur wachid)

 

Tinggalkan Balasan

Search